KINERJA PEREKONOMIAN DAN FISKAL REGIONAL KALIMANTAN TENGAH
PER 30 APRIL 2026
Palangka Raya, 20 Mei 2026 – Pada Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Mei 2026, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 30 April 2026 tetap terjaga solid dan menunjukkan tren positif di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pendapatan Negara terealisasi sebesar Rp918,4 T tumbuh 13,3% (yoy), utamanya ditopang oleh kinerja perpajakan yang tumbuh kuat sebesar 13,7%, di mana penerimaan pajak tumbuh 16,1% (yoy). Sementara, Belanja Negara mencapai Rp1.082,8 T atau tumbuh 34,3% (yoy) dimana percepatan belanja ini sengaja dilakukan agar daya dorong APBN terhadap perekonomian dapat dirasakan secara merata sepanjang tahun. APBN tetap berada dalam koridor pengelolaan fiskal yang sehat dan terukur, dan terus diarahkan untuk mendorong pertumbuham ekonomi. APBN tetap bekerja optimal sebagai shock absorber sekaligus penggerak pertumbuhan, melalui penerimaan negara yang terjaga dan belanja yang semakin ekspansif untuk mendukung program prioritas dan daya beli masyarakat.
APBN juga mencatat defisit yang cukup terkendali sebesar Rp164,4 T atau 0,64% terhadap PDB. Keseimbangan primer mencatatkan surplus sebesar Rp28 triliun atau minus 31,2 persen terhadap APBN. “Jadi keseimbangan primer yang surplus bukan terjadi karena belanjanya di-rem, tetap saja belanjanya cepat sampai April pertumbuhannya adalah 34,3 persen dibandingkan tahun lalu,” ujar Menkeu dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi April 2026.
Kinerja APBN Kalimantan Tengah Per April 2026
Kinerja Pendapatan dan Hibah APBN Kalimantan Tengah per 30 April 2026 mencapai Rp4.502,09 Miliar (38,78% dari target) atau tumbuh Rp1.890,33 Miliar (72,38%, yoy) didorong oleh tingginya penerimaan PPh (Non Migas) sebesar Rp2.005,34 Miliar (82,68% yoy) terutama kenaikan PPh 25/29 Badan Rp1.333,52 Miliar dan PPN Dalam Negeri sebesar Rp 941,24 Miliar. Kinerja ini mencerminkan kuatnya aktivitas WP Badan di Kalimantan Tengah. Dari penerimaan pajak per sektor utama didukung oleh Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mencapai Rp857,09 Miliar atau mengalami pertumbuhan sebesar 36,99% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Disusul Sektor Industri Pengolahan mencapai Rp551,43 Miliar di dominasi hasil dari pengolahan kelapa sawit berupa CPO dan turunannya.
Selain itu, kinerja penerimaan dari sisi Pajak Perdagangan Internasional tercatat Rp419,14 Miliar atau 213,81% dari target, dan tumbuh 46,12% (yoy). Realisasi tersebut didorong oleh penerimaan dari Bea Keluar sebesar Rp418,95 Miliar atau 215,11% dari target disebabkan adanya kenaikan harga referensi CPO per April 2026 sebesar 989,93 US$/Metric Ton atau tumbuh 2,95% (yoy).
Di sisi lain, kinerja Belanja APBN per 30 April 2026 mencapai Rp7.432,36 Miliar terkontraksi sebesar 8,54% (yoy). Realisasi Belanja K/L sebesar Rp2.202,81 Miliar tumbuh sebesar 36,79% (yoy), sedangkan realisasi penyaluran TKD sebesar Rp5.409,56 Miliar terkontraksi sebesar 18,62% yoy. Kinerja Belanja K/L tumbuh utamanya didorong oleh tingginya belanja pegawai yaitu sebesar Rp1.270,10 Miliar atau 37,88% dari target dan tingginya realisasi belanja modal sebesar Rp314,80 Miliar atau 16,56% dari pagu dan tumbuh 824,49% yoy. Kinerja Belanja K/L juga di dorong oleh realisasi Kementerian PU dengan pagu terbesar Rp1.977,22 Miliar dan realisasi 18,54% (Rp365,74 Miliar) untuk pembangunan dan preservasi jalan nasional dan Pembangunan Sekolah Rakyat di 4 (empat) Kabupaten/Kota di Kalimantan Tengah.
Belanja K/L di Kalimantan Tengah juga ditujukan untuk belanja yang langsung diterima oleh masyarakat, antara lain:
- Program MBG di Kalimantan Tengah Per 30 April 2026 sebanyak 87 SPPG aktif telah menyerap tenaga kerja 3.845 petugas dan menggerakkan 701 Supplier yang telah melayani 230.922 Penerima Manfaat dari Balita, Bumil/Busui, siswa dari Paud hingga SMA serta Santri dan Sebagai informasi, konsentrasi penerima manfaat MBG paling banyak terdapat di kota Palangka Raya sebanyak 73.004 penerima (31%).
- Belanja Pendidikan sebesar Rp194,54 Miliar (19,27% dari pagu) yang sebagian besar untuk Program Strategis Sekolah Rakyat dan Pembangunan, Rehabilitasi, dan Renovasi Sarana Prasarana PTK Rp121,53 Miliar dan Program Wajib Belajar 13 Tahun Rp19,26 Miliar.
- Belanja Kesehatan Rp35,85 Miliar (25,07% dari pagu) yang sebagian besar untuk Pelaksanaan Dukungan Manajemen di Perwakilan BKKBN Provinsi Rp16,30 Miliar.
- Belanja Infrastruktur Rp487,91 Miliar (22,46% dari pagu) yang sebagian besar untuk Operasi dan pemeliharaan SDA, layanan transportasi udara, pengembangan transmigrasi, serta pembangunan jalan nasional 0Rp303,11 Miliar.
Selain Belanja K/L, APBN juga disalurkan melalui Belanja Transfer ke Daerah (TKD) dengan kinerja penyaluran per 30 April 2026 terealisasi sebesar Rp5.409,56 Miliar, mengalami kontraksi 18,62% (yoy). Kondisi tersebut sebagai dampak kebijakan alokasi DBH di 2026 yang mengalami penurunan cukup signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sehingga realisasi DBH juga mengalami kontraksi sebesar 74,42% (yoy). Hal ini berpengaruh pada menurunnya pendapatan daerah penghasil. Selain itu, kontraksi juga dikarenakan belum adanya realisasi penyaluran DAK Fisik di Tahun 2026, dan bahkan beberapa Pemda tidak memperoleh alokasi DAK Fisik (Pemprov Kalteng, Barito Utara, Kapuas, Murung Raya, dan Barito Timur). Hingga saat ini belum terdapat Pemda yang menyampaikan dokumen persyaratan penyaluran DAK Fisik Tahap I 2026 dikarenakan Pemda masih perlu merencanakan kontrak. Sementara Dana Desa mengalami kontraksi 77,89% (yoy) karena adanya perlambatan realisasi di awal tahun karena penurunan Pagu dibanding tahun sebelumnya sebagai akibat adanya penyesuaian persyaratan tambahan dalam pengajuan Tahap I 2026, yaitu penyesuaian dalam mendukung implementasi kebijakan KDMP yang memerlukan kesiapan administrasi dari Pemerintah Daerah dan Pemerintah Desa sebelum penyaluran Dana Desa dilakukan.
Kinerja APBD Konsolidasian Kalimantan Tengah TA 2026
Berdasarkan data dari SIKRI Direktorat APK (DJPb) atas LRA konsolidasi seluruh Pemda di lingkup Kalimantan Tengah sampai dengan 30 April 2026, Realisasi Pendapatan Daerah mencapai Rp16.835,89 Miliar atau 69,34% dari target yang telah ditetapkan, tumbuh sebesar 166,49% (yoy). Pendapatan masih didominasi oleh pendapatan transfer Pemerintah Pusat mencapai 79,10% dari Total Pendapatan APBD yang menggambarkan bahwa angka ketergantungan Pemda masih tinggi terhadap TKD. Kinerja PAD menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 169,50% (yoy) terutama meningkatnya kinerja penerimaan Pajak Daerah, Retribusi Daerah dan PAD yang sah. Pada sisi Belanja Daerah, realisasi per 30 April 2026 sebesar Rp10.204,82 Miliar atau 39,07% dari pagu yang telah ditetapkan tumbuh 142,90% (yoy).
Dengan kondisi ini, maka APBD Kalimantan Tengah masih surplus Rp6.631,07 Miliar, berbanding terbalik dari pagu yang direncanakan defisit, sehingga terdapat SILPA sebesar Rp6.668,56 Miliar. Pemerintah daerah perlu menerapkan manajemen kas yang lebih efektif, dengan memanfaatkan saldo kas di RKUD secara produktif melalui investasi atau program-program strategis yang dapat mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi regional di Kalimantan Tengah.
(update data Portal Data SIKD masih akan bergerak terutama untuk perkembangan data APBD seluruh Indonesia).



