Stabilitas ekonomi daerah merupakan fondasi utama dalam menjaga kesejahteraan masyarakat. Di Provinsi Kalimantan Selatan, upaya menjaga stabilitas tersebut menjadi fokus utama berbagai pemangku kepentingan, terutama saat menghadapi momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Menjelang Idul Fitri 1447 Hijriyah, tantangan inflasi menjadi perhatian serius yang menuntut kolaborasi lintas sektoral yang solid.
Dalam konteks inilah, Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Kalimantan Selatan mengukuhkan perannya sebagai motor penggerak koordinasi fiskal dan ekonomi. Keterlibatan aktif Kanwil DJPb dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menjadi manifestasi nyata dari komitmen pemerintah pusat untuk memastikan bahwa dinamika ekonomi di daerah tetap terkendali, inklusif, dan mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka.
Kanwil DJPb Kalsel, Bank Indonesia, Pemerintah Provinsi Kalsel, DPRD, instansi vertikal, perbankan, SKPD, dan BUMD bersinergi dalam High Level Meeting (HLM) TPID dengan fokus pengendalian inflasi menjelang Idul Fitri 1447 di Provinsi Kalimantan Selatan, Senin (16/3). FGD dilaksanakan untuk koordinasi kebijakan, evaluasi data inflasi, dan implementasi langkah konkret seperti operasi pasar serta penguatan rantai pasok.
Urgensi Stabilitas Harga Menjelang Idul Fitri 1447 H
Bulan Ramadan dan Idul Fitri merupakan periode krusial dalam siklus ekonomi tahunan. Secara historis, pola konsumsi masyarakat akan meningkat drastis. Permintaan terhadap komoditas pokok—seperti beras, daging sapi, minyak goreng, gula, hingga cabai merah—mengalami lonjakan yang signifikan.
Jika peningkatan permintaan ini tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan yang memadai, maka hukum ekonomi akan berlaku: harga akan melonjak tajam. Di Kalimantan Selatan, tantangan ini semakin kompleks karena karakteristik geografis dan ketergantungan pada pasokan dari luar daerah untuk beberapa komoditas pangan tertentu. Oleh karena itu, High Level Meeting (HLM) yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia dan Pemprov Kalsel menjadi ajang krusial untuk menyelaraskan persepsi dan tindakan sebelum tekanan inflasi mencapai puncaknya.
Analisis Data Inflasi Daerah
Dalam pertemuan tersebut, terungkap bahwa inflasi di Kalimantan Selatan berada pada level yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata inflasi nasional. Hal ini bukan sekadar angka statistik, melainkan alarm bagi para pengambil kebijakan untuk melakukan intervensi yang presisi. Tingginya angka inflasi dapat menggerus daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok menengah ke bawah, yang pada akhirnya akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif.
Peran Strategis Kanwil DJPb Kalsel dalam TPID
Sebagai representasi Kementerian Keuangan di daerah, Kanwil DJPb memiliki posisi unik. Peran DJPb tidak hanya terbatas pada pengelolaan APBN, tetapi juga sebagai Regional Chief Economist (RCE). Sebagai RCE, Kanwil DJPb bertanggung jawab melakukan analisis ekonomi makro, mengidentifikasi risiko fiskal, dan memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah daerah.
- Penguatan Koordinasi Fiskal
Kehadiran Kepala Kanwil DJPb Kalsel dalam HLM TPID menunjukkan bahwa instrumen fiskal menjadi bagian integral dari strategi pengendalian inflasi. Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik maupun Non-Fisik, serta Dana Insentif Daerah (DID) yang dikelola pemerintah pusat, memiliki kaitan erat dengan penguatan infrastruktur pertanian dan ketahanan pangan di tingkat daerah. Kanwil DJPb berperan memastikan bahwa penyaluran dana tersebut berjalan tepat waktu dan tepat sasaran.
- Fungsi Regional Chief Economist
Kanwil DJPb memberikan dukungan berupa data dan analisis mendalam mengenai arus kas daerah dan dampak ekonomi dari setiap kebijakan. Dengan basis data yang akurat, TPID dapat menentukan intervensi mana yang paling efektif, apakah melalui subsidi distribusi, penguatan cadangan pangan, atau fasilitasi perdagangan antar-daerah.
Sinergi Lintas Sektor: Langkah Konkret Menjaga Stabilitas
Keberhasilan dalam menekan inflasi sangat bergantung pada sinergi antar-lembaga. HLM ini menjadi wadah di mana setiap instansi memaparkan tugas dan fungsinya untuk mencapai tujuan kolektif:
- Pemerintah Provinsi & SKPD: Berfokus pada pemantauan harga di tingkat pasar tradisional dan ritel modern, serta pengawasan jalur distribusi agar tidak terjadi hambatan logistik.
- Bank Indonesia (BI): Melakukan analisis komprehensif mengenai pergerakan harga dan memberikan rekomendasi kebijakan moneter serta makroprudensial yang mendukung stabilitas harga di tingkat lokal.
- DPRD: Memberikan dukungan kebijakan legislatif dan pengawasan anggaran agar program-program pengendalian inflasi berjalan sesuai rencana.
- Instansi Vertikal & BUMD: Memastikan ketersediaan stok pangan melalui peran Bulog dan perusahaan daerah yang bergerak di sektor pangan.
Program Intervensi yang Ditekankan
Untuk memastikan stabilitas harga, terdapat empat pilar aksi yang disepakati:
- Operasi Pasar Murah: Menjamin masyarakat mendapatkan akses kebutuhan pokok dengan harga terjangkau tepat di pusat-pusat konsumsi.
- Penguatan Rantai Pasok: Memotong jalur distribusi yang terlalu panjang agar margin keuntungan lebih adil bagi petani dan konsumen.
- Optimalisasi Produksi Lokal: Mendorong produktivitas sektor pertanian dalam daerah untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan luar.
- Koordinasi Lintas Sektor: Memastikan tidak ada ego sektoral dan mempercepat aliran informasi jika ditemukan potensi kelangkaan komoditas di wilayah tertentu.
Menghadapi Tantangan Ekonomi ke Depan
Perjalanan menuju Idul Fitri 1447 H bukan tanpa tantangan. Faktor cuaca, gangguan logistik, hingga sentimen global seringkali menjadi variabel tak terduga yang memengaruhi harga pangan.
Dalam paparannya, para pimpinan instansi menekankan pentingnya respons yang cepat (agile). Jika terjadi lonjakan harga di satu kabupaten, TPID harus mampu melakukan operasi pasar segera atau memfasilitasi pengiriman stok dari wilayah lain yang surplus. Sinergi ini memastikan bahwa sistem peringatan dini ( early warning system) terhadap kenaikan harga berfungsi dengan optimal.
Menjaga Daya Beli Masyarakat
Di luar angka inflasi, fokus utama adalah menjaga daya beli masyarakat. Inflasi yang terkendali akan menciptakan iklim kondusif bagi UMKM untuk beroperasi, bagi perbankan untuk menyalurkan kredit, dan bagi rumah tangga untuk berbelanja dengan tenang. Idul Fitri yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan tidak boleh ternoda oleh beban biaya hidup yang tidak terkendali.
Kesimpulan
Sinergi antara Kanwil DJPb Kalsel, Pemerintah Provinsi, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan dalam TPID merupakan langkah krusial dalam menjaga stabilitas perekonomian daerah. Melalui HLM yang digelar pada 16 Maret 2026 ini, telah terbangun kerangka kerja yang solid untuk memitigasi risiko inflasi menjelang Idul Fitri 1447 H.
Keterlibatan aktif Kanwil DJPb sebagai Regional Chief Economist memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil memiliki landasan ekonomi yang kuat dan terintegrasi dengan kebijakan fiskal pusat. Dengan komitmen yang telah ditunjukkan, diharapkan Kalimantan Selatan mampu melewati periode HBKN dengan inflasi yang terjaga, sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dan merayakan Idul Fitri dengan khidmat, aman, dan sejahtera.
Stabilitas ekonomi adalah kerja bersama. Sinergi yang terjalin saat ini menjadi bukti bahwa dengan koordinasi yang intensif, tantangan ekonomi seberat apa pun dapat dikelola untuk kepentingan rakyat banyak. Langkah ini bukan hanya tentang menekan angka inflasi, tetapi tentang menjaga denyut nadi ekonomi Kalimantan Selatan tetap kuat di masa depan.