
KETERANGAN PERS
“Kitong Pu APBN” s.d. 28 Februari 2026
Perekonomian domestik Indonesia masih menunjukan daya tahan yang relatif solid ditandai berbagai indikator makroekonomi utama yang tetap terjaga kuat dan stabil, meski perhatian dunia saat ini tertuju pada meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya antara Iran, Amerika Serikat dan Israel. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada penutupan tahun 2025 tercatat sebesar 5,39% (yoy), dengan tingkat inflasi nasional pada Februari 2026 berada di level 4,76% (yoy). Ketahanan ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap resilien dan peningkatan investasi pada proyek-proyek strategis nasional. Meskipun nilai tukar Rupiah sedikit tertekan di kisaran Rp16.919/USD karena dinamika kebijakan moneter global, kepercayaan pasar terhadap ekonomi domestik tetap terjaga yang tercermin dari yield SBN 10 tahun yang berada di level 6,53% (eop). Dalam kondisi ini, APBN terus dioptimalkan sebagai instrumen perlindungan masyarakat dan pendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sejalan dengan kondisi nasional, performa ekonomi di Regional Papua Barat menunjukkan tren positif yang solid sepanjang awal tahun 2026. Hingga akhir tahun 2025, Provinsi Papua Barat mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,73% (yoy) dengan nilai PDRB mencapai Rp81,81 triliun (ADHB), sementara Provinsi Papua Barat Daya tumbuh 4,09% (yoy) dengan PDRB sebesar Rp39,22 triliun (ADHB). Aktivitas ekonomi di wilayah ini tetap didominasi oleh sektor industri pengolahan yang menjadi motor utama penggerak pertumbuhan. Dari sisi kesejahteraan, tingkat inflasi di Papua Barat tercatat 5,83% (yoy) dan Papua Barat Daya sebesar 4,16% (yoy), yang meskipun mengalami peningkatan namun masih tetap berada dalam koridor yang terkendali.
Realisasi pendapatan negara di Regional Papua Barat sampai dengan 28 Februari 2026 menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan sebesar 11,2% (yoy). Total pendapatan yang berhasil dihimpun mencapai Rp263,1 miliar, atau 9,5% dari target, yang didominasi oleh penerimaan perpajakan sebesar Rp197,1 miliar yang tumbuh signifikan 22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penerimaan pajak ini terutama ditopang oleh Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPNBM yang memberikan kontribusi sebesar 54,6% dari total pajak. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) terealisasi sebesar Rp66 miliar, yang bersumber utama dari pendapatan jasa pendidikan dan pelabuhan, meskipun mengalami sedikit kontraksi dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, belanja negara di Regional Papua Barat terus diakselerasi untuk memastikan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat. Hingga akhir Februari 2026, realisasi belanja negara mencapai Rp2,6 triliun atau 12% dari pagu anggaran, tumbuh 24,8% (yoy). Belanja Pemerintah Pusat (Belanja K/L) tercatat sebesar Rp822,3 miliar, melonjak tajam 53,2% dibanding tahun lalu, yang sebagian besar dialokasikan untuk belanja pegawai serta pembangunan infrastruktur prioritas nasional. Pembangunan jalan koridor logistik dan Trans Papua menjadi salah satu fokus utama guna memperkuat konektivitas antarwilayah di Papua Barat.
Komitmen Pemerintah dalam mendukung otonomi daerah tercermin melalui realisasi Transfer ke Daerah (TKD) yang tetap menjadi tulang punggung pembiayaan daerah. Penyaluran TKD mencapai Rp1,8 triliun atau 12% dari pagu, tumbuh 15,2% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025. Dana Alokasi Umum (DAU) menyumbang porsi terbesar penyaluran senilai Rp1,28 triliun, disusul oleh Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp242,9 miliar. Sinergi antara pusat dan daerah dalam pengelolaan TKD ini terus diperkuat untuk memastikan kualitas layanan publik, percepatan pembangunan infrastruktur dasar, serta efektivitas program pengentasan kemiskinan di daerah.
Pemerintah juga terus memperluas akses permodalan bagi UMKM melalui optimalisasi program pembiayaan KUR dan UMi. Hingga 28 Februari 2026, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Regional Papua Barat telah menjangkau 1.815 debitur dengan total nilai Rp107,89 miliar. Sektor perdagangan masih menjadi penerima manfaat terbesar dengan porsi 52,60% dari total penyaluran, yang membuktikan vitalnya sektor ini bagi ekonomi lokal. Selain itu, pembiayaan Ultra Mikro (UMi) juga telah tersalurkan sebesar Rp1,49 miliar kepada 207 debitur, memberikan dukungan nyata bagi para pelaku usaha kecil untuk naik kelas dan meningkatkan daya saingnya.
Secara keseluruhan, kinerja APBN di Regional Papua Barat per 28 Februari 2026 tetap solid dan efisien dalam menjaga stabilitas serta mendorong pemulihan ekonomi. Meskipun pendapatan negara baru mencapai Rp263,1 miliar dibandingkan belanja yang mencapai Rp2,6 triliun, kehadiran APBN melalui transfer ke daerah sebesar Rp1,8 triliun sangat krusial dalam menopang layanan publik. Sinergi fiskal antara APBN dan APBD diharapkan terus meningkat untuk menekan angka kemiskinan, menjaga daya beli, dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif bagi seluruh masyarakat Papua Barat.
Fokus pemerintah selanjutnya adalah mempercepat realisasi belanja yang berkualitas serta memperkuat mitigasi risiko ekonomi guna menghadapi dan beradaptasi dengan ketidakpastian global. Penguatan program perlindungan sosial dan optimalisasi pembiayaan bagi sektor produktif akan terus dijalankan agar manfaat APBN dapat dirasakan secara merata. Dengan koordinasi yang kuat antara instansi pemerintah pusat dan daerah, APBN tetap menjadi instrumen andalan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat di bumi Cenderawasih.
Kitong Pu APBN, Kitong Jaga, Kitong Bangkit — Dari Papua Barat untuk Indonesia Maju!
















