APBN Terus Menopang Stabilitas dan Pembangunan Sulawesi Tengah di Tengah Tantangan Global
Posisi data s.d. 28 Februari 2026
Perekonomian dan fiskal Provinsi Sulawesi Tengah pada awal tahun 2026 menunjukkan kinerja yang relatif terjaga di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. Gejolak geopolitik internasional masih berdampak pada aktivitas ekspor-impor, khususnya komoditas mineral, yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah. Namun demikian, dukungan kebijakan fiskal melalui APBN dan sinergi dengan APBD tetap berperan penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, serta keberlanjutan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di Sulawesi Tengah.
Hingga posisi data s.d. 28 Februari 2026, realisasi APBN di Sulawesi Tengah mencatatkan total pendapatan negara sebesar Rp1,07 triliun atau 11,96 persen dari target. Pendapatan tersebut didominasi oleh penerimaan perpajakan sebesar Rp863,68 miliar, sementara Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) terealisasi sebesar Rp209,27 miliar atau 23,31 persen dari target, dengan pertumbuhan yang tinggi secara tahunan. Di sisi belanja, APBN telah direalisasikan sebesar Rp3,98 triliun atau 19,13 persen dari pagu. Dengan demikian, APBN di Sulawesi Tengah mengalami defisit sebesar Rp2,90 triliun, yang mencerminkan peran fiskal ekspansif pemerintah dalam mendorong aktivitas ekonomi di awal tahun.
Belanja negara di Sulawesi Tengah sebagian besar disalurkan melalui Belanja Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKD) yang hingga Februari 2026 telah terealisasi sebesar Rp2,93 triliun. Penyaluran TKD mencapai 20,97 persen dari total alokasi tahun 2026 sebesar Rp13,96 triliun. Jenis TKD yang telah disalurkan antara lain Dana Bagi Hasil sebesar Rp116,45 miliar, Dana Alokasi Umum sebesar Rp2,19 triliun, serta Dana Alokasi Khusus Nonfisik sebesar Rp611,85 miliar. Sementara itu, Dana Alokasi Khusus Fisik dan Dana Desa belum terealisasi karena masih menunggu penetapan alokasi dan petunjuk teknis penyalurannya.
Selain TKD, belanja pemerintah pusat juga diarahkan untuk mendukung pelayanan publik dan pembangunan infrastruktur. Realisasi belanja pegawai digunakan antara lain untuk pembayaran gaji, tunjangan, serta tunjangan hari raya aparatur negara, TNI, dan Polri. Belanja barang dimanfaatkan untuk mendukung layanan transportasi, keamanan, dan pelayanan masyarakat, sedangkan belanja modal difokuskan pada penambahan dan pemeliharaan infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan. Hingga Februari 2026, belum terdapat realisasi belanja bantuan sosial, sehingga pelaksanaannya menjadi perhatian pada periode berikutnya.
Dari sisi APBD, kinerja fiskal daerah juga menunjukkan dinamika tersendiri. Pendapatan daerah Sulawesi Tengah sampai dengan 28 Februari 2026 terealisasi sebesar Rp2,08 triliun atau 9,79 persen dari target, dengan kontraksi secara tahunan. Struktur pendapatan daerah masih sangat bergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat yang mencapai Rp1,84 triliun atau 88,54 persen dari total pendapatan daerah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) tercatat sebesar Rp233,57 miliar atau 11,24 persen dari total pendapatan, mencerminkan tingkat kemandirian fiskal daerah yang masih perlu terus diperkuat.
Belanja daerah telah terealisasi sebesar Rp1,26 triliun atau 5,60 persen dari pagu, dengan dominasi belanja operasi yang mencapai 93,77 persen dari total belanja daerah. Belanja pegawai menjadi komponen terbesar, mencerminkan kebutuhan pembiayaan rutin pemerintahan daerah, namun juga menjadi perhatian agar tetap selaras dengan ketentuan pengelolaan keuangan daerah. Realisasi belanja modal masih sangat terbatas, sehingga percepatan pada periode selanjutnya diharapkan dapat memperkuat dampak APBD terhadap pertumbuhan ekonomi dan peningkatan layanan publik.
Kondisi makroekonomi Sulawesi Tengah tetap terjaga. Pada triwulan IV 2025, ekonomi Sulawesi Tengah tumbuh sebesar 9,43 persen secara tahunan, jauh di atas pertumbuhan nasional. Namun demikian, inflasi pada Februari 2026 tercatat sebesar 5,33 persen (yoy), masih berada di atas target nasional, sehingga pengendalian harga tetap menjadi agenda penting. Dari sisi kesejahteraan, tingkat kemiskinan masih berada di atas rata-rata nasional, meskipun ketimpangan pendapatan menunjukkan tren menurun, tercermin dari rasio gini yang membaik.
Kedepan, Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Tengah terus berkomitmen untuk mengawal pelaksanaan APBN agar tetap akuntabel, tepat sasaran, dan responsif terhadap dinamika ekonomi. Sinergi yang erat dengan pemerintah daerah serta seluruh pemangku kepentingan akan terus diperkuat guna memastikan bahwa belanja negara dan transfer ke daerah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, menjaga stabilitas, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah secara berkelanjutan di tahun 2026.
|
Narahubung Media : |
|
|
|
|
||
|
Tim Kehumasan Kanwil DJPb Provinsi Sulawesi Tengah |
✆ 082242455951 (Meysaf Arlingga Wijayanto) 🖂 Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. |
|

Kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia telah dirilis oleh BPS pada awal bulan ini. Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sedikit melambat menjadi 4,86% (yoy) di Triwulan I 2025, di bawah asumsi KEM PPKF 2025 yang di kisaran 5,1% - 5,5% (yoy). Dinamika perang dagang global, pelemahan daya beli domestik, dan keluarnya investasi asing menjadi beberapa penyebab utama melambatnya pertumbuhan ekonomi kita. 