Halo, Sobat Malaqbi’ 🙌🏻
Dalam rangka penyampaian informasi perkembangan APBN di Sulawesi Barat kepada publik. Pada *Jumat, 27 Februari 2026* , Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Barat menyelenggarakan *Media Briefing Perkembangan Realisasi APBN Regional Sulawesi Barat s.d. 31 Januari 2026* yang berlangsung di Aula Lantai 3 Kanwil DJPb Sulbar.
Kegiatan ini dihadiri oleh unit vertikal Kementerian Keuangan di Sulawesi Barat, yaitu KPPN Mamuju, KPP Pratama Mamuju, dan KPKNL Mamuju. Hadir pula Local Expert Ekonomi dan Fiskal Kanwil DJPb Sulbar, perwakilan pemerintah daerah seperti BPKAD Provinsi Sulawesi Barat, Biro Ekbang Provinsi Sulawesi Barat, serta BPKAD Kabupaten Mamuju. Turut hadir rekan-rekan media dari RRI Mamuju, Tribun Sulbar, dan Radar Sulbar.
Melalui kegiatan ini, perkembangan APBN disampaikan sebagai bagian dari transparansi fiskal sekaligus gambaran kondisi ekonomi daerah di awal tahun 2026.
📊 Kinerja APBN Sulawesi Barat (s.d. 31 Januari 2026)
Di awal tahun, pendapatan dan hibah terealisasi sebesar Rp64,63 miliar (4,61% dari target) dan mengalami kontraksi 50,68% (yoy). Sementara itu, belanja negara telah mencapai Rp897,58 miliar (10,36% dari pagu) dengan pertumbuhan 11,23% (yoy).
Dengan perkembangan tersebut, APBN Regional Sulawesi Barat mencatatkan defisit Rp832,94 miliar, yang umumnya terjadi pada awal tahun karena belanja pemerintah mulai berjalan lebih cepat dibanding penerimaan.
💰 Pendapatan APBN Sulawesi Barat
Pendapatan negara masih didominasi oleh penerimaan perpajakan sebesar Rp51,84 miliar (3,97% dari target).
Kontributor terbesar berasal dari bea keluar sebesar Rp19,66 miliar atau 37,93% dari total penerimaan perpajakan.
Namun demikian, penerimaan bea keluar mengalami penurunan 71,01% (yoy) yang dipengaruhi oleh penurunan harga referensi CPO di pasar global, dari USD1.059,54/MT pada Januari 2025 menjadi USD915,64/MT pada Januari 2026.
🏛 Belanja APBN Sulawesi Barat
Belanja negara di Sulawesi Barat menunjukkan kinerja yang tetap tumbuh 11,23% (yoy). Pertumbuhan ini didorong oleh:
• Belanja Pemerintah Pusat (BPP) yang meningkat 17,64% (yoy)
• Transfer ke Daerah (TKD) yang tumbuh 10,29% (yoy)
Realisasi BPP didominasi oleh belanja pegawai Rp96,95 miliar dan belanja barang Rp24,97 miliar.
Sementara itu, peningkatan TKD dipengaruhi oleh penyaluran DAU Block Grant periode Januari 2026 kepada seluruh pemerintah daerah di Sulawesi Barat, serta penyaluran DAK Non Fisik, khususnya Tunjangan Guru ASN Daerah (ASND).
Pada akhirnya, meskipun penerimaan negara di awal tahun mengalami tekanan, belanja negara tetap hadir untuk menjaga aktivitas ekonomi daerah, mendukung pelayanan publik, dan memperkuat pembangunan di Sulawesi Barat. Optimalisasi penerimaan negara serta percepatan dan peningkatan kualitas belanja menjadi langkah penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah sepanjang tahun 2026.
#IndonesianTreasury
#djpbsulbar
#APBNHadir
#APBNKiTa




Pendapatan APBN di Sulawesi Barat hingga 31 Oktober 2025 mencapai Rp1.060,13 miliar atau 88,02 persen dari target sebesar Rp1.204,41 miliar. Capaian tersebut didominasi oleh kinerja pajak perdagangan internasional yang tumbuh positif, khususnya bea keluar yang mencapai Rp386,37 miliar. Peningkatan bea keluar disebabkan oleh adanya kegiatan ekspor CPO dan turunannya pada KPPBC Pantoloan dan KPPBC Parepare yang mendorong peningkatan penerimaan bea keluar terjadi seiring dengan naiknya harga referensi CPO dan turunannya, dari USD954,71/MT pada September 2025 menjadi USD963,61/MT pada Oktober 2025. Sejalan dengan kinerja pajak perdagangan internasional, kinerja PNBP di Sulawesi Barat juga menunjukkan tren yang positif, dengan realisasi sebesar Rp186,30 miliar. Hal tersebut didominasi oleh pendapatan biaya Pendidikan dari Unsulbar, STAIN Majene, dan Poltekkes Mamuju sebesar Rp54,35 miliar. 


