“RESILIENSI EKONOMI JAWA TIMUR TETAP TERJAGA, APBN TERUS MENJADI PENOPANG STABILITAS DAN PENGGERAK PERTUMBUHAN”
Surabaya, 22 Juni 2026 - Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Timur bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyelenggarakan Media Briefing Triwulan II Tahun 2026 yang bertempat di Kantor OJK Provinsi Jawa Timur, Surabaya, pada Senin (22/6) mulai pukul 09.30 WIB sampai dengan selesai. Mengusung tema “Sinergi Memperkuat Stabilitas untuk Mendukung Ketahanan Ekonomi Jawa Timur dalam Mewujudkan Indonesia Tangguh dan Mandiri”, kegiatan ini menjadi sarana penyampaian perkembangan terkini perekonomian, sektor jasa keuangan, kebijakan fiskal, dan kebijakan moneter di Jawa Timur kepada insan media dan masyarakat.
Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Timur menyampaikan bahwa hingga 31 Mei 2026 perekonomian Jawa Timur tetap menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah dinamika global yang masih diwarnai ketidakpastian geopolitik dan perdagangan internasional. Stabilitas harga yang terjaga, investasi yang terus tumbuh, serta dukungan APBN yang berkelanjutan menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah.
- KETAHANAN EKONOMI JAWA TIMUR TERJAGA DI TENGAH DINAMIKA GLOBAL
Beberapa indikator menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi nasional dan Jawa Timur tetap terjaga di tengah dinamika global, antara lain:
- Ketidakpastian global mulai menunjukkan tanda-tanda mereda yang tercermin dari penurunan berbagai indikator volatilitas global, antara lain VIX, MOVE, Dirty Tank Index, dan Trade Policy Uncertainty Index, sehingga menciptakan ruang yang lebih kondusif bagi aktivitas ekonomi dan perdagangan internasional.
- Di tengah dinamika global tersebut, ekonomi Indonesia pada Triwulan I Tahun 2026 tumbuh sebesar 5,61% (yoy), menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan ASEAN dan kelompok G20, dengan tingkat inflasi yang tetap terkendali sebesar 3,08% (yoy) pada Mei 2026.
- Kinerja sektor eksternal nasional tetap kuat yang ditunjukkan oleh surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut, dengan nilai ekspor Januari–April 2026 mencapai USD92,15 miliar atau tumbuh 5,48% (ctc) dan impor sebesar USD86,51 miliar atau tumbuh 13,4% (ctc) yang didominasi oleh barang modal dan bahan baku produktif.
- Kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga, tercermin dari arus modal asing yang kembali mencatatkan net inflow sebesar Rp32,8 triliun hingga awal Juni 2026.
- Perekonomian Jawa Timur tetap menunjukkan ketahanan yang kuat dengan inflasi Mei 2026 sebesar 0,28% (mtm) dan 3,49% (yoy), yang mencerminkan terjaganya stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
- Kesejahteraan petani Jawa Timur terus membaik yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 120,33 mencatat rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir, didukung oleh kinerja positif subsektor hortikultura.
- Aktivitas investasi Jawa Timur tetap tumbuh kuat dengan realisasi investasi Triwulan I Tahun 2026 mencapai Rp498,79 triliun atau tumbuh 7,22% (yoy), dengan industri logam dasar sebagai sektor investasi terbesar senilai Rp69,3 triliun atau 13,9% dari total investasi.
- Defisit neraca perdagangan Jawa Timur sebesar USD1,87 miliar pada periode Januari–April 2026 terutama dipengaruhi impor kumulatif sebesar USD10,39 miliar yang mayoritas berupa bahan baku industri yang mencapai 79,40% dari total impor, sementara ekspor kumulatif mencapai USD8,52 miliar didominasi industri pengolahan mencapai 94,32% dari total ekspor, yang menunjukkan penguatan kapasitas produksi dan industrialisasi daerah.
- Perkembangan Realisasi APBN Regional Jawa Timur
Realisasi Pendapatan Negara sampai dengan 31 Mei 2026 mencapai Rp106,08 triliun atau 35,13% dari target sebesar Rp301,95 triliun, tumbuh 7,33% (yoy). Pendapatan Negara terdiri dari Penerimaan Perpajakan sebesar Rp102,33 triliun atau 34,61% dari target Rp295,71 triliun dan PNBP sebesar Rp3,74 triliun atau 59,99% dari target Rp6,24 triliun. Penerimaan Perpajakan terdiri dari Penerimaan Pajak sebesar Rp46,86 triliun atau 32,42% dari target Rp144,53 triliun dan penerimaan Kepabeanan dan Cukai sebesar Rp55,48 triliun atau 36,70% dari target Rp151,17 triliun. Realisasi Penerimaan Pajak tumbuh 16,24% (yoy), Kepabeanan dan Cukai tumbuh 0,68% (yoy), sedangkan PNBP tumbuh 9,55% (yoy). Sementara itu, Realisasi Belanja Negara mencapai Rp48,52 triliun atau 42,92% dari pagu Rp113,04 triliun, yang terdiri atas Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp18,56 triliun dan Transfer ke Daerah sebesar Rp29,96 triliun. Dengan perkembangan tersebut, APBN Regional Jawa Timur mencatatkan surplus sebesar Rp57,56 triliun..
- Pendapatan Negara
- Penerimaan Pajak
- Penerimaan pajak sampai dengan Mei 2026 secara bruto mencapai Rp52,27 triliun atau tumbuh 9,39% (yoy), sedangkan secara neto mencapai Rp46,86 triliun atau tumbuh 16,24% (yoy), yang mencerminkan aktivitas ekonomi regional yang tetap terjaga.
- Penerimaan pajak neto ditopang oleh PPh Badan sebesar Rp7,3 triliun yang tumbuh 15,65% (yoy), PPh Orang Pribadi dan PPh Pasal 21 sebesar Rp5,2 triliun yang tumbuh 10,84% (yoy), serta PPN dan PPnBM sebesar Rp22,11 triliun yang tumbuh 2,85% (yoy). Pertumbuhan pada kelompok penerimaan utama tersebut menunjukkan bahwa aktivitas usaha, konsumsi masyarakat, dan penghasilan wajib pajak masih terjaga dengan baik.
- Pertumbuhan penerimaan pajak neto hingga Mei 2026 mencapai 16,24% (yoy), meningkat dibandingkan Januari (8,82%), Februari (14,69%), Maret (10,12%), dan April (10,62%), yang menunjukkan tren penerimaan pajak yang terus menguat sepanjang tahun 2026.
- Empat sektor utama yaitu industri pengolahan, perdagangan, transportasi dan pergudangan, serta administrasi pemerintahan berkontribusi sebesar 85,2% terhadap penerimaan pajak bruto Jawa Timur dan seluruhnya mencatatkan pertumbuhan positif.
- Industri pengolahan sebagai kontributor terbesar mencatatkan penerimaan bruto Rp29,10 triliun dengan pertumbuhan 6,41% (yoy), sementara sektor perdagangan tumbuh 15,72%, administrasi pemerintahan tumbuh 17,46%, serta transportasi dan pergudangan tumbuh 16,54% (yoy).
- Penerimaan Kepabenan dan Cukai
Realisasi penerimaan Kepabeanan dan Cukai sampai dengan Mei 2026 mencapai Rp55,48 triliun atau tumbuh 0,68% (yoy), terdiri dari:
- Cukai terealisasi sebesar Rp52,42 triliun atau 36,21% dari target APBN dan tumbuh 0,02% (yoy), dipengaruhi oleh peningkatan produksi hasil tembakau dan nilai cukai pada awal tahun.
- Bea Masuk terealisasi sebesar Rp2,80 triliun atau 46,37% dari target APBN dan tumbuh 15,87% (yoy), didorong oleh peningkatan nilai dan volume impor serta tingginya kurs pajak USD terhadap rupiah.
- Bea Keluar terealisasi sebesar Rp252,66 miliar atau 67,30% dari target APBN dan mengalami kontraksi 6,50% (yoy), terutama dipengaruhi oleh penurunan harga CPO di pasar global.
- Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
Realisasi PNBP sampai dengan Mei 2026 mencapai Rp3,74 triliun atau 59,99% dari target APBN dan tumbuh 9,55% (yoy).
- PNBP Lainnya terealisasi sebesar Rp2,04 triliun atau 79,52% dari target dan tumbuh 16,58% (yoy), terutama didukung oleh penerimaan kembali belanja modal tahun anggaran yang lalu serta layanan pertanahan dan STNK.
- PNBP Badan Layanan Umum (BLU) terealisasi sebesar Rp1,70 triliun atau 46,38% dari target dan tumbuh 2,19% (yoy). Pendapatan BLU didominasi oleh jasa pelayanan pendidikan dan jasa pelayanan kesehatan yang menjadi kontributor utama PNBP BLU di Jawa Timur
- Belanja Negara
Realisasi Belanja Negara sampai dengan 31 Mei 2026 mencapai Rp48,52 triliun atau 42,92% dari pagu sebesar Rp113,04 triliun dan tumbuh 1,27% (yoy). Belanja Negara terdiri atas Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp18,56 triliun atau 37,90% dari pagu Rp48,97 triliun dan Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp29,96 triliun atau 46,76% dari pagu Rp64,07 triliun. Kinerja belanja negara yang terus meningkat menunjukkan peran APBN dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mendukung pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah.
- Belanja Pemerintah Pusat
Realisasi Belanja Pemerintah Pusat (BPP) sampai dengan Mei 2026 mencapai Rp18,56 triliun atau 37,90% dari pagu dan tumbuh signifikan sebesar 32,27% (yoy). Percepatan realisasi belanja menunjukkan peningkatan kualitas pelaksanaan anggaran yang diharapkan dapat mengakselerasi aktivitas ekonomi sejak awal tahun.
- Belanja Pegawai terealisasi sebesar Rp11,65 triliun atau 43,47% dari pagu dan tumbuh 18,09% (yoy), antara lain didorong oleh pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) sebesar Rp875,31 miliar serta percepatan pembayaran tunjangan tenaga pendidik non-PNS sebesar Rp1,11 triliun.
- Belanja Barang terealisasi sebesar Rp3,86 triliun atau 28,18% dari pagu dan tumbuh 20,00% (yoy), terutama digunakan untuk operasional Badan Layanan Umum sebesar Rp965,07 miliar, belanja operasional perkantoran sebesar Rp847,61 miliar, serta belanja barang yang diserahkan kepada masyarakat sebesar Rp251,6 miliar.
- Belanja Modal terealisasi sebesar Rp3,04 triliun atau 36,01% dari pagu dan tumbuh sangat tinggi sebesar 247,73% (yoy). Belanja ini antara lain digunakan untuk pembangunan gedung dan bangunan sebesar Rp1,92 triliun serta jalan, irigasi, dan jaringan sebesar Rp700,49 miliar guna mendukung konektivitas, ketahanan pangan, dan pelaksanaan program prioritas pemerintah termasuk Sekolah Rakyat.
- Transfer Ke Daerah
Realisasi Transfer ke Daerah (TKD) sampai dengan Mei 2026 mencapai Rp29,96 triliun atau 46,76% dari pagu Rp64,07 triliun. Secara persentase, capaian penyaluran TKD lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 40,56%.
- Dana Alokasi Umum (DAU) telah tersalurkan sebesar Rp18,74 triliun atau 48,75% dari pagu.
- Dana Alokasi Khusus (DAK) mencapai Rp7,75 triliun atau 44,98% dari pagu, terdiri atas DAK Fisik sebesar Rp17,49 miliar dan DAK Nonfisik sebesar Rp7,73 triliun
- Dana Bagi Hasil (DBH) terealisasi sebesar Rp1,78 triliun atau 30,77% dari pagu.
- Dana Desa telah tersalurkan sebesar Rp1,69 triliun atau 64,57% dari pagu.
- DUKUNGAN APBN TERHADAP PROGRAM PRIORITAS
APBN terus mendukung berbagai program prioritas pemerintah yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat dan pembangunan sumber daya manusia.
- Ketahanan Pangan
Realisasi anggaran Ketahanan Pangan APBN wilayah Jawa Timur sampai dengan 31 Mei 2026 mencapai Rp307,86 miliar atau tumbuh 51,17% (yoy), didukung peningkatan pagu anggaran menjadi Rp2,87 triliun sebagai bentuk penguatan komitmen pemerintah terhadap Ketahanan Pangan Nasional. Anggaran tersebut dimanfaatkan antara lain untuk pembangunan prasarana jaringan sumber daya air sepanjang 1.143 kilometer, pengembangan 2 bendungan, fasilitasi pupuk dan pestisida bagi 985.568 petani, pengembangan kawasan tanaman semusim seluas 56.050 Ha dan kawasan aneka palma seluas 5.050 Ha, peningkatan produksi ternak sebanyak 2.400 ekor, pelatihan bidang pertanian dan perikanan bagi 1.260 orang, bantuan 5,5 juta benih ikan air payau, bantuan 7.571 benih untuk pengelolaan budidaya rumput laut, serta bantuan 30 unit peralatan budidaya ikan air payau. Dukungan tersebut turut memperkuat posisi Jawa Timur sebagai produsen padi terbesar nasional dengan produksi mencapai 7,71 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).
- Kesehatan
Realisasi anggaran fungsi kesehatan sampai dengan 31 Mei 2026 mencapai Rp1,12 triliun atau 40,37% dari pagu Rp2,79 triliun dan tumbuh 13,75% (yoy). Anggaran tersebut dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan dan perlindungan kesehatan masyarakat melalui Program Pelayanan Kesehatan Lanjutan dan Pelayanan Kesehatan Primer, antara lain melalui pelatihan bagi 597 tenaga kesehatan, perbaikan sarana kesehatan pada 19 rumah sakit, fasilitasi dan pembinaan kepada 219.089 keluarga, serta pengawasan dan pengendalian terhadap 1.449 produk obat dan makanan. Dukungan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, memperbaiki sarana dan prasarana kesehatan, memperkuat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat, serta menjamin keamanan obat dan makanan bagi masyarakat Jawa Timur.
- Pendidikan
Realisasi anggaran fungsi pendidikan sampai dengan 31 Mei 2026 mencapai Rp6,67 triliun atau tumbuh signifikan sebesar 38,15% (yoy). Pertumbuhan realisasi tersebut didukung oleh kenaikan pagu anggaran menjadi Rp17,31 triliun sebagai bentuk penguatan komitmen pemerintah terhadap pembangunan sumber daya manusia. Anggaran pendidikan dimanfaatkan antara lain untuk pemberian bantuan pendidikan tinggi kepada 149.263 mahasiswa, bantuan wajib belajar kepada 300.529 siswa, peningkatan kompetensi bagi 67.897 guru madrasah, pembinaan terhadap 33 olahragawan muda, penyelenggaraan 13 kegiatan pelestarian warisan budaya, serta perbaikan 32 prasarana bidang pendidikan dasar dan menengah. Dukungan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas akses pembelajaran, serta memperkuat daya saing sumber daya manusia di Jawa Timur.
- Program Prioritas Presiden (Revitalisasi Sekolah dan Madrasah)
APBN juga mendukung pelaksanaan Program Prioritas Presiden di bidang pendidikan. Sampai dengan 31 Mei 2026, realisasi anggaran Program Sekolah Rakyat di Jawa Timur telah mencapai Rp1,97 triliun atau 62,62% dari pagu Rp3,14 triliun yang mendukung pembangunan pada 18 lokasi prioritas di berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur. Salah satu proyek yang sedang dipercepat adalah Sekolah Rakyat Jawa Timur 1 (Surabaya) yang ditargetkan tuntas pada 20 Juni 2026 dan siap digunakan pada Tahun Ajaran 2026/2027.
Selain itu, program Revitalisasi Sekolah dan Madrasah telah terealisasi sebesar Rp84,36 miliar atau 33,08% dari pagu Rp254,99 miliar dan telah mendukung revitalisasi 122 institusi pendidikan. Dukungan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperluas akses pendidikan yang berkualitas serta meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan guna mendukung pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
----------------------------------------------------------------
Kanwil DJPb Provinsi Jawa Timur
Surabaya, 22 Juni 2026






