
Pontianak – APBN terus menjadi instrumen utama dalam mendukung pelaksanaan berbagai program prioritas nasional di Provinsi Kalimantan Barat. Hingga Semester I Tahun 2026, sejumlah program strategis pemerintah menunjukkan perkembangan yang signifikan, mulai dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), Sekolah Rakyat, hingga pembiayaan usaha dan perumahan.
Hingga 22 Juli 2026, Program Makan Bergizi Gratis telah menjangkau 1.009.284 penerima manfaat melalui 510 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai wilayah Kalimantan Barat. Seiring meningkatnya cakupan program, Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Barat bersama Balai Diklat Keuangan Pontianak dan Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan mengembangkan aplikasi pelaporan keuangan KAPUAZ. Inovasi ini membantu SPPG dalam melaksanakan pembukuan, pencatatan transaksi, serta penyusunan laporan keuangan secara tertib dan akuntabel.
Selain MBG, Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) juga terus diperluas. Hingga 30 Juni 2026, sebanyak 441.240 masyarakat atau 7,6% dari total sasaran telah memanfaatkan layanan tersebut. Pemerintah terus mendorong optimalisasi pelaksanaan CKG di seluruh puskesmas serta memperkuat promosi dan kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat pencapaian target.
Di bidang pendidikan, Program Sekolah Rakyat telah memperoleh dukungan anggaran sebesar Rp2,9 miliar hingga Juni 2026. Dana tersebut digunakan untuk pengelolaan sekolah, penyediaan sarana dan prasarana, serta penyelenggaraan layanan pendidikan. Program telah berjalan di Kota Pontianak dan Kabupaten Ketapang serta didukung pembangunan prasarana pendidikan di Kabupaten Sambas dan Kabupaten Kubu Raya.
APBN juga memperkuat sektor kelautan melalui pengembangan Kampung Nelayan dengan realisasi anggaran lebih dari Rp6,05 miliar untuk perlindungan dan pemberdayaan nelayan. Sementara itu, usulan pengembangan Kampung Nelayan tahun 2026 masih dalam tahap identifikasi dan verifikasi di sejumlah daerah.
Dari sisi pembiayaan, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp2,60 triliun kepada 32.855 debitur atau 57,99% dari plafon tahun 2026. Kabupaten Sambas menjadi daerah dengan penyaluran KUR terbesar sebesar Rp298,65 miliar.
Program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) juga terus meningkatkan akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap rumah layak huni. Hingga Juni 2026, penyaluran FLPP mencapai Rp430,99 miliar kepada 3.289 debitur, sedangkan pembiayaan Ultra Mikro (UMi) telah terealisasi sebesar Rp78,10 miliar kepada 14.170 debitur.
Melalui berbagai program tersebut, APBN terus diarahkan untuk memperkuat layanan dasar, meningkatkan produktivitas masyarakat, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Kalimantan Barat.
































