Gedung Keuangan Negara (GKN) Manokwari LT. II, Jl. Brigjen Marinir (purn) Abraham O. Atururi

Berita

Seputar Kanwil DJPb

FOCUS GROUP DISCUSSION ACCELERATING DEVELOPMENT IN WEST PAPUA BASED ON ANTHROPOLOGICAL PERSPECTIVE

Bertempat di Aula Kanwil DJPb Provinsi Papua Barat, Kanwil DJPb Provinsi Papua Barat menyelenggarakan FGD bertema “Accelerating Development In West Papua Based On Anthropological Perspective”

pada tanggal 15 Agustus 2017 dengan menghadirkan pembicara Dr. I Ngurah Suryawan, M.A, Dosen Jurusan Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya UNIPA. FGD tersebut dilaksanakan sebagai upaya dalam meningkatkan kapasitas Pejabat/ Pegawai Kanwil DJPb Papua Barat terkait pemahaman budaya asli orang Papua. FGD dibuka oleh Kepala Kanwil DJPb Papua Barat,  Muhdi, SE., S.IP., M.IS, P.hD. yang juga bertindak sebagai moderator.

Dalam paparannya, Dr. I Ngurah Suryawan, M.A menjelaskan bahwa di Papua terdapat kurang lebih 256 etnik berdasarkan bahasa dengan budaya yang sangat heterogen. Beberapa hal yang menjadi karakteristik Papua diantaranya adalah: 1). Perkembangan peradaban di Papua dipengaruhi oleh sejarah kontak dengan orang lain, agama, pendidikan, dan pemerintahan; 2). Mempunyai karakter kebudayaan dan topografi masyarakat yang berbeda-beda, sehinggan muncul istilah orang gunung dan orang pesisir; 3). Mempunyai nilai dan norma hidup berkomunitas.
Bila dibagi menurut peta ekologi, Papua dapat dibedakan menjadi 4 (empat) zona, yaitu:
1.    Zone rawa, pantai dan sepanjang aliran sungai, meliputi daerah Asmat, Jagai, Awyu, Yagai Citak, Marind Anim,Mimika/Kamoro dan Waropen.
2.    Zone dataran tinggi, meliputi orang Dani, Yali, Ngalum, Amungme, Nduga, Damal,Moni dan orang Ekari/ Mee.
3.    Zone kaki gunung dan lembah-lembah kecil, meliputi daerah Sentani, Nimboran, Ayamaru dan orang Muyu.
4.    Zone dataran rendah dan pesisir, meliputi Sorong, Manokwari, sampai Nabire, Biak dan Yapen.
sedangkan bila dilihat dari peta (wilayah) budaya, Papua dapat dibagi menjadi 7 (tujuh) wilayah, yaitu:
1.    Mamta/Tabi (Jayapura dan sekitarnya);
2.    Saireri (wilayah di Teluk Cenderawasih);
3.    Domberai (Manokwari dan Sorong Raya);
4.    Bomberai (Fakfak, Kaimana, Mimika);
5.    Meepago (wilayah Papua Tengah yaitu Puncak Jaya, Tolikara, Paniai dan sekitarnya);
6.    Lapago (wilayah Papua Timur yaitu Pegunungan Bintang, Wamena);
7.    Ha-Anim (wilayah Papua Selatan yaitu Merauke, Muyu, Asmat dan sekitarnya).
 
Orang Papua memiliki falsafah kehidupan, semangat kolektif, dan pengetahuan lokal tentang tanah, hutan, hutan sagu, lingkungan alam, jaringan kekerabatan, perkawinan dan lainnya, serta telah tertautkan dengan dunia global (pembangunan, investasi, pendatang dll). Dengan tuntutan kemajuan zaman, orang Papua tidak mungkin untuk kembali ke tradisi nenek moyang, namun jika berkiblat ke modernitas, orang Papua merasa tidak percaya diri (liminal/bimbang/galau). Sementara sendi struktur, nilai, orientasi berpikir, dan norma-norma kehidupan sudah berubah karena pembangunan dan akulturasi (migrasi/pendatang). Fenomena yang muncul adalah orang Papua ingin berubah (mengakses modernitas) tetapi belum menyiapkan diri untuk perubahan dimaksud.

Selain budaya, terdapat pandangan yang menarik orang Papua terkait tanah, diantaranya adalah:
1.    Mama (Akukai) yang memberikan kehidupan dari tanah untuk manusia. Tanah sebagai “mama, hidup itu sendiri”, tidak boleh diperjualbelikan. Menjual tanah berarti menjual kehidupan.
2.    Para penjual tanah disebut Dimi Beu (orang gila atau orang yang tidak mempunyai pikiran).
3.    Tanah (Tabam) dalam Bahasa Maybrat, menggambarkan alam semesta, termasuk di dalamnya kehidupan manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan.
4.    Tanah milik kolektif masyarakat Papua bukan perseorangan.
5.    “Tabam Fo Msaka Ra Msikowah Fe, Anu Ra Oh Bsikowah Bo To” (Dunia/alam semesta itu tidak merusak manusia tetapi manusialah yang merusak).
6.    Ketersingkiran orang Papua di atas tanahnya sendiri. Yang mana, Investasi memiliki implikasi menyingkirkan orang Papua,  “Tanah (sumber daya alamnya) dibutuhkan, tapi orang (nya) tidak!” (Tania Murray Li, 2010).

Untuk menggerakkan ekonomi masyarakat Papua Barat, diperlukan adanya proteksi dan afirmasi (keberpihakan) dalam mendidik pengembangan ekonomi kerakyatan, berbasis rumah tangga dan kampung-kampung Papua. Selain itu, inspirasi untuk menggerakkan ekonomi rumah tangga diperlukan adanya  jaringan promosi, distribusi, dan permodalan.

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

Hak Cipta Kanwil DJPb Provinsi Papua Barat
Manajemen Portal DJPb - Gedung Djuanda I Lt. 9
Gedung Keuangan Negara (GKN) Manokwari LT. II, Jl. Brigjen Marinir (purn) Abraham O. Atururi. Komplek Perkantoran Gubernur Arfai, Manokwari, Papua Barat 98135
Telepon / Faksimile : 0986-2214130

IKUTI KAMI

 

 

 

       

 

 

 

 

            

Search