
Kendari - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Provinsi Sulawesi Tenggara kembali menggelar kegiatan Pembinaan Mental (Bintal) sebagai bagian dari komitmen membangun sumber daya manusia yang berintegritas dan berjiwa nasionalisme. Pada Triwulan III Tahun 2026, Bagian Umum Kanwil DJPb Sulawesi Tenggara menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Pembinaan Mental Bidang Ideologi bertajuk “Menjaga Ideologi Bangsa dengan Integritas”, yang berlangsung pada Senin, 3 Agustus 2026, di Ruang Rapat Kanwil DJPb Provinsi Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini merupakan implementasi dari Keputusan Menteri Keuangan Nomor 467 Tahun 2023 tentang Pedoman Pembinaan Mental di Lingkungan Kementerian Keuangan, yang mengamanatkan pembinaan mental dilaksanakan secara terarah, sistematis, dan berkesinambungan setiap triwulan mencakup empat bidang: ideologi, rohani, kompetensi, dan kejiwaan.
Mengusung pendekatan microlearning berbasis studi kasus, FGD kali ini mengangkat kisah keteladanan pahlawan nasional Syafruddin Prawiranegara beserta keluarganya dalam memegang teguh amanah, menjaga akuntabilitas, dan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Bertindak sebagai narasumber, Kepala Bagian Umum Kanwil DJPb Sulawesi Tenggara, Mokhamad Arifin, membuka diskusi dengan menekankan pentingnya menjaga ideologi bangsa melalui perilaku berintegritas dalam pelaksanaan tugas sehari-hari sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Pesan yang mengemuka dalam diskusi ini begitu menyentuh: integritas berarti memilih yang benar meskipun tidak ada yang melihat, dan menjaga amanah meskipun ada kesempatan untuk menyalahgunakannya. Sebab pada akhirnya, jabatan akan berakhir, namun nama baik dan kepercayaan publik akan tetap dikenang.
Setidaknya tiga pelajaran utama digarisbawahi dari keteladanan Syafruddin Prawiranegara dan keluarganya, yaitu keteguhan memegang ideologi bangsa dan kerelaan berkorban demi kepentingan negara, sikap tidak memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi maupun keluarga, serta keberanian untuk tidak mengambil celah di situasi darurat atau area abu-abu demi mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Kegiatan yang diikuti oleh delapan peserta dengan tingkat kehadiran penuh (100%) ini berjalan interaktif. Setiap peserta diberi ruang untuk berbagi pandangan, pengalaman, dan refleksi pribadi mengenai penerapan nilai-nilai integritas, baik dalam pelaksanaan tugas maupun kehidupan sehari-hari.
Dari sesi diskusi, muncul beragam refleksi mendalam, mulai dari pentingnya menanamkan kejujuran sejak dari lingkungan keluarga, keteladanan sosok yang tangguh dan mandiri dalam menjalani hidup sederhana tanpa mengorbankan harga diri, hingga kisah nyata para pegawai yang berani “melawan arus” menolak budaya gratifikasi meski di tengah kondisi yang saat itu masih permisif. Peserta juga diajak menganalisis studi kasus etika publik, di mana sikap menolak intervensi yang bertentangan dengan prinsip profesionalisme dinilai sebagai cerminan nyata dari nilai keadilan sosial dan akuntabilitas dalam pelayanan kepada masyarakat.
Meski kegiatan berjalan lancar tanpa kendala berarti, tergambar kesadaran bersama bahwa menjaga integritas bukanlah pekerjaan sekali jadi. Dibutuhkan penyegaran nilai secara berkelanjutan, penguatan sistem dan prosedur, keteladanan nyata dari pimpinan sebagai role model, serta penerapan reward and punishment yang adil dan konsisten. Pembinaan Mental Bidang Ideologi Triwulan III ini pun ditutup dengan simpulan yang menegaskan bahwa jabatan adalah sarana pengabdian, bukan hak istimewa. Melalui keteladanan Syafruddin Prawiranegara, seluruh pegawai Kanwil DJPb Sulawesi Tenggara diajak untuk terus menghayati kejujuran, konsistensi antara ucapan dan tindakan, serta keberanian menegakkan kebenaran, sebagai wujud nyata pengabdian kepada bangsa, negara, dan masyarakat selaku pemilik negeri. Ke depan, kegiatan serupa direncanakan untuk terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan tema-tema yang relevan dengan dinamika lingkungan kerja, dengan pendekatan diskusi berbasis studi kasus yang terbukti efektif mendorong partisipasi dan refleksi mendalam dari seluruh pegawai.



