OPINI
Refleksi Human Literacy di Era Society 5.0
Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan menghasilkan karya. Jika sebelumnya teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu, saat ini AI telah mampu melakukan berbagai pekerjaan yang sebelumnya identik dengan kemampuan manusia, seperti menulis, membuat gambar, menerjemahkan bahasa, merangkum informasi, menganalisis data, hingga membantu menyusun berbagai jenis karya. Perkembangan tersebut membuat AI tidak lagi menjadi sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari, tetapi telah menjadi bagian dari aktivitas manusia, termasuk dalam dunia pendidikan.
Fenomena tersebut semakin relevan di Indonesia. Pada 12 Maret 2026, pemerintah menetapkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tujuh menteri mengenai pedoman pemanfaatan dan pembelajaran teknologi digital serta kecerdasan artifisial pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Kebijakan ini menunjukkan bahwa perkembangan AI telah menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian tidak hanya dari individu, tetapi juga dari pemerintah dan institusi pendidikan. Tujuannya bukan sekadar mendorong penggunaan teknologi, melainkan memastikan bahwa pemanfaatannya berlangsung secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.
Fenomena tersebut kemudian membawa Saya pada sebuah pertanyaan sederhana, tetapi menurut Saya cukup penting: ketika AI semakin pintar, apakah manusia juga menjadi semakin humanis? Pertanyaan ini menjadi menarik karena kecanggihan teknologi tidak secara otomatis membuat manusia menjadi lebih baik. Manusia dapat memiliki teknologi yang semakin canggih, tetapi tetap kehilangan empati, kreativitas, tanggung jawab, bahkan kemampuan berpikir kritis apabila terlalu bergantung kepadanya. Oleh karena itu, perkembangan AI seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa banyak pekerjaan manusia yang dapat digantikan, tetapi juga dari bagaimana manusia mempertahankan nilai-nilai kemanusiaannya ketika hidup berdampingan dengan teknologi.
AI dalam Perspektif Industry 4.0 dan Society 5.0
Perkembangan AI merupakan salah satu bagian penting dari transformasi digital dalam era Industry 4.0. Teknologi semakin terintegrasi dengan kehidupan manusia melalui otomatisasi, analisis data, komputasi awan, dan sistem cerdas. Dalam konteks tersebut, manusia dituntut untuk memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Namun, konsep Society 5.0 memberikan perspektif yang berbeda. Society 5.0 tidak sekadar berbicara mengenai masyarakat yang semakin digital, tetapi menempatkan manusia sebagai pusat perkembangan teknologi. Pemerintah Jepang mendefinisikan Society 5.0 sebagai masyarakat yang berpusat pada manusia, dengan pemanfaatan teknologi untuk mencapai pembangunan ekonomi sekaligus menyelesaikan persoalan sosial. Dengan demikian, teknologi seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia, bukan menjadi tujuan akhir itu sendiri.
Jika prinsip tersebut diterapkan dalam penggunaan AI, maka pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan hanya “Apa yang bisa dilakukan AI?”, tetapi juga “Untuk apa manusia menggunakan AI?” Dua pertanyaan tersebut memiliki makna yang berbeda. Pertanyaan pertama berorientasi pada kemampuan teknologi, sedangkan pertanyaan kedua berorientasi pada nilai, tujuan, dan tanggung jawab manusia. Di sinilah menurut Saya letak pentingnya human literacy.
Ketika AI Membantu, dan Ketika AI Mulai Menggantikan
AI memberikan banyak manfaat bagi manusia. Dalam dunia pendidikan, misalnya, mahasiswa dapat menggunakan AI untuk memahami konsep yang sulit, mencari alternatif ide, memperoleh umpan balik terhadap tulisan, atau membantu menyusun struktur pembelajaran. AI juga dapat membantu seseorang bekerja lebih cepat dan membuka kesempatan bagi manusia untuk berkonsentrasi pada pekerjaan yang lebih kompleks.
UNESCO sendiri memandang AI sebagai teknologi yang memiliki peluang besar dalam pendidikan, tetapi menekankan bahwa penerapannya harus berpusat pada manusia. UNESCO menempatkan human agency, critical thinking, dan ethics sebagai kemampuan penting yang harus diperkuat dalam pendidikan di era AI. Artinya, AI seharusnya membantu meningkatkan kemampuan manusia, bukan menghilangkan kemampuan manusia untuk berpikir dan mengambil keputusan.
Permasalahan muncul ketika AI tidak lagi digunakan sebagai alat bantu, tetapi sebagai pengganti proses berpikir manusia. Misalnya, seorang mahasiswa mendapatkan tugas untuk menulis esai. Alih-alih menggunakan AI untuk berdiskusi atau memperoleh perspektif awal, seluruh proses mulai dari mencari ide, menyusun argumen, menulis, hingga menyimpulkan diserahkan kepada AI. Secara teknis, tugas tersebut mungkin selesai lebih cepat. Namun, apakah tujuan pembelajarannya juga tercapai?
Menurut Saya, jawabannya belum tentu. Pendidikan pada dasarnya tidak hanya menghasilkan tulisan atau jawaban yang benar, tetapi juga membentuk manusia yang mampu berpikir, mempertanyakan, menganalisis, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan pemikirannya. Jika seluruh proses tersebut diserahkan kepada AI, manusia mungkin mendapatkan hasil yang lebih cepat, tetapi kehilangan proses yang sebenarnya justru membentuk dirinya.
Human Literacy: Apa yang Tidak Bisa Digantikan AI?
Di sinilah konsep human literacy menjadi penting. Menjadi manusia yang literat tidak hanya berarti mampu membaca dan memahami informasi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memahami diri sendiri, orang lain, lingkungan sosial, serta nilai-nilai yang mendasari suatu tindakan. AI dapat menghasilkan kalimat yang terlihat empatik, tetapi AI tidak mengalami kesedihan manusia. AI dapat menjelaskan konsep kasih Sayang, tetapi tidak menjalani pengalaman mencintai dan kehilangan. AI dapat memberikan rekomendasi mengenai keputusan tertentu, tetapi manusia tetap harus mempertanggungjawabkan keputusan tersebut beserta dampaknya kepada manusia lain.
Dengan kata lain, AI dapat meniru ekspresi kemanusiaan, tetapi tanggung jawab moral tetap berada pada manusia. Hal inilah yang menurut Saya menjadi pembeda utama antara kecerdasan teknologi dan kemanusiaan. Manusia tidak hanya memiliki kemampuan untuk mengetahui sesuatu, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan apakah sesuatu tersebut baik, adil, pantas, dan bermanfaat bagi orang lain.
Perspektif ini juga sejalan dengan pandangan humanistik yang menempatkan manusia sebagai pribadi yang memiliki potensi untuk berkembang, memiliki kebebasan memilih, serta memiliki kebutuhan untuk menemukan makna dalam kehidupannya. Dalam konteks AI, manusia tidak seharusnya menilai dirinya hanya berdasarkan seberapa produktif ia dibandingkan mesin. Justru ketika teknologi semakin mampu melakukan pekerjaan manusia, manusia perlu kembali memahami nilai dirinya di luar sekadar produktivitas.
Tantangan terhadap Kemampuan Berpikir Kritis
Salah satu kekhawatiran terbesar dalam penggunaan AI adalah menurunnya kemampuan berpikir kritis. Ketika seseorang terbiasa mendapatkan jawaban instan, terdapat risiko munculnya kebiasaan menerima informasi tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Padahal, AI bukan sumber kebenaran yang selalu benar. AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, tidak lengkap, atau tidak sesuai konteks. Karena itu, kemampuan manusia untuk memeriksa sumber, membandingkan informasi, mempertanyakan asumsi, dan menarik kesimpulan secara mandiri menjadi semakin penting. UNESCO juga menekankan bahwa perkembangan AI membutuhkan pendekatan yang memperkuat kemampuan berpikir kritis dan penggunaan teknologi yang etis.
Menurut Saya, justru semakin pintar AI, manusia harus semakin kritis. Jika AI dapat menghasilkan jawaban dalam hitungan detik, nilai manusia bukan lagi sekadar kemampuan menghasilkan jawaban, tetapi kemampuan menentukan apakah jawaban tersebut benar, relevan, etis, dan sesuai dengan konteks.
Dengan demikian, AI seharusnya tidak membuat manusia berhenti berpikir. Sebaliknya, AI dapat digunakan sebagai thinking partner yang membantu manusia melihat perspektif lain, kemudian manusia tetap melakukan verifikasi dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangannya sendiri.
Menjadi Manusia di Tengah Perkembangan Teknologi
Perkembangan teknologi sering kali dikaitkan dengan efisiensi. Semakin cepat pekerjaan selesai, semakin dianggap baik. Namun, perspektif humanisme mengingatkan bahwa tidak semua hal dalam kehidupan manusia dapat diukur berdasarkan kecepatan dan produktivitas.
Misalnya, seorang mahasiswa mungkin dapat menyelesaikan sebuah tulisan dalam beberapa menit dengan bantuan AI. Namun, proses membaca, berdiskusi, mengalami kebingungan, mencoba memahami suatu konsep, melakukan kesalahan, lalu memperbaikinya merupakan bagian penting dari proses pendidikan. Proses tersebut memang lebih lambat, tetapi justru di dalamnya terjadi perkembangan intelektual dan personal.
Hal tersebut menunjukkan bahwa efisiensi tidak selalu identik dengan kualitas manusia. Ada pengalaman yang memang sebaiknya tidak sepenuhnya diotomatisasi karena pengalaman tersebut membentuk karakter. Berdiskusi dengan dosen, bekerja dalam kelompok, mengalami konflik, belajar memahami perspektif orang lain, dan menerima kritik merupakan pengalaman yang tidak dapat digantikan hanya dengan memperoleh jawaban dari AI.
AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti Kemanusiaan
Menurut Saya, solusi yang paling tepat bukan menolak AI, tetapi mengembangkan cara menggunakan AI secara manusiawi. Melarang teknologi secara total bukanlah jawaban karena AI merupakan bagian dari perkembangan zaman dan akan terus berkembang. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan manusia agar mampu menggunakan teknologi secara sadar dan bertanggung jawab.
Dalam konteks pendidikan, misalnya, mahasiswa dapat menggunakan AI untuk mencari inspirasi, melakukan brainstorming, mendapatkan penjelasan alternatif, atau mengevaluasi tulisan. Namun, ide utama, proses berpikir, pengambilan keputusan, verifikasi informasi, dan tanggung jawab terhadap hasil tetap berada pada mahasiswa. Dengan pendekatan tersebut, AI menjadi alat untuk memperluas kemampuan manusia, bukan menggantikannya.
Institusi pendidikan juga memiliki peran penting. Kebijakan penggunaan AI tidak cukup hanya berbentuk larangan. Mahasiswa perlu diberikan pemahaman mengenai etika penggunaan AI, verifikasi informasi, privasi data, hak cipta, dan batas antara penggunaan AI sebagai alat bantu dengan tindakan yang menghilangkan proses pembelajaran. Kebijakan pemerintah Indonesia melalui SKB tujuh menteri pada 2026 menunjukkan bahwa kebutuhan untuk membangun tata kelola tersebut semakin nyata.
Kesimpulan
Menurut Saya, pertanyaan “Ketika AI makin pintar, apakah manusia makin humanis?” tidak dapat dijawab hanya dengan melihat perkembangan teknologi. AI memang dapat membuat manusia lebih cepat, produktif, dan efisien, tetapi teknologi tidak secara otomatis membuat manusia lebih bijaksana. Bahkan, semakin canggih teknologi, semakin besar pula tanggung jawab manusia untuk menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan.
Society 5.0 seharusnya tidak dimaknai sebagai masyarakat yang menyerahkan sebanyak mungkin pekerjaan kepada teknologi, tetapi sebagai masyarakat yang mampu menggunakan teknologi untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Karena itu, kemampuan yang perlu dikembangkan bukan hanya digital literacy dan AI literacy, tetapi juga human literacy: kemampuan berpikir kritis, memiliki empati, memahami diri sendiri, menghargai orang lain, mengambil keputusan secara etis, dan bertanggung jawab terhadap dampak dari tindakan yang dilakukan.
AI dapat membantu manusia menulis, tetapi manusia tetap harus memiliki sesuatu untuk disampaikan. AI dapat membantu manusia berpikir, tetapi manusia tetap harus mampu menentukan apa yang layak untuk dipikirkan. AI dapat menghasilkan berbagai kemungkinan, tetapi manusia tetap harus menentukan mana yang benar, baik, dan bermakna. Sehingga, tantangan terbesar di era AI bukanlah bagaimana membuat manusia lebih mirip mesin, tetapi bagaimana memastikan bahwa ketika mesin semakin menyerupai manusia, manusia justru tidak kehilangan kemanusiaannya.
Ditulis oleh
Arneta Fidelia Fany
Mahasiswa Universitas Siber Asia


