“Hampir semua yang terjadi pada masa kini karena masa lalu, dan yang terjadi pada masa depan karena masa kini”
1816-1914: Era dominasi Inggris dan Standar Emas Klasik (gold standard). Selama abad ke-19, Pound sterling menjadi mata uang dominan di dunia karena kala itu Inggris menjadi negara yang sempat menguasai dunia dengan kemajuan teknologinya. London berkembang pesat sebagai pusat keuangan global. Histori selalu menunjukkan bahwa negara penguasa dunia seringkali adalah negara yang menguasai teknologi dan keuangan. Negara-negara besar lain (Jerman, Prancis, AS) menyusul untuk adopsi sistem standar emas ini. Kelebihan sistem ini adalah nilai tukar yang stabil secara internasional karena emas sudah diakui sebagai the real money selama ribuan tahun. Namun di sisi lain, sistem juga kaku dan sulit untuk merespon krisis ekonomi.
1914-1929: Perang dunia I dan runtuhnya standar emas. Tahun 1914 menjadi titik balik sistem keuangan standar emas yang disebabkan oleh Perang Dunia I. Negara-negara besar yang berperang termasuk Inggris dan sekutu “menangguhkan konversi emas” untuk membiayai perang dengan mencetak uang dengan basis emas yang lebih sedikit (fractional reserve banking). Sederhananya, negara-negara itu utang ke bank sentral dan memaksanya mencetak uang fiat untuk membiayai perang, padahal mereka belum punya emasnya. Mereka paham bahwa emas itu komoditas langka yang berharga dan cukup sulit untuk ditambang. Namun, motif kekuasaan dan geopolitik lebih besar daripada rasionalitas kondisi keuangan global. Sistem keuangan kacau, inflasi merajalela. Usaha menghidupkan standar emas tahun 1920-an (misal: Gold Exchange Standard) gagal.
1929-1944: Great Depression dan hilangnya penopang uang untuk dunia. Negara-negara mulai mendepresiasi mata uangnya dan meninggalkan standar emas demi pemulihan ekonomi. Semenjak kepercayaan terhadap uang menurun dan inflasi merajalela, kondisi ekonomi global seperti diujung tanduk. Kebijakan ekonomi yang tidak tepat, kegagalan sistem perbankan, spekulasi saham sebagai sarana investasi, dan kredit atau utang macet bahkan gagal bayar. Selama hilangnya penopang uang (emas) dan terjadinya great depression dari tahun 1929 hingga 1940-an, tidak ada sistem yang resmi dan masa transisi ini cukup keos. Banyak negara yang bertransaksi dengan cara barter lagi. Bahkan, german waktu itu sempat menggunakan rokok sebagai alat transasksi. Namun, selama masa PD II hingga great depression, Amerika mengambil keuntungan bisnis di persenjataan militer hingga memenangkan banyak perang. Dampaknya, dolar Amerika sedikit demi sedikit mulai dianggap.
1944-1950: Bretton Woods Agreement. Amerika Serikat keluar dari Perang Dunia II sebagai ekonomi terkuat dengan dua per tiga cadangan emas dunia. Dengan melihat kondisi dunia yang gelap kala itu, sistem keuangan yang tidak stabil, serta kebimbangan alat tukar yang berbeda antar negara untuk melakukan perdagangan internasional, Amerika membuat sistem keuangan internasional yang menyatakan bahwa perdagangan internasional menggunakan satu mata uang saja, dolar Amerika. Kebijakan ini disepakati dalam Konferensi Bretton Woods tahun 1944. Dalam kesepakatan itu, disebutkan bahwa dolar akan berbasis emas dengan konversi $35 per ons emas. Jadi, negara yang tidak mempunyai dolar dapat membawa emas ke Amerika untuk ditukar dengan dolar.
1950-1965: Era ilusi uang, money printing under the shadow of gold. Era ketika Amerika Serikat membiayai perang Korea, Vietnam, dan program domestik yang fantastis (Great Society). Kala itu Amerika masih berkutat dengan perang dan di sisi lain juga memiliki program yang disebut Great Society. Program ini memiliki visi “A nation where No. child is poor, No. family is hungry, and No. race is discriminated”. Visi ini terlihat sangat menarik, dimana negara menghapus kemiskinan, mengurangi ketimpangan, mewujudkan keadilan rasial, dan meningkatkan kualitas hidup rakyat. Namun, dibalik visi besar itu ditambah pembiayaan masif untuk perang Korea dan Vietnam, Amerika menyembunyikan sesuatu, massive money printing. Amerika mencetak dolar melebihi cadangan emas sehingga terjadi keraguan dari negara lain (trust deficit).
1965-1971: Respon negara lain terhadap money printing. Pada tahun 1965-1971, Prancis dan negara Eropa mulai menukar dolar ke emas yang dikenal dengan “De Gaulle Gold Offensive”. Negara-negara itu curiga kenapa Amerika bisa mengeluarkan uang sebegitu besar, padhal dirasa emas yang selama ini dimiliki sendiri dan hasil penukaran dari negara lain tidak seperti itu. Bahkan Prancis sempat mengirim kapal militer ke Amerika untuk mengambil emasnya lagi. Bagi mereka, satu-satunya uang yang adil adalah uang yang berakar pada emas. Selain itu, Prancis di bawah kepemimpinan De Gaulle ingin menjadi negara mandiri karena cadangan dolar sudah terlalu banyak. Dengan adanya peristiwa tersebut, cadangan emas Amerika mulai terkuras.
1971-1974: The Day Gold Died. Pada 1971, Presiden Amerika, Richard Milhous Nixon sudah tidak ingin memberikan emas ke negara yang meminta emasnya kembali, karena tidak ada cadangan lagi. Nixon lalu berdiskusi dengan negara-negara tersebut bahwa sekarang tidak bisa bergantung dengan emas karena keterbatasan emas itu sendiri. Melihat semua kondisi ini, semua terpaksa kembali melepas standar emas (gold standard), lagi. Sejak saat itu dolar terus dicetak untuk memenuhi kebutuhan global dengan dominasi Amerika yang telah berjalan selama masa itu. Cukup sulit untuk membuat sistem keuangan baru lagi dari awal. Sebagai informasi tambahan, dapat dilihat pada grafik M2 Money Supply dari Federal Reserve Bank sebagaimana terlampir. Sejak tahun 1971, supply dolar mulai meningkat.

1974-2024: Petro Dollar Agreement. Masa awal 1970-an, negara Arab mengalami perang dengan Israel. Kala itu negara Arab kalah perang. Salah satu sebab yang mereka temukan adalah keterlibatan Amerika dalam membantu persenjataan Israel. Oleh sebab itu, Arab membatasi ekspor minyak terutama untuk negara-negara yang membantu Israel. Kelangkaan minyak pada pasar global menyebabkan harga minyak dunia meningkat signifikan hingga terjadi krisis minyak. Melihat hal ini, dengan dominasinya di dunia, Amerika bertemu dengan Raja Arab dan membuat sebuah kesepakatan yang disebut “Petro Dollar”. Isi kesepakatan tersebut sederhananya, Amerika akan memberikan jaminan militer pada Arab dengan ketentuan bahwa transaksi minyak antar negara di dunia harus menggunakan dolar selama 50 tahun (hingga tahun 2024). Dengan begitu, dolar yang awalnya tidak memiliki basis emas dan diragukan, akhirnya dibutuhkan karena semua negara membutuhkan minyak dari Arab. Tahun 2024 perjanjian berakhir dan kita akan melihat apa yang terjadi ke depannya.
Source:
Lords of Finance – Liaquat Ahamed (2009)
The Economic Consequences of the Peace – John Maynard Keynes (1919)
When Money Dies – Adam Fergusson (1975)
The Rise and Fall of the Great Powers – Paul Kennedy (1987)
Cigarette Currency in Prisoner of War Camps” oleh R.A. Radford – Economic Journal, 1945
Postwar: A History of Europe Since 1945 – Tony Judt (2005)

