
“Kinerja Fiskal Masih On Track Sebagai Fondasi Dalam Menghadapi Dinamika Perekonomian dan Mendukung Agenda Pembangunan”
Pangkalpinang, 30 Agustus 2024 – Di tengah pelemahan prospek ekonomi global, stabilitas ekonomi regional Bangka Belitung masih terjaga yang didukung dengan aktivitas produksi dan konsumsi masyarakat yang masih tetap kuat. Dalam kilas balik, berbagai risiko global yang diprediksi di awal tahun memang terjadi seperti dinamika geopolitik, inflasi dan suku bunga yang tinggi, maupun disrupsi rantai pasokan yang mempengaruhi harga komoditas global. Namun, bersamaan dengan pengelolaan fiskal regional hingga akhir Juli yang adaptif dan responsif mendukung capaian yang lebih cepat (ahead the curve) untuk melindungi masyarakat dan menjaga momentum perekonomian regional.
Resiliensi ekonomi regional Bangka Belitung yang kuat ini tidak lepas dari intervensi APBN regional yang telah didesain secara konservatif untuk meminimalisasi risiko perekonomian global. Dengan menjadikan fungsi countercyclical dan shock absorber sebagai pilar pelaksanaan anggaran, APBN regional Bangka Belitung telah bekerja keras sebagai instrumen andalan dalam meningkatkan produktivitas dan mendorong transformasi ekonomi yang mendukung kestabilan ekonomi regional yang berimplikasi terhadap peningkatan kesejahteraan dan perlindungan masyarakat.
Ekonomi Regional Bangka Belitung Tetap Terjaga di Tengah Dinamika Perekonomian Global
Perekonomian regional Bangka Belitung hingga akhir Juli 2023 masih solid yang didukung dengan konsumsi rumah tangga yang tetap tumbuh kuat dan tingkat inflasi yang terkendali. Pada Juli 2024, inflasi gabungan 4 wilayah di Bangka Belitung secara year on year (yoy) tercatat turun sebesar 0,84%. Capaian inflasi ini jauh lebih rendah dari inflasi Juli 2023 lalu yang tercatat 2,14% dan bahkan kondisi jauh lebih baik dari inflasi Juli 2022 lalu yang mencapai 7,77%. Penurunan inflasi yang cukup signifikan pada tahun 2024 merupakan pengaruh dari penurunan harga komoditas yang sering dibutukan masyarakat di pasar seperti beras, Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan emas perhiasan. Sedangkan, secara month-to-month (mtm), regional Bangka Belitung mengalami deflasi sebesar 0,39% pada Juli 2024. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi kelompok utama penyumbang deflasi pada Juli 2024 dengan tingkat deflasi yang lebih dalam dibandingkan Juni 2024. Komoditas utama penyumbang andil deflasi adalah bawang merah dan cabai merah.
Dalam skala global, fluktuasi harga komoditas dunia terhadap timah dan CPO turut mempengaruhi dinamika kinerja ekspor dan impor di regional Bangka Belitung. Realisasi pada bulan Juli 2023 yang lalu mencatat perlambatan ekspor secara yoy yang dipengaruhi oleh fluktuasi harga referensi CPO yang turut mempengaruhi penurunan volume ekspor. Di sisi lain, kinerja ekspor regional Bangka Belitung masih didominasi dari komoditas timah murni batangan yang meski turun 38,15% secara yoy, namun mulai naik 8,49% secara mtom. Dari sisi kineja impor, regional Bangka Belitung pada Juli 2024 mengalami peningkatan signifikan sampai 600% secara yoy utamanya karena ada impor kapal pada bulan Juli tersebut. Sejalan dengan kondisi tersebut, dibandingkan kinerja pada bulan sebelumnya, aktivitas impor pada Juli 2024 ini naik signifikan yakni sebesar 170,45%. Meskipun di tengah dinamika kinerja eskpor dan impor, kinerja neraca perdangangan pada Juli 2024 di Kepulauan Bangka Belitung masih positif dan mencatat surplus sebesar USD141.09 Juta.
Optimalisasi Belanja APBN Dukung Perekonomian dan Kesejahteraan Masyarakat Kepulauan Bangka Belitung
APBN regional Bangka Belitung sebagai instrumen fiskal terus didorong penyerapannya agar manfaatnya dapat dinikmati oleh masyarakat secara optimal. Stabilitas perekonomian yang terjaga selama s.d. Juli 2024 tidak lepas dari dukungan APBN regional yang responsif terhadap dinamika domestik dan global. Kinerja belanja negara di regional Kepulauan Bangka Belitung sampai dengan 31 Juli 2024 telah terealisasi Rp1,81 triliun dan mengalami pertumbuhan sebesar 19,84% dari tahun sebelumnya. Belanja negara mengalami pertumbuhan disebabkan oleh meningkatnya Belanja Pemerintah Pusat yang dipengaruhi akselerasi penyaluran beberapa jenis belanja seperti Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Belanja Modal yang tumbuh positif.
- Secara rinci, pertumbuhan Belanja Pemerintah Pusat didominasi dari realisasi Belanja Barang yang terealisasi sebesar Rp802,92 miliar (48,34% dari pagu), tumbuh signifikan sebesar 24,63% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang disebabkan oleh pertumbuhan signifikan untuk mendukung kegiatan Perluasan dan Perlindungan Lahan Pertanian berupa Upaya Khusus Konstruksi Optimasi Lahan Rawa oleh satker Sarana Prasarana Distan Babel.
- Di sisi lain, realisasi Belanja Pegawai s.d. akhir Juli 2024 telah terealisasi sebesar 65,44% dari pagu atau mencapai Rp799,71 miliar dan tumbuh 14,86% secara yoy karena adanya penerimaan PPPK baru di beberapa satker turut mendorong Belanja Gaji dan Tunjangan PPPK tumbuh signifikan hingga 166,66% secara yoy.
- Kinerja Belanja Modal juga tercatat tumbuh positif sebesar 23,55% secara yoy atau terealisasi sebesar Rp206,85 miliar. Namun demikian, kinerja penyaluran Belanja Modal ini perlu segera diakselerasi seiring penyerapan anggaran yang masih relatif rendah hingga pertengahan tahun 2024 ini yakni sebesar 34,98%. Kontribusi belanja modal utamanya dialokasikan untuk pembangunan gedung perkuliahan dan laboratorium kesehatan terpadu pada satker BLU UBB.
- Selanjutnya, realisasi Belanja Bantuan Sosial hingga akhir Juli 2024 telah terealisasi 57,07% dari pagu atau tercatat sebesar Rp3,73 miliar. Penyaluran Belanja Bantuan Sosial ini mengalami perlambatan sebesar 26,62% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebagai implikasi dari penyaluran KIP On Going yang mempertimbangkan jadwal akademik perkuliahan.
Secara agregat, realisasi penyaluran kinerja Belanja Pemerintah Pusat s.d. akhir Juli 2024 telah terealisasi sebesar 52,09% dari pagu yang ditetapkan dalam APBN. Kinerja yang optimis dan solid merupakan dukungan untuk menjaga kesinambungan fiskal dalam rangka menjaga stabilitas kondisi sosial dan perekonomian regional.
Transfer ke Daerah Dukung Pembangunan Regional Kepulauan Bangka Belitung
Selain Belanja Pemerintah Pusat, Transfer ke Daerah menjadi salah satu kontributor utama dalam porsi Belanja Negara. Penyaluran TKD sampai dengan 31 Juli 2024 mencapai 58,78% dari pagu 2024 atau telah terealisasi sebesar Rp3,96 triliun. Penyaluran jenis-jenis TKD hingga akhir Juli 2024 ini secara agregat mengalami pertumbuhan sebesar 2,04%, salah satunya didorong oleh akselerasi penyaluran DAU untuk mengurangi ketimpangan vertikal sebesar Rp2,82 triliun (64,50 persen dari pagu 2024) yang sekaligus menjadi kontributor terbesar dalam porsi TKD dan tumbuh 16,03 persen untuk dukung perbaikan kualitas kinerja layanan publik serta penggajian dan pengangkatan PPPK di daerah. Di sisi lain, pertumbuhan kinerja TKD ini juga didukung oleh penyaluran Dana Desa yag juga turut tumbuh sebesar 16,24% secara yoy atau telah terealisasi sebesar Rp230,53 miliar.
Dukungan penyaluran dana transfer di regional Bangka Belitung ini merupakan wujud kontribusi fiskal untuk memperkuat perekonomian lokal serta mengurangi disparitas pembangunan antara wilayah. Dalam postur konsolidasi anggaran daerah di regional Bangka Belitung, Transfer ke Daerah masih mendominasi pendapatan pemerintah daerah yang berkontribusi sebesar 68,58% dari total Belanja Negara di regional Bangka Belitung. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan fiskal dari pemerintah pusat masih menjadi faktor dominan untuk mendukung pembangunan daerah di regional Kepulauan Bangka Belitung.
Dinamika Restitusi dan Harga Komoditas Global Mempengaruhi Realisasi Pendapatan Negara di Regional Kepulauan Bangka Belitung
Di tengah turbelensi perekonomian global, kinerja pendapatan regional Bangka Belitung hingga akhir Juli tetap optimis mencapai 49,65% dari target 2024, meskipun sedikit melambat 2,69% dari kinerja pada periode yang sama pada tahun sebelumnya, namun upaya-upaya optimalisasi oleh berbagai stakeholder untuk mendukung kinerja Penerimaan Perpajakan maupun PNBP telah mendorong Pendapatan Negara terealisasi sebesar Rp1,86 triliun. Hingga akhir Juli 2024, kinerja pendapatan terus dijaga agar dapat mendukung perekonomian dengan berbagai kebijakan antisipatif dari dinamika harga komoditas global yang mempengaruhi perlambatan kinerja realisasi.
- Dari segi Penerimaan Perpajakan, realisasi sampai akhir Juli 2024 mencapai sebesar Rp1,72 triliun dan telah mencapai 47,88% dari target, terkontraksi 2,97% secara nominal dari periode tahun sebelumnya. Sebagai penyumbang kontribusi terbesar terhadap perekonomian regional, perlambatan sektor perdagangan dan pertambangan mendorong kontraksi penerimaan perpajakan seiring dengan belum pulihnya aktivitas penambangan yang menyebabkan penurunan penyerahan timah pada beberapa kolektor timah. Di sisi lain perlambatan kinerja perpajakan juga dipengaruhi oleh penurunan setoran masa PPN pada sektor perdagangan besar dan eceran atas balas jasa fee atau kontrak yang utamanya bergerak pada sektor timah, serta penurunan harga komoditas tahun 2023 berdampak pada penurunan PPh Tahunan yang dibayarkan tahun 2024.
- Dari sisi Pajak Perdagangan Internasional, realisasi sampai akhir Juli 2024 mencapai sebesar Rp9,22 miliar dan telah mencapai 14,45% dari target. Capaian yang relatif rendah hingga pertengahan tahun 2024 ini dipengaruhi oleh turunnya kinerja sektor pertambangan timah yang mempengaruhi penerimaan Bea Masuk atas impor bahan pendukung Anthracite dan Graphite Rod, seiring dengan rendahnya capaian Bea Keluar atas eskpor CPO akibat fluktuasi harga komoditas.
- Sementara itu, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sampai akhir Juli 2024 mencapai Rp137,32 miliar dan telah mencapai 92,23% dari target yang ditetapkan. Realisasi ini mengalami pertumbuhan sebesar 0,99% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kinerja PNBP ini utamanya masih didominasi dari PNBP lainnya (dikelola satker) yang terealisasi sebesar Rp113,60 miliar dan telah mencapai 115,20% dari target 2024. Selain itu, hingga Juli 2024 ini telah dilakukannya pengesahan atas PNBP dari Pendapatan BLU (Universitas Bangka Belitung) yang terealisasi sebesar Rp23,72 miliar atau 47,17% dari target 2024.
Prospek Fiskal dan Ekonomi Hingga Akhir Tahun 2024 yang Semakin Optimis
Momentum perekonomian yang tetap terjaga menjadi landasan kuat untuk mendukung agenda pembangunan tahun 2024. Kinerja perekonomian domestik yang relatif kuat tidak lepas dari intervensi kebijakan fiskal sebagai shock absorber yang mendukung pembangunan di daerah. APBN berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik dan melindungi masyarakat dengan tetap menjaga kesinambungan fiskal. Penguatan spending better dengan berbagai rencana program di tahun 2024 ini diharapkan dapat memberikan dampak dari keuangan negara terhadap kesejahteraan dan perekonomian di daerah.
Informasi lebih lanjut hubungi:
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Bangka Belitung
Jl. Sungai Selan No. 91, Kota Pangkalpinang
Call Center: 0812-7345-2957
Telp: (0717) 433405
Fax: (0717) 435802



