Jakarta, 30 November 2025 - Menjelang akhir tahun 2025, kondisi perekonomian Jakarta relatif stabil. Ekonomi Jakarta pada Triwulan III 2025 tumbuh 4,96% (yoy) dan 0,02% (q-to-q). Tingkat inflasi menjelang akhir tahun pun masih terjaga pada rentang target sasaran. Kondisi ini diikuti dengan keyakinan masyarakat yang terjaga optimis terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Dari sisi fiskal, kinerja APBN dan APBD masih melanjutkan kinerja yang positif.
Belanja APBN terus dioptimalkan untuk memberikan manfaat langsung kepada masyarakat Jakarta. Kinerja APBD Jakarta juga terjaga optimis dengan didorong kenaikan PAD dan surplus APBD. Sinergi antara APBD dan APBN terus diperkuat untuk meningkatkan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kondisi Ekonomi Makro
Pada Oktober 2025, Jakarta mengalami inflasi tahunan sebesar 2,69%, masih dalam rentang target sasaran. Hal ini dipengaruhi beberapa kenaikan administered price dan beberapa komoditas di antaranya Daging Ayam Ras dan Emas Perhiasan. Sampai dengan akhir Oktober 2025, indikator pertumbuhan ekonomi di Jakarta masih terjaga optimis. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih berada di zona optimis di level 139,10. Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) berada di level 129,90, dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) berada di level 148,29.
Kinerja APBN
Kinerja Belanja APBN menjelang akhir tahun terus dioptimalkan untuk memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Hingga 31 Oktober 2025, Belanja APBN telah terserap 82,79% atau senilai Rp1.599,70 T, naik 9,83% (yoy). Belanja K/L mencapai Rp660,03 T atau 83,85% dari pagu, tumbu 21,95% (yoy). Highlight belanja terbesar Bulan Oktober menurut Kementerian/Lembaga antara lain (1) Kementerian Sosial sebesar Rp27,80 T mayoritas untuk belanja perlindungan sosial, (2) Badan Gizi Nasional Rp12,90 T mayoritas untuk kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG), dan (3) Kementerian Pertahanan sebesar Rp12,83 T.
Belanja Non K/L mencapai Rp917,55 T atau 82,26% dari pagu, naik 1,71% (yoy). Mayoritas belanja Non K/L di antaranya untuk Program Pengelolaan Belanja Subsidi dan Program Pengelolaan Belanja Lainnya.
Dukungan APBN kepada APBD melalui Transfer ke Daerah (TKD) telah terealisasi Rp22,11 T atau 74,33% dari pagu, naik signifikan 67,68% (yoy).
Kinerja Pendapatan APBN hingga akhir Oktober 2025 mencapai Rp1.467,20 T atau 80,86% dari target. Kinerja Pajak melanjutkan tren positif pertumbuhannya sejak April hingga akhir Oktober 2025. Realisasi pendapatan pajak hingga 31 Oktober 2025 mencapai Rp1.108,02 T atau 72,34% dari target, naik 3,32% (yoy).
Penerimaan Kepabeanan dan Cukai mencapai Rp18,43 T atau 70,34% dari target, termoderasi 5,36% (yoy). Kontraksi ini sebagai dampak adanya penurunan Bea Masuk karena masih berlangsungnya insentif Bea Masuk nol persen untuk importasi kendaraan bermotor listrik s.d. Desember 2025. Sementara itu terdapat peningkatan penerimaan Cukai yang berasal dari importasi MMEA dan EA.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp338,24 T atau 132,14% dari target, terkontraksi 19,52% (yoy). Tren kontraksi terus menipis karena beberapa komponen PNBP mengalami kenaikan, seperti realisasi PNBP Pengelolaan Aset, Piutang, dan Lelang dengan total realisasi Rp656,12 M atau 98,73% dari target.
Kinerja APBD
Kinerja APBD Jakarta hingga 30 Oktober 2025 masih melanjutkan tren surplus dengan didorong kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pendapatan APBD Jakarta mencapai Rp62,39 T atau 73,88% dari target, tumbuh 15,97% (yoy). Kenaikan ini didorong oleh kenaikan PAD pada Pajak Daerah, utamanya karena kenaikan pada PBB-P2, PKB, Pajak Makanan dan/atau Minuman, dan BPHTB.
Kinerja Belanja APBD mencapai Rp47,96 T atau 55,78% dari target, tumbuh 8,85% (yoy). Komponen Belanja Bantuan Sosial tumbuh signifikan sebesar 78,21% dengan total realisasi Rp3,35 T. Kenaikan didorong pembayaran subsidi transportasi seperti TransJakarta dan MRT serta subsidi pangan untuk membantu penguatan daya beli dan pengendalian inflasi.
Menjelang akhir tahun 2025, kondisi ekonomi Jakarta menguat didukung oleh kinerja konsumsi rumah tangga dan peran Belanja Pemerintah yang meningkat. Dalam kondisi jangka pendek, optimisme terhadap kondisi ekonomi di Jakarta relatif terjaga, namun tetap perlu mewaspadai adanya risiko tekanan inflasi ke depan. Kondisi fiskal masih menunjukkan kebijakan ekspansif yang dijalankan secara terarah untuk mendorong aktivitas ekonomi melalui percepatan Belanja. Sinergi fiskal antara APBN dan APBD terus dijaga dan diperkuat untuk memastikan efektivitas kebijakan pemerintah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, menjaga stabilitas, dan mendorong pembangunan yang lebih merata.


