Penggunaan Metode Kurva Distribusi Normal untuk Pemetaan
Efisiensi Penggunaan Uang Persediaan Tunai Satuan Kerja
Oleh :
Ahmad Alwi Magroby
PTPN Mahir KPPN Jakarta VII
Perhitungan efisiensi penggunaan Uang Persediaan tunai bertujuan untuk mengetahui seberapa efisien UP yang dikelola satker berdasarkan persentase GUP dan durasi antar GUP. Semakin sering dan semakin mendekati 100% tiap pengajuan GUP, menandakan semakin efisien pengelolaan UP suatu satker. Tingkat efisiensi UP satuan kerja didasarkan pada rumus dan kriteria berikut:
Kategori efisiensi ini akan menentukan besaran UP yang disetujui oleh KPPN pada tahun anggaran berikutnya. Satker dengan kategori UP tidak Efisien (<80%), maka perhitungan besaran UP Tunai nya maksimal hanya sebesar nilai efisiensi dikalikan total besaran UP tahun sebelumnya.
Berdasarkan formula ini maka dapat dihitung nilai efisiensi tiap satuan kerja dan didapatkan pola distribusi tingkat efisiensi UP satuan kerja pada KPPN Jakarta VII pada tahun 2021-2023 sebagai berikut :
Kurva Distribusi efisiensi UP tunai tahun 2021
Pada tahun 2021, sebanyak 21 satuan kerja atau 12,2% masuk dalam kategori tidak efisien, 47 satuan kerja atau 27,3% masuk dalam kategori efisien, dan 104 satuan kerja atau 60,4% masuk dalam kategori sangat efisien.
Kurva Distribusi efisiensi UP tahun 2022
Sedangkan pada tahun 2022, sebanyak 10 satuan kerja atau 0.75% masuk dalam kategori tidak efisien, 33 satuan kerja atau 25% masuk dalam kategori efisien, dan 89 satuan kerja atau 67.42% masuk dalam kategori sangat efisien.
Kurva Distribusi efisiensi UP tahun 2023
Sumber : MONEVPA aplikasi OMSPAN, diolah
Pada tahun 2023, sebanyak 5 satker atau 0,45% masuk dalam kategori tidak efisien, 19 satker atau 17,11% masuk dalam kategori efisien, dan 87 satuan kerja atau 78.37% masuk dalam kategori sangat efisien
Pada grafik pola distribusi efisiensi UP tiga tahun terakhir, dapat diamati bahwa mayoritas efisiensi UP pada satker KPPN Jakarta VII ada pada angka di atas 100%. Bahkan cukup banyak yang berada pada efisiensi di atas 120% atau sangat efisien. Hal ini menandakan satuan kerja sudah cukup baik dalam menggunakan UP tunainya.
Tingkat efisiensi UP tunai juga selalu naik dalam tiga tahun terakhir menunjukkan langkah-langkah yang dilakukan KPPN dalam mendorong percepatan revolving GUP dan mendorong pertumbuhan transaksi cashless. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya persentase satker yang efisiensi UP tunainya pada level efisien atau sangat efisien.
Penggunaan kurva distribusi normal dalam rangka memetakan efisiensi UP tunai satuan kerja merupakan salah satu metode statistik yang lebih relevan untuk melihat sebaran atau distribusi normal dari satuan kerja KPPN Jakarta VII karena karakteristik satker yang dapat berbeda jauh baik dari sisi besaran DIPA maupun kompleksitas kegiatannya. Perhitungan statistik standar seperti rata-rata efisiensi atau median kurang dapat menggambarkan sebaran atau distribusi efisiensi tiap-tiap satker. Dengan metode ini maka akan terlihat lebih jelas berapa persen sebenarnya satker yang benar-benar menggunakan UP tunainya secara lebih efisien dibandingkan yang lain. Atas satuan kerja yang masih belum efisien, dapat dibina dengan lebih spesifik berdasarkan tren beberapa tahun terakhir.


