Silaturahmi Mudik Lebaran: Dinamo Ekonomi Jawa Timur dan Energi bagi APBN

Penulis: Satria | Kanwil DJPb Jawa Timur
Tradisi mudik Lebaran bukan sekadar perjalanan pulang kampung. Di Jawa Timur, momen silaturahmi ini menjelma menjadi penggerak utama roda ekonomi daerah sekaligus stimulus nyata bagi kinerja APBN. Ramadan dan Idulfitri 2026 memberikan bagaimana aktivitas sosial masyarakat mampu menciptakan denyut ekonomi yang luas, dari sektor transportasi, energi, perdagangan, hingga dukungan fiskal pemerintah.
Lonjakan mobilitas masyarakat selama mudik tercermin dari meningkatnya pergerakan penumpang angkutan umum di Jawa Timur yang mencapai sekitar 7,7 juta orang, atau naik 5,19% dibanding tahun sebelumnya. Kereta api, bus, moda udara, penyeberangan, hingga angkutan laut menjadi tulang punggung arus mudik dan balik. Kesiapan ribuan armada bus, ratusan rangkaian kereta, pesawat, dan kapal menunjukkan betapa sektor transportasi berperan strategis dalam menjaga kelancaran silaturahmi antarwilayah. Tidak hanya memudahkan masyarakat, tingginya mobilitas ini juga memicu aktivitas ekonomi di simpul-simpul transportasi, seperti terminal, stasiun, bandara, dan pelabuhan.
Di balik ramainya perjalanan, sektor energi bekerja tanpa henti. Konsumsi BBM jenis bensin dan LPG di Jawa Timur meningkat signifikan selama periode Lebaran, mencerminkan melonjaknya aktivitas perjalanan dan konsumsi rumah tangga. Pertalite dan gasoline tumbuh lebih dari 15%, sementara LPG rumah tangga naik sekitar 4%. Sebaliknya, penurunan konsumsi solar industri menandakan berkurangnya aktivitas logistik saat libur panjang—sebuah pola musiman yang wajar. Ketersediaan energi yang terjaga ini tidak hanya menjamin kenyamanan masyarakat, tetapi juga menjaga stabilitas harga dan mendukung aktivitas ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Dari sisi perdagangan, peningkatan permintaan selama Ramadan dan Lebaran memberi peluang besar bagi UMKM dan pedagang pasar rakyat. Pemerintah Provinsi Jawa Timur berhasil menjaga harga sebagian besar kebutuhan pokok tetap di bawah HET, meskipun beberapa komoditas seperti cabai rawit merah sempat mengalami kenaikan akibat faktor cuaca. Program pasar murah, pengawasan harga, dan kelancaran distribusi menjadi penopang daya beli masyarakat. Aktivitas belanja Lebaran pun menyebar luas, menghidupkan ekonomi lokal hingga ke daerah tujuan mudik.
Menariknya, geliat ekonomi mudik juga selaras dengan peran APBN sebagai peredam gejolak dan pendorong pertumbuhan. Kebijakan penurunan harga tiket pesawat melalui PPN Ditanggung Pemerintah, diskon layanan kebandarudaraan, dan penyesuaian fuel surcharge menjadi contoh bagaimana APBN hadir langsung meringankan beban masyarakat. Di saat yang sama, belanja masyarakat selama Lebaran turut meningkatkan penerimaan pajak tidak langsung dan menggerakkan sirkulasi uang di daerah.
Pada akhirnya, silaturahmi Lebaran di Jawa Timur bukan hanya soal temu kangen, tetapi juga tentang ekonomi yang bergerak bersama. Mudik menghubungkan keluarga, menghidupkan usaha lokal, menjaga stabilitas harga, dan memperlihatkan sinergi nyata antara masyarakat, pemerintah daerah, BUMN, dan APBN. Dari jalan tol hingga pasar tradisional, dari SPBU hingga bandara, Lebaran menjadi bukti bahwa kebersamaan mampu menjadi kekuatan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.




