Sampai dengan bulan Oktober tahun 2025 KPPN Tual telah menyalurkan 2,39 trilyun Rupiah atau 78,08% dari keseluruhan pagu DIPA yang dikelola yaitu senilai 3,07 trilyun Rupiah. Dari nilai tersebut 1,72 trilyun Rupiah disalurkan kepada Pemerintah Daerah dalam bentuk TKD dan 673,61 milyar Rupiah disalurkan kepada satuan kerja K/L mitra KPPN Tual yang tersebar di Kota Tual, Kabupaten Maluku Tenggara dan Kabupaten Kepulauan Aru.
Detail Penyaluran APBN
- Pagu Anggaran
Untuk dapat memahami proporsi realisasi APBN pada lingkup KPPN Tual, dijelaskan terlebih dahulu tentang pagu DIPA yang selama ini dikelola oleh KPPN Tual. Pagu DIPA keseluruhan yang dikelola oleh KPPN Tual adalah Rp 3,070,707,507,000 dan jika dilihat secara detail per jenis belanja, data pagu yang dikelola adalah sebagai berikut :
- Pagu Belanja Pegawai Rp 351,832,334,000
- Pagu Belanja Barang Rp 402,579,484,000
- Pagu Belanja Modal Rp 168,511,626,000
- Pagu Belanja Sosial Rp 55,800,000
- Pagu dana TKD Rp 2,147,728,263,000
- Realisasi Anggaran
Sampai dengan bulan September 2025 KPPN Tual telah menyalurkan Rp 2,397,499,178,245 (78.08% dari total pagu DIPA), dari nilai tersebut Rp 673,612,461,842 disalurkan untuk belanja 60 satuan kerja K/L mitra KPPN Tual dan Rp 1,723,886,716,403 disalurkan kepada 3 pemerintah daerah dalam bentuk dana TKD.
Proporsi realisasi anggaran per jenis belanja
- Realisasi Belanja Pegawai Rp 295,787,331,830 (84,07% dari Pagu Belanja Pegawai)
- Realisasi Belanja Barang Rp 256,062,463,923 (63,61% dari Pagu Belanja Barang)
- Realisasi Belanja Modal Rp 121,742,866,089 (72.25% dari Pagu Belanja Modal)
- Realisasi Belanja Sosial Rp 19,800,000 (35.48% dari Pagu Belanja Sosial)
- Realisasi penyaluran TKD Rp 1,723,886,716,403 (80.27% dari Pagu TKD)
Berdasarkan data tersebut, persentase realisasi belanja paling rendah masih terdapat pada belanja sosial (57) dengan nilai persentase 35,48%. Pada bulan Oktober ini tidak ada realisasi untuk belanja Bantuan Sosial sehingga nilai dan persentase serapan realisasi belanja bantuan sosial masih sama dengan bulan sebelumnya. Kemudian penyerapan kedua terendah ada pada belanja barang (52) yang hanya mencapai 63,61%. Persentase realisasi pada belanja barang memang masih relatif lebih rendah apabila dibandingkan dengan jenis belanja lainnya. Hal tersebut dimungkinkan karena masih terdapat belanja barang yang masih terblokir.





