Denpasar, Maret 2026 – Pertumbuhan ekonomi di Provinsi Bali pada triwulan IV tahun 2025 mencapai 5,86% yoy. Nilai ini meningkat dibandingkan periode sebelumnya, dengan dukungan neraca perdagangan terakumulatif mencapai US$20,52 Juta. Adapun inflasi Provinsi Bali pada bulan Februari 2026 mencapai 3,89% yoy. Dari sisi indikator kesejahteraan, nilai tukar petani pada Februari 2026 mengalami penurunan sebesar 2,35 poin menjadi 103,61 lebih rendah dibandingkan capaian nasional (125,45). Selain itu, indikator nilai tukar nelayan menunjukkan pertumbuhan 0,93 poin menjadi 103,02 meskipun lebih rendah dibandingkan capaian nasional (108,34). Hingga akhir Bulan Januari 2026, jumlah kunjungan wisman ke Bali mencapai 502.205 yang didominasi oleh wisatawan Australia. Secara keseluruhan, kondisi ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan di Provinsi Bali yang masih terjaga dan tumbuh positif.
Kinerja Pelaksanaan APBN Regional Bali hingga Februari 2026
Sampai dengan akhir Bulan Februari 2026, kinerja APBN di Provinsi Bali mencapai 10,27% dari target untuk Pendahapatan dan Hibah atau Rp3,12 triliun. Capaian ini secara dominan disumbangkan oleh Perpajakan dan Kepabenan dan Cukai sebesar Rp2,47 triliun, tumbuh 13,28% yoy. Adapun sebesar Rp647,43 miliar berasal dari capaian Penerimaan Negara Bukan Pajak, tumbuh 4,54% yoy dibandingkan tahun 2025.
Berdasarkan jenisnya, penerimaan pajak tertinggi di Provinsi Bali disumbangkan oleh Pajak Penghasilan sebesar Rp1,79 triliun, disusul oleh PPN sebesar Rp802,76 miliar, serta komponen dengan pertumbuhan tertinggi yaitu PBB yang tumbuh 10.573,18% yoy, dengan penerimaan sebesar Rp0,01 miliar. Berdasarkan sektornya, penerimaan tertinggi berasal dari Sektor Perdagangan sebesar Rp383,45 miliar atau berkontribusi 17,02%, menggeser sektor Penyediaan Akmamin yang berkontribusi 15,91%. Kepabeanan dan cukai tumbuh 10,15% didukung oleh penerimaan Cukai MMEA sebesar 86,10%, HT sebesar 1,25% dan BM sebesar 11,46%. Adapun capaian cukai tumbuh 7,10% yoy akibat peningkatan produksi MMEA sebesar 4,44% yoy dengan proporsi Gol. A 16,16%, Gol. B 28,87% dan Gol. C 54,98%. Adapun capaian bea masuk sebesar Rp6,67 miliar, tumbuh 35,70% yoy akibat peningkatan nilai impor sebesar 36,91% yoy, yang didominasi oleh komoditas parts mesin.
Selanjutnya, kinerja pengeluaran di Provinsi Bali mencapai 17,40% dari target atau Rp3,59 triliun, tumbuh 5,95% yoy. Realisasi ini secara dominan disumbangkan oleh Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp2,48 triliun diikuti Belanja Pemerintah Pusat (BPP) sebesar Rp1,11 triliun. Realisasi BPP tertinggi berasal dari Belanja Pegawai sebesar Rp730,77 miliar tumbuh 19,97% yoy, akibat peningkatan jumlah pegawai dan kebijakan penyesuaian gaji ASN. Adapun pertumbuhan tertinggi disumbangkan oleh Belanja Modal sebesar 244,88% yoy melalui pembangunan gedung perkuliahan Universitas Pendidikan Ganesha atas kontrak tahun jamak tahun kedua. Secara keseluruhan, peningkatan dari sisi BPP sebesar 20,75% yoy diakibatkan oleh pola pengeluaran yang kembali normal setelah pelaksanaan kebijakan efisiensi pada tahun 2025. Hingga akhir Bulan Maret, tercatat penyaluran THR di Provinsi Bali telah mencapai Rp284,83 Miliar kepada 72.872 penerima. Adapun dari sisi penyaluran THR Pemda menunjukkan realisasi lebih tinggi sebesar Rp411,95 miliar kepada 100.061 pegawai.
Realisasi TKD tumbuh sebesar 0,46% yoy, dengan pertumbuhan tertinggi disumbangkan oleh DAU Non Fisik sebesar 37,94% yoy atau mencapai Rp770,63 miliar. Realisasi ini disalurkan untuk BOSP, BOK Puskesmas, dan DAK Non Fisik Lainnya berupa TPG Guru ataupun Tambahan Penghasilan ASN Daerah. Secara nominal, realisasi tertinggi berasal dari DAU Block Grant sebesar Rp1,68 triliun yang disalurkan kepada Prov. Bali, Kab. Buleleng dan Kab. Jembrana. Komponen selanjutnya telah terealisasi sebesar 9,08% dari target atau Rp21,98 miliar. Realisasi ini diantaranya berasal dari DBH SDA Perikanan, DBH PPh, DBH PBB Migas, Panas Bumi, Perkebunan dan Sektor Lainnya, DBH SDA Minerba, dan DBH SDA Kehutanan.
Kinerja Pelaksanaan APBD Regional Bali hingga Februari 2026
Kinerja pendapatan seluruh Pemda di Provinsi Bali s.d. Februari 2026 mencapai Rp4.995,8 miliar, tumbuh 10,54% yoy. Peningkatan ini secara garis besar disumbangkan oleh Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp3,33 triliun, tumbuh 17,37% yoy, maupun pendapatan dari dana transfer sebesar Rp1,67 triliun. Pajak daerah menjadi komponen utama penyusun realisasi PAD sebesar Rp2,23 triliun tumbuh 14,58% yoy, yang disumbangkan oleh sektor PBJT sebesar Rp1,37 triliun tumbuh 0,39% yoy.
Realisasi belanja daerah seluruh pemda mencapai Rp2,02 triliun tumbuh 1,44% yoy. Nilai ini didominasi oleh Belanja Operasi sebanyak Rp1,91 triliun atau 7,63% dari pagu dan tumbuh 12,29% yoy. Realisasi ini disumbangkan oleh Belanja Pegawai sebesar Rp1,41 triliun yang mendominasi porsi 69,77% dari seluruh realisasi. Kemudian diikuti realisasi belanja barang dan jasa sebesar Rp343,09 miliar meskipun terkontraksi -19,01% yoy, dan pengeluaran untuk belanja hibah sebesar Rp159,47 miliar terkontraksi -7,26% yoy.
Kinerja Penyaluran Kredit Program Provinsi Bali hingga Februari 2026
Penyaluran Kredit Program di Provinsi Bali, dalam hal ini KUR dan UMi, telah mencapai Rp2,2 triliun (tumbuh 41,53% yoy) kepada 25.641 debitur (tumbuh 9,74% yoy). Penyaluran ini tersebar di seluruh kab/kota dengan nilai penyaluran tertinggi disumbangkan oleh Kota Denpasar sebesar Rp389,89 miliar kepada 3.263 debitur, sedangkan debitur terbanyak terdapat di Kab. Buleleng sebanyak 4.469 debitur senilai Rp249,26 miliar. Adapun penyaluran terendah terjadi di Kab. Bangli sebesar Rp140,39 miliar kepada 1.920 debitur. Atas keseluruhan capaian ini, Provinsi Bali berhasil menduduki peringkat ke-6 nasional sebagai provinsi dengan penyaluran terbesar.
Realisasi kredit program di Provinsi Bali juga disalurkan ke beberapa sektor ekonomi dengan sektor dominan terdapat pada sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 34,65% diikuti oleh sektor pertanian, perburuan dan kehutanan sebesar 19,91%. Adapun skema penyaluran terbesar adalah skema Mikro sebesar Rp1,32 triliun kepada 20.240 debitur dengan jumlah outstanding mencapai Rp1,30 triliun. Adapun penyaluran dengan skema terendah adalah UMi Pro sebesar Rp0,34 miliar kepada 7 debitur dengan jumlah outstanding mencapai Rp0,32 miliar.



