Palangkaraya, 25 Maret 2025 – Pada konferensi pers APBN KITA Edisi Maret 2025, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa kinerja APBN hingga 28 Februari 2025 untuk Pendapatan Negara mencapai Rp316,9 Triliun (10,5% dari target) dan Belanja Negara Rp348,1 Triliun (9,6% dari pagu) sehingga APBN sedikit mengalami defisit Rp31,2 Triliun atau 0,13% terhadap PDB masih dalam defisit APBN yang diatur dalam UU Nomor 17 Tahun 2023 bahwa maksimal defisit APBN adalah 3% dari PDB. Namun, Keseimbangan Primer masih mencatatkan angka yang positif yaitu surplus Rp48,1 Triliun yang artinya keuangan negara atau APBN masih dalam kondisi sehat, termasuk masih memiliki kemampuan untuk dapat melunasi cicilan utang negara. Kinerja APBN 2025 tidak terlepas dari perekonomian dan suasana politik global. APBN akan terus bekerja keras sebagai shock absorber untuk melindungi perekonomian, daya beli masyarakat, dan mendukung program pemerintahan Kabinet Merah Putih. Pemerintah berkomitmen akan terus mewaspadai berbagai risiko global dan merumuskan kebijakan untuk menjaga fiskal Indonesia tetap sehat. Ekonomi yang stabil dan APBN yang Sehat menjadi fondasi untuk pelaksanaan APBN TA 2025.
Kinerja APBN TA 2024
Kinerja Pendapatan dan Hibah APBN Kalimantan Tengah per 28 Februari 2025 mencapai Rp1.101,3 Miliar (12,2%) terkontraksi Rp69,5 Miliar (-5,9%, yoy) yang disebabkan oleh penerimaan Pajak Dalam Negeri yang terkontraksi Rp177,8 Miliar (-17,0%, yoy) disebabkan oleh setoran Wajib Pajak Cabang yang tahun lalu masih terdaftar di KPP wilayah Kalimantan Tengah, pada Tahun 2025 Wajib Pajak Cabang tersebut dipindahkan ke KPP tempat Wajib Pajak Pusat terdaftar, namun kontraksi pada penerimaan Pajak Dalam Negeri ini masih cukup wajar karena masih data per awal triwulan I 2025 dan kontraksi masih di bawah 20% (yoy). Disisi lain, kinerja Pajak Perdagangan Internasional menunjukkan kinerja yang positif dan tumbuh Rp125,9 Miliar (562,4%, yoy) yang didorong oleh peningkatan penerimaan Bea Keluar yang tumbuh Rp124,0 Miliar (570,5%, yoy) karena Harga Referensi CPO untuk penetapan Bea Keluar dan tarif BLU BPD-PKS per Februari 2025 mencapai USD 955,44/Metric Ton tumbuh 28,57% (YTD) dari Januari-Februari 2024. Bea Masuk telah mencapai 266,6% dari target Bea Masuk TA 2025 dan Bea Keluar telah mencapai 88,1% dari target Bea Keluar TA 2025, hal ini membuktikan bahwa kinerja Pajak Perdagangan Internasional yang sangat baik mampu mendorong penerimaan APBN di Regional Kalimantan Tengah per 28 Februari 2025.
Dari sisi PNBP, diperoleh Pendapatan BLU sebesar Rp12,4 Miliar berasal dari beberapa Satker BLU di antaranya: (1) Poltekes Palangkaraya sebesar Rp7,6 Miliar yang berasal dari Jasa Pelayanan Pendidikan, Sewa Gedung, Sewa Ruangan, Sewa Peralatan dan Mesin, Layanan Perbankan BLU, dan Jasa Penyediaan Barang Jasa; dan (2) Rumkit Bhayangkara Palangkaraya sebesar Rp4,8 Miliar yang berasal dari Jasa Pelayanan Rumah Sakit, Sewa Ruangan, Sewa Tanah, dan Layanan Perbankan BLU. Sedangkan Pendapatan PNBP Lainnya (K/L) sebesar 73,8 Miliar yang didominasi oleh Kementerian Agama yang mencapai Rp19,0 Miliar (42,3%) dengan layanan utama Pendapatan Biaya Pendidikan, Pendapatan Jasa Kantor Urusan Agama, Pendapatan Jasa Pelayanan Keagamaan Lainnya, dan Penerimaan Kembali Belanja TAYL. Selain itu dari Polri yang mencapai Rp15,3 Miliar (110,1%) dengan layanan utama berupa Pendapatan BPKP, STNK, Tanda Nomor Kendaraan Bermotor, Pendapatan Pengamanan Obyek Vital dna tertentu, Pendapatan Penerbitan dan Perpanjangan SIM.
Pada sisi lain, kinerja Belanja APBN per 28 Februari 2025 mencapai Rp3.549,2 Miliar (10,3%) atau turun Rp663,8 Miliar (-15,8%, yoy) yang disebabkan oleh turunnya Belanja K/L sebesar Rp385,7 Miliar (-45,5%, yoy) yang salah satunya disebabkan oleh adanya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD TA 2025 sehingga Belanja Barang turun 73,2% (yoy) dan Belanja Modal turun 93,1% (yoy). Selain itu dari kinerja Transfer ke Daerah (TKD) juga turun Rp278,1 Miliar (-8,3%, yoy) karena Penyaluran Dana Bagi Hasil (DBH) turun Rp474,9 Miliar (-35,8%, yoy). Realisasi Belanja Pemerintah Pusat (K/L) mencapai Rp462,4 Miliar (4,8%) yang sebagian diantaranya digunakan untuk Belanja yang bermanfaat langsung untuk rakyat di antaranya sebagai berikut:
- Belanja Tematik Pendidikan sebesar 14,3 Miliar yang beberapa di antaranya untuk Mahasiswa penerima PIP Kuliah sebesar Rp2,5 Miliar; Mahasiswa penerima KIP kuliah sebesar Rp4,4 Miliar; Siswa penerima Dana BOS sebesar Rp5,3 Miliar; Dosen/Guru Non PNS penerima Insentif, Tunjangan Profesi dan Fungsional sebesar Rp18,3 Juta; dan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) sebesar Rp178,7 Juta.
- Belanja Tematik Kesehatan sebesar Rp157,0 Juta yang beberapa di antaranya untuk Pemantauan dan Pengawasan Produk Obat dan Makanan sebesar Rp59,8 Juta; Layanan Pencegahan dan Pengendalian Faktor Risiko Berbagai Penyakit di Pelabuhan, Bandara, dan Pada Situasi Khusus sebesar Rp62,6 Juta; Pemeriksaan Sampel Obat dan Makanan yang diperiksa sesuai standar oleh UPT sebesar Rp33,3 Juta; dan Pengadaan alat dan bahan kekarantinaan Kesehatan sebesar Rp1,3 Juta.
- Belanja Perlindungan Sosial disalurkan oleh Kementerian Sosial sebesar Rp91,9 Miliar di antaranya berupa Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebesar Rp51,2 Miliar untuk 85.355 KPM; Program Keluarga Harapan (PKH) sebesar Rp40,3 Miliar untuk 57.588 KPM; Asistensi Rehabilitasi Yatim Piatu (YAPI) sebesar Rp377,1 Juta untuk 847 Orang.
Kinerja Penyaluran TKD Regional Kalimantan Tengah Per 28 Februari 2025
Kinerja penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) Kalimantan Tengah per 28 Februari 2025 mencapai Rp3.086,8 Miliar (12,5%) terkontraksi 8,3% (yoy) karena penerimaan DBH turun 35,8% (yoy). TKD TA 2025 dimanfaatkan sebagai berikut:
- Bidang Pendidikan berupa DAK Non Fisik l. Dana BOS telah tersalur Rp286,7 Miliar untuk 476.903 Siswa pada 3.866 Sekolah; BOP PAUD telah tersalur Rp23,9 Miliar untuk 69.890 Siswa pada 2.600 Sekolah; BOP Pendidikan Kesetaraan telah tersalur Rp10,1 Miliar untuk 11.806 Siswa pada 110 Sekolah; dan Dana BPP Perpustakaan Daerah telah tersalur Rp1,3 Miliar.
- Bidang Kesehatan berupa DAK Non Fisik l. BOK Puskesmas telah tersalur Rp8,0 Miliar pada 61 Puskesmas; BOK Dinas telah tersalur Rp7,2 Miliar; Dana BOK Pengawasan Obat dan Makanan telah tersalur Rp2,7 Miliar; dan Dana BO Keluarga Berencana telah tersalur Rp414,2 Juta.
- Bidang Pekerjaan Umum berupa DAK Non Fisik l. Dana Ketahanan Pangan dan Pertanian telah tersalur Rp4,8 Miliar terutama pada Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas sebagai wilayah Food Estate.
- Perlindungan Sosial meliputi Dana Desa Earmark Penyaluran BLT Desa telah tersalur sebesar Rp4,2 Miliar untuk 77 Desa; Penyaluran Ketahanan Pangan Hewani telah tersalur sebesar Rp8,3 Miliar untuk 77 Desa; dan Penyaluran Penurunan Stunting sebesar Rp5,6 Miliar untuk 77 Desa.
Kinerja APBD Konsolidasian Regional Kalimantan Tengah TA 2025
Berdasarkan Data APBD pada Sistem Keuangan Republik Indonesia (SIKRI) Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan, sampai dengan 28 Februari 2025, Realisasi Pendapatan Daerah sebesar Rp3.263,5 miliar atau 9,8% dari target yang telah ditetapkan, terkontraksi sebesar 7,1% (yoy) dan masih didominasi oleh pendapatan transfer sebesar 82,2% dari Total Pendapatan APBD yang menggambarkan bahwa angka ketergantungan Pemda Kalimantan Tengah masih sangat tinggi terhadap TKD Pemerintah Pusat. Sedangkan, pada sisi Belanja Daerah, realisasi s.d. 28 Februari 2025 sebesar Rp1.140,4 Miliar atau 3,2% dari pagu yang telah ditetapkan dan terkontraksi 5,6% (yoy). Seluruh komponen Belanja Daerah mengalami pertumbuhan negative kecuali pada pos Belanja Subsidi, Belanja Bantuan Sosial, dan Belanja Modal. Dengan kondisi ini, maka APBD Kalimantan Tengah masih surplus sebesar Rp2.123,2 Miliar, berbanding terbalik dari pagu yang direncanakan defisit. Pemerintah daerah perlu menerapkan manajemen kas yang lebih efektif, dengan memanfaatkan saldo kas di RKUD secara produktif melalui investasi atau program-program strategis yang dapat mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi regional di Kalimantan Tengah (update data SIKRI masih akan bergerak terutama untuk perkembangan data APBD seluruh Indonesia).



