Serang, 31 Maret 2026 – Secara keseluruhan kinerja APBN Provinsi Banten sampai dengan 28 Februari 2026 berkinerja sangat baik, seperti yang disampaikan oleh para pimpinan Kemenkeu Satu Regional Banten yakni Lisbon Sirait, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Banten, Aim Nursalim Saleh Kepala Kanwil DJP Banten, Muhammad Hakim Satria, Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kanwil DJBC Banten, dan Kusuma Santi Wahyuningsih Kepala Kanwil DJKN Banten.
Kinerja PNBP dan Belanja Negara
Menurut Lisbon, Kinerja Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sampai dengan 28 Februari 2026, tumbuh sebesar 8,02% dengan realisasi mencapai 16,21% di atas realisasi Nasional sebesar 14,80% dari target. Kinerja PNPB ini ditopang oleh pendapatan pelayanan pertanahan, jasa kepelabuhan, pelayanan pendidikan, dan pelayanan kesehatan.
Selanjutnya, dari sisi belanja negara sampai dengan 28 Februari 2026 mengalami pertumbuhan sebesar 16,7% dengan realisasi sebesar 18,91% di atas realisasi Nasional sebesar 12,80% dari target. Realisasi belanja negara terbesar berasal dari belanja TKD sebesar Rp3,65 triliun atau 24,50% diatas realisasi Nasional sebesar 21,30% dari target, dipengaruhi oleh kenaikan penyaluran DAU dan DAK Non Fisik. Sementara realisasi belanja K/L sebesar Rp0,83 triliun atau 9,46% di bawah realisasi Nasional sebesar 10,30% dari target, dipengaruhi oleh pembangunan infrastruktur jalan dan pendidikan, pelaksanaan kegiatan tugas pokok dan fungsi Kementerian/Lembaga serta pembayaran gaji ASN/TNI/Polri dan PPPK.
Lisbon menegaskan pada Belanja K/L, Belanja Pegawai, Belanja Barang, dan Belanja Modal sampai dengan 28 Februari 2026, mengalami pertumbuhan positif, sedangkan Belanja Bansos belum ada alokasi. Realisasi Belanja Pegawai mencapai 11,96% di atas bawah realisasi Nasional sebesar 12,60%, dipengaruhi oleh penambahan PPPK dan ASN/TNI/Polri pada beberapa Kementerian/Lembaga. Sementara realisasi Belanja Barang sebesar 7,53% di bawah realisasi Nasional sebesar 9,6%, yang mengalami akselerasi yang signifikan khususnya dibidang pertahanan dan keamanan.
Untuk realisasi Belanja Modal mencapai 4,22% di bawah realisasi nasional 5,40%, yang mengalami akselerasi signifikan di awal tahun 2026, yang pemanfaatannya didominasi untuk pembangunan infrastruktur jalan dan pendidikan yang pelaksanaannya oleh Kementerian PU. Sedangkan Belanja Bansos tidak ada realisasi karena belum ada alokasi untuk Belanja Bantuan Sosial Kinerja penyaluran Transfer Ke Daerah (TKD) sampai dengan 28 Februari 2026 tumbuh sebesar 15,99% dan telah tersalurkan sebesar Rp3,65 triliun atau sebesar 24,50% di atas realisasi Nasional sebesar 21,30% dari target. Jenis TKD Dana Alokasi Umum (DAU) dan DAK Non Fisik mengalami pertumbuhan positif, sementara Dana Bagi Hasil (DBH) mengalami perlambatan yang dipengaruhi oleh penyaluran DBH SDA dan Pajak periode satu. Untuk Dana Desa dan DAK Fisik belum ada realisasi, sementara realisasi Insentif fiskal adalah nihil karena pada tahun 2026 tidak terdapat pagu anggaran untuk Insentif Fiskal. Terkait hibah, total pendapatan hibah yang diterima oleh satuan kerja vertikal sampai dengan 28 Februari 2026 sebanyak 16 hibah dengan total nilai sebesar Rp48,308 miliar. Hibah tersebut digunakan untuk menunjang pencapaian program pada Kementerian Agama, Pertahanan dan Kepolisian RI serta Kejaksaan. Lisbon juga menjelaskan kinerja APBD Banten sampai dengan 28 Februari 2026, pendapatan daerah terkontraksi sebesar 5,74% dan Belanja Daerah juga terkontraksi sebesar 18,95%. TKD yang telah disalurkan ke Provinsi Banten sampai dengan 28 Februari 2026 sebesar Rp3,65 triliun atau sebesar 67,83% dari total pendapatan Banten.
Kinerja Penerimaan Pajak
Aim Nursalim Saleh, Kepala Kanwil DJP Banten menyampaikan informasi tentang penerimaan pajak Provinsi Banten hingga 28 Februari 2026. Menurutnya, penerimaan pajak telah mencapai sebesar Rp10,76 triliun atau 11,44% dari target APBN 2026 sebesar Rp94,07 triliun atau tumbuh 12,63% dibandingkan tahun sebelumnya. Aim menjelaskan realisasi penerimaan pajak ditopang oleh jenis pajak PPN Dalam Negeri sebesar 70,34% dan PPh Non Migas sebesar 36,89. Dari sisi sektoral terdapat 7 sektor usaha yang mengalami pertumbuhan (yoy) antara lain industry pengolahan (21,34%), perdagangan (34,25), konstruksi (49,36%), aktivitas pengangkutan (26,68%), aktivitas penyewaan (34,46%), aktivitas professional (51,79%), dan Administrasi Pemerintahan (81,57%). Aim juga menyampaikan penerimaan pajak netto seluruh KPP di lingkungan Kanwil DJP Banten tumbuh positif. Capaian tertinggi diraih KPP Pratama Pondok Aren sebesar 8,25% dan pertumbuhan terbaik diraih oleh KPP Pratama Cilegon sebesar 253,72%.
Kinerja Penerimaan Kepabeanan dan Cukai
Muhammad Hakim Satria, Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kanwil DJBC Banten menyampaikan informasi tentang penerimaan Kepabeanan dan Cukai Provinsi Banten hingga 28 Februari 2026. Penerimaan Kepabeanan dan Cukai mencapai Rp2.014,38 miliar, memenuhi 11,64% dari target tahunan APBN 2025 sebesar Rp17,29 triliun atau sedikit mengalami kontraksi sebesar 2,16%. Hakim menjelaskan penerimaan Kepabeanan dan Cukai ini terdiri dari Bea Masuk, Cukai, dan Bea Keluar. Untuk Bea Masuk mencapai Rp1.456,24 miliar, dipengaruhi oleh penurunan importasi atas komoditi kimia dasar organik yang bersumber dari minyak, biji kakao, makanan olahan lainnya, media magnetic dan optik serta biji besi. Sementara untuk Cukai mencapai Rp553,02 miliar, didorong oleh kenaikan target yang cukup signifikan di tahun 2026. Penerimaan cukai pada Februari 2026 meningkat dibanding tahun sebelumnya walaupun masih terdapat penurunan produksi pada beberapa pabrik MMEA. Hal lainnya, untuk Bea keluar mencapai Rp5,11 miliar dipengaruhi fluktuasi harga komoditas kelapa sawit dan produk turunan pengolahannya. Hakim juga menyampaikan kinerja Neraca Perdagangan Februari 2026, Ekspor tercatat USD 1,00 miliar dan impor tercatat USD 4,40 miliar. Neraca Perdagangan Februari 2026 tersebut dipengaruhi oleh penurunan nilai ekspor pada barang perhiasan dan barang berharga, mesin untuk keperluan khusus, dan pesawat udara dan bagiannya. Sementara untuk penurunan nilai importasi yang didominasi komputer dan perlengkapan komputer, logam dasar mulia, dan peralatan komunikasi.
Kinerja Pengelolaan Aset di Banten sampai dengan 28 Februari 2026
Kusuma Santi Wahyuningsih Kepala Kanwil DJKN Banten, menyampaikan kinerja pengelolaan aset negara di wilayah Banten sampai dengan 28 Februari 2026. Pengelolaan aset negara di Banten mencakup Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari Kekayaan Negara, Piutang dan Lelang. Kinerja Kanwil DJKN Banten pada Februari 2026 mengalami kontraksi dalam pengelolaan kekayaan negara. Total Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari pengelolaan aset, lelang, dan piutang negara hingga 28 Februari 2026 mencapai Rp11,21 miliar atau 11,99% dari target tahunan, terkontraksi sebesar 19,47% dibanding tahun sebelumnya pada periode yang sama dengan kontribusi utama berasal dari lelang sebesar Rp7,39 miliar. Santi menjelaskan terkait lelang, realisasi PNBP Lelang mencapai Rp7,39 miliar (263% dari target tahun 2026 sebesar Rp2,81 miliar) terkontraksi 20,84%. Namun capaian pada Februari 2026 masih positif sebesar 14,53% dari target tahun 2026 sebesar 50,88 miliar dengan kontribusi terbesar dari KPKNL Tangerang I dan KPKNL Serang. Untuk realisasi PNBP Piutang Negara sampai dengan 28 Februari 2026 sebesar Rp31,85 juta, atau sebesar 49,57% dari target Februari 2026.
Realisasi pada Februari 2026 yang berasal dari penyerah piutang dari Kementerian/Lembaga sedangkan untuk Pemerintah Daerah belum ada realisasi sampai dengan 28 Februari 2026. Santi juga menyampaikan Realisasi PNBP BMN tercatat sebesar Rp3,78 miliar (100,51% dari target sampai dengan 28 Februari 2026). Komposisi PNBP dari KPKNL Serang sebesar 2,45 miliar (65%) dari KPKNL Tangerang I sebesar 1,15 miliar (30%) dan dari KPKNL Tangerang II sebesar 0,18 miliar (5%). BMN Provinsi Banten menyumbang Rp122,78 Triliun atau 1,75% dari total keseluruhan Nilai BMN Nasional. Hal ini semakin memperkuat Fondasi Layanan Publik. Nilai BMN terbesar berasal dari Tanah dengan total nilai Rp61,44 triliun, disusul peralatan dan mesin, dan Jalan Irigasi, dan Jaringan. Selain itu, Santi menjelaskan hingga 28 Februari 2026, total underlying asset di Provinsi Banten mencapai Rp24,39 triliun atau 24,86% dari total nilai BMN di provinsi Banten. Underlying asset di Provinsi Banten terdiri dari BMN berupa Tanah sebesar Rp23,7 triliun (97%) dan BMN berupa Bangunan sebesar Rp0,65 triliun (3%). BMN Underlying Asset dari nilainya didominasi oleh BMN pada Kementerian Perhubungan (Rp11,47 triliun). Sedangkan dari jumlah BMN Underlying Asset juga didominasi oleh BMN pada Kementerian PU (25 NUP).


