Surabaya, 26 September 2025 – Ekonomi Jawa Timur mencatat pertumbuhan positif pada triwulan II 2025. Pertumbuhan ekonomi daerah ini mencapai 5,23% (yoy), sedikit lebih tinggi dibanding nasional yang berada di angka 5,12%.
Data tersebut dipaparkan dalam Diseminasi Regional Chief Economist (RCE) Quarterly Report yang digear Kanwil DJPb Jawa Timur, Jumat (26/9) di Surabaya.
Realisasi pendapatan negara di Jawa Timur hingga Juni 2025 sebesar Rp118,42 triliun atau 41,90% dari target APBN. Penerimaan ini didominasi oleh cukai dengan kontribusi 53,3%. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga tumbuh dengan realisasi Rp2,06 triliun, terutama dari layanan pendidikan dan kesehatan.
Sementara itu, belanja negara tercatat Rp60,09 triliun atau 47,28% dari pagu. Belanja pemerintah pusat sebesar Rp18,39 triliun, sedangkan Transfer ke Daerah (TKD) mencapai Rp41,71 triliun. Namun, realisasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik masih rendah akibat kendala regulasi.

Tantangan: Kemiskinan dan Konsumsi
Meski tumbuh cukup solid, Jawa Timur masih menghadapi tantangan. Tingkat kemiskinan tercatat 9,50%, sementara konsumsi rumah tangga cenderung melambat. Nilai Tukar Petani (NTP) juga sempat turun, meskipun diharapkan pulih dengan dukungan kebijakan pemerintah.
Menuju Ekonomi Hijau
Dalam forum ini juga dipaparkan hasil kajian Indeks Green Economy di 13 kabupaten/kota. Hasil penelitian menunjukkan potensi besar pada energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan pertanian berkelanjutan. Namun, kesiapan infrastruktur ramah lingkungan dan kesadaran masyarakat masih bervariasi.

Langkah ke Depan
Kepala Kanwil DJPb Jawa Timur Saiful Islam menegaskan perlunya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta. Program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penguatan koperasi Merah Putih juga disebut akan memberi efek positif pada ekonomi daerah.
Dengan capaian ini, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tidak hanya tinggi, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan.





