
Yogyakarta, 21 Juni 2024 - Kanwil DJPb DIY menerima kunjungan tim ekonomi PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI pada Rabu (12/6/2024). Kehadiran tim dari BSI ini untuk bersilaturahmi dengan Kanwil DJPb DIY sekaligus berdiskusi mengenai kondisi perekonomian terkini Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Tim ekonomi dari BSI diterima langsung secara hangat oleh Kepala Kanwil DJPb DIY, Agung Yulianta beserta jajaran. Kepala Departemen Makro dan Pasar Keuangan PT Bank Syariah Indonesia Tbk, Kahfi Riza mengatakan kunjungan ini merupakan bagian dari series of roadshow yang dilakukan BSI untuk silaturahmi dan belajar tentang ekonomi regional.
"Dalam kolaborasi ekonomi daerah, BSI sebagai pilar pengembangan ekonomi syariah memiliki mandat agar kehadiran bank syariah bermanfaat dalam pertumbuhan ekonomi di daerah. Oleh sebab itu, kami perlu berdiskusi dengan Kanwil Ditjen Perbendaharaan agar bisa menggali beberapa hal yang sangat berguna bagi kami untuk melakukan kajian dan anlisis," kata Kahfi Riza.
Dalam sesi pemaparan, Kepala Kanwil DJPb DIY menjelaskan secara detail dan komprehensif mengenai perekonomian regional Yogyakarta, mulai dari pertumbuhan ekonomi, kondisi produk domestik regional bruto (PDRB), inflasi, nilai tukar petani dan nelayan (NTP dan NTN), indeks pembangunan manusia (IPM), nilai ekspor dan impor, penyaluran KUR dan UMi hingga proyek-proyek infrastruktur yang tengah dijalankan di DIY. Data tersebut dihimpun secara komprehensif oleh Kanwil DJPb DIY dalam fungsinya sebagai regional chief economist (RCE).
Tim dari BSI juga menanyakan iklim investasi di Yogyakarta, terutama di sektor perumahan. BSI melihat banyak lahan persawahan di Yogyakarta kini telah berubah menjadi kawasan perumahan, bahkan sekelas real estate.
Menanggapi hal tersebut, Agung Yulianta menjelaskan pengaruh dinamika masyarakat berpenghasilan menengah ke atas terhadap perekonomian Yogyakarta tidak semasif di daerah lain, terutama pada sektor perumahan. Agung menegaskan penopang utama perekonomian di DIY yaitu UMKM.
“Memang demand terhadap properti Yogyakarta tetap ada dengan harga yang cenderung tinggi. Tapi demand tersebut kebanyakan bukan dari penduduk asli Yogyakarta,” tuturnya.
Selanjutnya, kedua belah pihak juga mendiskusikan soal dana Transfer ke Daerah (TKD) yang masih menjadi penopang utama APBD di DIY. Menurut Agung, TKD hadir sebagai bagian dari perimbangan keuangan pusat dan daerah yang menjadi instrumen penjaga kesesuaian arah kebijakan makro dengan kebijakan daerah.
“Oleh karena itu, dalam komponen TKD ada yang bersifat block grant maupun spesific grant. Block grant digunakan untuk mendukung daerah sesuai dengan inisiatif dan kebutuhan daerah. Sebagai contoh Dana Alokasi Umum yang digunakan sesuai dengan inisiatif dan kebutuhan daerah, namun Dana Alokasi Umum juga digunakan spesific grant yaitu untuk perekrutan PPPK yang merupakan program nasional,” ucap Agung.
Diskusi yang berlangsung di antara kedua belah pihak berlangsung secara hangat dan ceria. BSI dan Kanwil DJPb DIY sepakat bahwa sektor perbankan punya potensi untuk berkontribusi lebih gencar lagi dalam pembangunan jangka panjang di Yogyakarta.









