Jl. Mayjen D.I. Panjaitan No. 24 Banjarmasin

Sore itu, seperti biasa, saya pulang dari kantor menyusuri jalanan kota yang ramai berdesakan bersama motor-motor dan mobil yang membawa para pejuang keluarga pulang ke rumah masing-masing. Pikiran saya pun tak kalah padat, laporan yang belum rampung, kabar inflasi yang terus jadi berita utama, cicilan yang datang seperti tamu bulanan, dan deretan kebutuhan hidup yang rasanya tak pernah mau menunggu.

Di tengah lelah itu, tanpa sadar, jari saya membuka aplikasi belanja online, refleks kecil yang sering saya lakukan saat butuh pelarian singkat. Dan entah kenapa, hari itu mata saya langsung tertuju pada sebuah gamepad. Harganya tiga ratus ribuan, sedang diskon pula. Saya tidak langsung menekan tombol beli. Tapi setelah itu, bayangannya tak juga pergi dari kepala.

Keesokan harinya, selepas makan siang saya iseng mampir ke coffee shop di kota lama Banjarmasin. Tempatnya kecil, teduh, dengan suara musik pelan yang mengalun. Saya memesan secangkir americano dingin, harganya sekira dua puluh ribuan (Rp). Mungkin mahal jika dibanding kopi sachet yang bisa saya seduh sendiri di rumah. Tapi saat duduk di pojok ruangan, menyeruput kopi dingin itu sambil menatap langit yang diselimuti mendung lembut, seperti ikut merunduk bersama pikiran saya yang juga sedang merasakan lelah, seperti menemukan sunyi yang menenangkan di tengah riuhnya hidup. Untuk sesaat, saya bisa bernapas lebih lega. Dunia tetap berat, tapi setidaknya, saya punya lima belas menit yang terasa milik saya sepenuhnya.

Banyak dari kita mungkin tak asing dengan pilihan-pilihan yang diam-diam berat seperti menunda liburan yang sudah lama diimpikan, mengganti ponsel yang layarnya mulai retak pun terus ditunda, bahkan ajakan makan malam di luar sering kita jawab dengan senyuman kecil dan alasan hemat. Kita belajar menahan banyak hal besar demi menyesuaikan diri dengan kenyataan yang tak selalu ramah.

Karena mungkin, di sanalah letak kebijaksanaan kecil kita untuk tetap merasa hidup meski dalam kesederhanaan yang nyaris sunyi. Bukan karena kita boros, tapi karena kita tahu bahwa bahagia itu kadang hadir lewat hal-hal yang remeh, namun menyelamatkan hati yang nyaris letih. Fenomena inilah yang oleh para ekonom disebut sebagai lipstick effect — kecenderungan orang untuk mencari pelarian konsumsi kecil dan murah saat kondisi ekonomi sedang tidak menentu. Fenomena ini bukan soal boros, tapi tentang upaya menjaga kewarasan. Tentang ingin merasa “masih bisa menikmati hidup” walau dalam skala yang lebih sederhana.

Lipstick effect sendiri pertama kali dicetuskan oleh Leonard Lauder, CEO perusahaan kosmetik Estée Lauder, yang melihat tren menarik yaitu saat ekonomi lesu, justru penjualan lipstik melonjak. Dalam situasi krisis, masyarakat menunda pembelian barang-barang mahal, namun justru membeli produk kecil yang membuat mereka merasa tetap “hidup”. Seiring waktu, istilah ini tak lagi terbatas pada lipstik atau kosmetik. Ia menjelma menjadi simbol dari bentuk pelarian kecil seperti kopi premium, lilin aromaterapi, gamepad, tiket konser, atau sekadar jajan favorit saat gajian turun.

Menakar Realitas Ekonomi Hari Ini

Secara makro, ekonomi Indonesia pasca meghadapi pandemi memang menunjukkan tanda-tanda pemulihan, pertumbuhan PDB positif, inflasi masih terkendali, dan stabilitas terlihat dari sejumlah indikator nasional. Namun, di balik angka-angka ini, terdapat realitas mikro yang jauh lebih kompleks, terutama bagi kelas menengah bawah dan pekerja muda urban.

Inflasi pangan seperti beras, cabai, dan minyak goreng tetap tinggi dan sangat terasa karena komponen ini menyumbang porsi besar dalam pengeluaran rumah tangga. Meskipun inflasi pada headline berita tampak menurun, harga kebutuhan pokok terus menanjak. Sementara itu, pendapatan riil stagnan. Kenaikan upah minimum tidak sebanding dengan lonjakan biaya hidup yang mencakup kebutuhan dasar hingga gaya hidup digital modern.

Ketidakpastian global seperti konflik geopolitik, kenaikan harga energi, serta krisis iklim memperparah kondisi. Cuaca ekstrem, gagal panen, dan kerusakan lingkungan mengancam sektor informal dan pekerja rentan. Tekanan psikologis dari dunia kerja pun meningkat—jam kerja panjang, ekspektasi produktivitas tinggi, dan tuntutan budaya “hustle” membuat burnout dan kelelahan emosional menjadi cerita sehari-hari.

Dalam situasi semacam ini, muncul kebutuhan yang sangat manusiawi yaitu menjaga kewarasan. Kita mencari bentuk pelarian kecil yang memberi ruang bernapas, membeli kopi favorit, skincare, buku ringan, atau akses streaming serial baru. Pilihan-pilihan kecil ini bukan sekadar konsumsi impulsif, tapi cara kita mengembalikan rasa kendali atas hidup di tengah ketidakpastian besar.

Psikologi Ekonomi di Balik Pilihan Kecil Ini

Mengapa kita tetap membeli hal-hal kecil seperti kopi spesial atau aksesori hiburan saat sedang mengencangkan ikat pinggang? Jawabannya tidak sesederhana “ingin memanjakan diri”. Perilaku ini punya akar dalam berbagai teori psikologi ekonomi yang menjelaskan bagaimana manusia membuat keputusan keuangan—terutama saat berada dalam tekanan.

Pertama, konsep mental accounting menjelaskan bahwa kita secara tidak sadar membagi uang ke dalam “rekening mental” yang berbeda. Kita mungkin menahan pengeluaran untuk hal-hal besar seperti liburan atau barang elektronik mahal, tapi tetap menyisakan sedikit ruang untuk apa yang kita anggap sebagai “hadiah kecil”. Uang tiga puluh ribu rupiah untuk kopi enak atau ratusan ribu untuk sebuah gamepad bisa jadi terasa “layak” karena kita sudah menolak begitu banyak pengeluaran lainnya. Di tengah hidup yang penuh rasionalitas, kita tetap ingin merasa manusiawi.

Kedua, kita juga mengalami hedonic adaptation. Ini adalah kecenderungan manusia untuk kembali ke titik netral emosional setelah mengalami suka atau duka. Artinya, kegembiraan dari hal besar akan cepat menguap, dan kesedihan pun akan kita sesuaikan. Dalam kondisi ekonomi yang sulit, kita butuh stimulus kecil yang berulang agar tetap merasa bahagia. Karena tidak semua orang bisa liburan atau membeli barang mahal, maka kesenangan mikro menjadi solusi yang masuk akal.

Dan terakhir, yang tak kalah penting adalah self-affirmation—yaitu kebutuhan untuk mengafirmasi nilai diri di tengah tekanan. Ketika hidup terasa berat, kita mencari cara untuk mengatakan pada diri sendiri “Saya masih punya kontrol. Saya masih bisa menikmati sesuatu. Saya masih berharga.” Dalam hal ini, kopi bukan hanya minuman, dan gamepad bukan hanya alat hiburan. Mereka adalah simbol bahwa kita tetap punya otonomi atas kebahagiaan kita sendiri, sekecil dan sesederhana apa pun bentuknya.

Bukan Konsumtif, Tapi Adaptif

Sering kali, kita mendengar kritik terhadap kebiasaan membeli barang-barang kecil seperti lipstick, gamepad, kopi di kafe, lilin aromaterapi, atau merchandise dari serial favorit. Tak sedikit yang menganggapnya sebagai bentuk perilaku konsumtif, impulsif, atau bahkan pelarian emosional yang tidak sehat. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, membeli hal-hal semacam itu dianggap tidak bijak—seolah-olah kita membuang-buang uang untuk sesuatu yang tidak penting.

Namun, jika kita menilik lebih dalam dari sudut pandang psikologi dan behavioral economic, justru sebaliknya yang terjadi. Fenomena lipstick effect bukanlah bentuk konsumtivisme modern yang dangkal, melainkan cerminan dari kemampuan adaptif manusia dalam menghadapi tekanan ekonomi dan emosional yang berkepanjangan.

Dalam situasi di mana kebutuhan hidup pokok sudah menyita hampir seluruh porsi pendapatan bulanan, membeli barang kecil yang memberikan kebahagiaan instan bukan berarti kita sedang "melarikan diri dari kenyataan." Justru, kita sedang membangun ulang rasa kendali dalam hidup yang serba tidak pasti. Kita tahu bahwa memiliki rumah mungkin belum terjangkau dalam waktu dekat, mobil pribadi masih tersimpan di angan-angan, atau bahkan liburan ke luar kota pun terasa mewah. Tapi ketika kita membeli sesuatu yang kecil dan terjangkau—apakah itu sepasang earphone baru, skincare favorit, atau tiket bioskop—kita sedang berkata pada diri sendiri: “Aku tetap bisa memilih. Aku tetap punya kendali.” Kita semua tahu pentingnya menabung, berinvestasi, dan merencanakan masa depan. Kita sadar bahwa fondasi keuangan yang sehat dibangun dari disiplin dan pengendalian diri. Namun, rencana jangka panjang tidak akan berjalan jika kondisi psikologis jangka pendek tidak terjaga. Seseorang yang terus menerus merasa tertekan, kehilangan semangat, dan menjalani hari dengan beban emosional yang berat tidak akan memiliki kapasitas mental yang cukup untuk berpikir strategis atau bertahan dalam permainan jangka panjang.

Oleh karena itu, memberi ruang bagi kesenangan kecil bukanlah kemewahan yang egois, tapi bentuk pemeliharaan mental yang krusial. Sama seperti tubuh butuh istirahat, jiwa pun butuh waktu untuk merasa senang, ringan, dan dihargai. Bahkan, beberapa studi menunjukkan bahwa aktivitas kecil yang memberikan self reward langsung dapat meningkatkan dopamin, hormon yang terkait dengan motivasi, fokus, dan rasa puas—semua hal yang kita perlukan untuk tetap bergerak maju, meski langkahnya pelan.

Jadi, ketika kita membeli secangkir kopi favorit setelah minggu kerja yang melelahkan, atau saat kita membeli gamepad untuk memberi sedikit warna di akhir pekan, itu bukan berarti kita sedang tidak bertanggung jawab secara finansial. Kita sedang menyelamatkan kewarasan kita, satu keputusan kecil yang berarti dalam dunia yang kadang terlalu besar dan bising untuk dikendalikan sepenuhnya.

Jeda Kecil dengan Makna Besar

Tak semua bentuk kebahagiaan harus datang dari hal besar. Kadang, satu bungkus mie instan favorit yang dimasak dengan telaten di malam minggu, atau lilin aromaterapi murah meriah yang menyala di sudut kamar, bisa membawa kelegaan yang tidak bisa dibeli oleh jam kerja lembur seminggu penuh. Membeli kesenangan yang murah bukan tentang berfoya-foya, tapi tentang mengisi kembali ruang hati yang kosong oleh rutinitas dan tekanan. Ini bukan bentuk penghindaran dari realitas, tapi justru cara untuk menjalaninya dengan lebih waras. Bahwa di tengah dunia yang menuntut efisiensi dan pencapaian tanpa henti, kita tetap perlu ruang untuk sekadar merasa cukup. Bukan karena kita menyerah, tapi karena kita tahu jika bertahan juga butuh jeda. Terkadang, jeda itulah yang menyelamatkan.

Pada akhirnya, membeli kopi bukan semata soal kafein yang menahan kantuk. Membeli gamepad bukan sekadar soal bermain di akhir pekan. Keduanya seringkali adalah bentuk kecil dari self-affirmation—cara sederhana untuk berkata pada diri sendiri “Saya masih layak merasa senang, walau hanya sebentar.” Di tengah derasnya beban kerja, kabar ekonomi yang kian berat, dan harga kebutuhan yang tak lagi ramah, kita mencari celah-celah kecil untuk bernapas. Pelarian sederhana itu bukan tentang boros atau konsumtif. Ia lebih mirip jeda sunyi di tengah riuh hidup, tempat kita mengisi ulang tenaga, merapikan hati yang lelah, dan mengingatkan diri bahwa kita masih punya kendali—meskipun hanya lewat hal kecil yang bisa kita pilih sendiri. Karena kadang, untuk tetap waras dan manusiawi, yang kita butuhkan bukan solusi besar, melainkan ruang kecil untuk merasa hidup.

Boleh jadi, justru dari kesenangan-kesenangan kecil seperti secangkir kopi hangat di pagi yang murung, lagu favorit yang diputar diam-diam saat lembur, atau obrolan ringan dengan teman seperjuangan, kita akan menemukan kekuatan untuk tetap melangkah. Di tengah derasnya tekanan dan realita yang kerap tak ramah, hal-hal sederhana itu menjadi jangkar yang menjaga kita tetap waras. Sebab tidak semua yang penting harus besar, dan tidak semua yang memberi arti harus mahal. Hidup, pada akhirnya, bukan hanya tentang angka dan target. Ia juga tentang rasa, tentang apa yang membuat kita tetap merasa manusia. Sebagai pekerja biasa yang terus berjuang di tengah gejolak ekonomi, kita memang tak selalu punya semua jawaban. Tapi barangkali cukup dengan memulai dari pertanyaanpertanyaan kecil “Apa yang membuat saya merasa hidup hari ini? Apa yang membuat langkah saya sedikit lebih ringan?” Dan dari sanalah, perlahan kita akan mengerti bahwa kebahagiaan bukan sebatas perkara saldo atau pencapaian, melainkan keberanian untuk terus memilih bahagia—meskipun lewat cara paling sederhana.

Penulis : Sonnie Wahyu Dewantoro , S.Ikom(Pelaksana Bidang PPA II, Kanwil DJPb Kalsel)

Artikel ini telah dimuat Radar Banjarmasin tanggal 16 April 2025

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Djuanda I Lt. 9
Gedung Prijadi Praptosuhardo II Lt. 1 Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

IKUTI KAMI

 

Search