NTB Pasca Tambang: Transformasi Ekonomi yang Mulai Terlihat”
(Opini oleh: Muhammad Lutfi Aziz, Pegawai Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi NTB, Foto oleh: PT Amman Mineral Internasional Tbk.)
Bayangkan sebuah daerah yang selama bertahun-tahun bertumpu pada satu mesin utama pertumbuhan: tambang. Ketika tambang berproduksi tinggi, pertumbuhan ekonomi tampak melesat, penerimaan negara dan daerah meningkat, lapangan kerja tercipta, dan optimisme tumbuh. Namun ketika tambang melambat, kontraksi pun seolah tak terhindarkan. Gambaran ini sangat relevan untuk Nusa Tenggara Barat (NTB), provinsi yang dalam satu dekade terakhir mengalami dinamika pertumbuhan ekonomi yang sangat dipengaruhi oleh sektor pertambangan.
Namun, Triwulan III tahun 2025 memberikan sinyal yang menarik. NTB mulai menunjukkan tanda-tanda transformasi ekonomi yang lebih beragam. Ketergantungan pada tambang perlahan diuji, dan sektor-sektor non-tambang mulai mengambil peran lebih besar. Pertanyaannya, apakah ini awal dari babak baru ekonomi NTB?
Pertumbuhan Ekonomi yang Tetap Bertahan di Tengah Kontraksi Tambang
Data Produksi Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi NTB pada Triwulan III Tahun 2025 menunjukkan bahwa ekonomi masih tumbuh positif sebesar 2,82% y-o-y. Angka ini memang tidak setinggi beberapa tahun sebelumnya ketika tambang menjadi motor utama, tetapi tetap mencerminkan daya tahan ekonomi regional di tengah tekanan sektor utama.
Yang menarik, sektor pertambangan justru mengalami kontraksi cukup dalam, yakni -21,53% y-o-y. Artinya, pertumbuhan ekonomi NTB saat ini tidak lagi sepenuhnya ditopang oleh tambang. Sebaliknya, sektor lain mulai muncul sebagai sumber pertumbuhan baru. Ini adalah sinyal penting bahwa diversifikasi ekonomi mulai berjalan, meskipun belum sepenuhnya ideal.
Industri Pengolahan: Lonjakan Hilirisasi yang Mengubah Struktur Ekonomi
Salah satu sorotan terbesar dalam kinerja ekonomi NTB Triwulan III 2025 adalah sektor industri pengolahan yang tumbuh sangat tinggi, mencapai 66,65% y-o-y. Pertumbuhan ini merupakan pertumbuhan paling tinggi dibanding seluruh lapangan usaha lainnya.
Lonjakan industri pengolahan ini didorong oleh mulai beroperasinya smelter atau fasilitas pengolahan mineral. Dengan kata lain, NTB tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah, tetapi mulai mengolahnya menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi.
Inilah esensi hilirisasi, mengubah sumber daya alam menjadi mesin industrialisasi. Dampaknya bukan hanya pada angka pertumbuhan, tetapi juga pada struktur ekonomi jangka panjang. Industri pengolahan membuka peluang rantai pasok baru, menciptakan permintaan tenaga kerja terampil, mendorong investasi turunan, serta memperluas basis penerimaan negara dan daerah.
Transformasi semacam ini penting karena tambang sebagai sektor ekstraktif memiliki karakter yang tidak berkelanjutan. Sumber daya terbatas, harga komoditas fluktuatif, dan manfaat ekonominya sering kali tidak merata. Sebaliknya, industri pengolahan memberi peluang ekonomi yang lebih inklusif dan berjangka panjang.
Pertanian dan Perdagangan: Penopang Stabil Ekonomi Domestik
Selain industri pengolahan, sektor dengan kontribusi terbesar dalam PDRB NTB masih berasal dari sektor tradisional seperti pertanian dan perdagangan. Sektor pertanian tumbuh positif sebesar 3,54% y-o-y, sementara sektor perdagangan tumbuh 4,24% y-o-y. Kedua sektor ini penting karena menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan langsung berkaitan dengan daya beli masyarakat. Pertanian NTB didorong oleh peningkatan produksi padi dan dubsektor perkebunan seperti tembakau. Perdagangan pun meningkat seiring aktivitas konsumsi masyarakat dan distribusi barang.
Artinya, meskipun tambang melemah, ekonomi NTB tidak jatuh sepenuhnya karena masih memiliki penyangga domestik yang relatif kuat. Ini menunjukkan bahwa pondasi ekonomi rakyat tetapi menjadi faktor stabilitas utama.
Dari Ekspor ke Konsumsi Rumah Tangga: Pergeseran Sumber Pertumbuhan
Jika dilihat dari sisi pengeluaran, sumber pertumbuhan ekonomi NTB Triwulan III Tahun 2025 paling besar berasal dari konsumsi rumah tangga, yang menjadi kontributor pertumbuhan tertinggi sebesar 2,62%.
Sementara itu, ekspor barang dan jasa justru mengalami kontraksi besar hingga -26,61% y-o-y. Hal ini sangat berkaitan dengan penurunan ekspor tambang mentah.
Pergeseran ini penting karena menunjukkan NTB yang mulai bergerak dari ekonomi berbasis ekspor komoditas ke ekonomi yang lebih bertumpu pada konsumsi domestik dan aktivitas sektor jasa. Ini bisa menjadi peluang, tetapi juga tantangan, karena konsumsi rumah tangga sangat dipengaruhi oleh daya beli, inflasi, dan kualitas lapangan kerja.
Tantangan Transformasi: Jangan Sampai Hilirisasi Menjadi Enclave Baru
Meskipun hilirisasi memberikan harapan baru, NTB harus berhati-hati agar industri pengolahan tidak menjadi enclave ekonomi, tumbuh tinggi tetapi tidak menyebar manfaatnya ke masyarakt luas.
Risiko yang perlu diantisipasi oleh pemerintah daerah antara lain:
- Keterbatasan tenaga kerja terampil lokal, sehingga pekerjaan strategis diisi tenaga kerja luar daerah,
- Keterkaitan industri dengan UMKM lokal masih lemah, sehingga multiplier effect tidak maksimal,
- Ketergantungan baru pada industri smelter, yang tetap berbasis komoditas tambang,
- Tekanan lingkungan dan sosial, jika ekspansi industri tidak dikelola secara berkelanjutan.
Karena itu, transformasi ekonomi NTB harus dirancang tidak hanya sebagai perubahan sektor, tetapi sebagai perubahan ekosistem pembangunan.
Arah Kebijakan: Memperkuat Diversifikasi Ekonomi NTB
Agar NTB benar-benar lepas dari ketergantungan tambang, beberapa agenda strategis perlu diperkuat, antara lain:
- Pengembangan industri turunan berbasis pertanian dan perikanan,
- Peningkatan kualitas SDM untuk mendukung industrialisasi,
- Penguatan pariwisata sebagai sektor jasa unggulan,
- Optimalisasi belanja pemerintah daerah agar mendukung ekonomi produktif,
- Penguatan UMKM dan koperasi sebagai rantai pasok industri baru.
Transformasi ekonomi tidak terjadi otomatis, tetapi membutuhkan perencanaan, kebijakan fiskal yang tepat, dan sinergi antara pusat dan daerah.
Awal Jalan Panjang Menuju NTB yang Lebih Berimbang
Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi NTB. Kontraksi tambang tidak lagi otomatis menjatuhkan ekonomi, karena sektor lain mulai mengambil peran. Industri pengolahan tumbuh pesat, pertanian dan perdagangan tetap menopang, dan konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan utama.
Namun, transformasi ini masih awal. NTB belum sepenuhnya keluar dari bayang-bayang tambang, tetapi tanda-tanda diversifikasi mulai nyata. Jika momentum ini dijaga dengan kebijakan yang tepat, NTB memiliki peluang besar untuk membangun ekonomi yang lebih berimbang, inklusif, dan berkelanjutan. NTB pasca tambang bukan sekedar wacana, melainkan proses yang kini mulai terlihat.


