
Yogyakarta, 2 Juli 2024 - Kondisi perekonomian Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tumbuh 5,02% year to year (yoy) pada triwulan I tahun 2024 dan inflasi melambat. Hal itu diungkapkan Kanwil DJPb DIY dalam kegiatan "Konferensi Pers APBN KiTA Regional Provinsi D.I. Yogyakarta (DIY) hingga 31 Mei 2024 bersama Pimpinan Eselon I Kementerian Keuangan", Selasa (2/7/2024).
Kepala Kanwil DJPb DIY, Agung Yulianta menjelaskan perekonomian DIY tumbuh 5,02% yoy dan mengalami kenaikan 0,91% dibandingkan triwulan IV tahun 2024 (qtoq). Agung menjelaskan seluruh komponen pengeluaran tumbuh positif.
"PDRB ADHB (Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku) mencapai Rp47,89 triliun dan PDRB ADHK (Atas Dasar Harga Konstan) Tahun Dasar 2010 mencapai Rp30,68 triliun," ucap Agung dalam konferensi pers yang digelar di Kanwil DJPb DIY, Maguwoharjo, Depok, Sleman yang juga menghadirkan narasumber dari Kemenkeu Satu lingkup DIY dan pejabat Kemenkeu pusat.
Agung menjelaskan pertumbuhan tertinggi disumbang sektor Pengeluaran Konsumsi Akhir Lembaga Non Profit Yang Melayani Rumah Tangga (PKLNPRT) sebesar 20,29%. Sedangkan pertumbuhan terendah terjadi pada komponen Ekspor dan Impor Barang dan Jasa sebesar 2,02 % dan 3,78%.
"Pertumbuhan ekonomi DIY secara qtoq memang melambat dibandingkan tahun sebelumnya, namun perekonomian DIY masih cukup kondusif," ujar Agung.
Sementara itu, inflasi di DIY pada Mei 2024 sebesar 2,28 yoy dan 0,81% year to date (ytod/sepanjang 2024). Kabar baiknya, inflasi di DIY -0,08% secara month to month (mtom) pada Mei 2024 atau dengan kata lain terjadi deflasi atau penurunan harga-harga.
Penyumbang utama inflasi antara lain kelompok makanan, minuman, dan tembakau (1,44%); kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (0,30%); dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran (0,12%). Sementara Indeks Harga Konsumen (IHK) di DIY yakni sebesar 106,11.
"Secara bulanan, terjadi deflasi di DIY -0,08%, sementara nasional sebesar -0,03%. Secara tahun kalender, inflasi DIY sebesar 0,81% atau lebih rendah dari nasional 1,16%," tutur Agung.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi DIY yang menuju arah positif ini didorong oleh aktivitas domestik seperti peningkatan daya beli masyarakat, meningkatnya mobilitas masyarakat yang ditopang oleh kegiatan perjalanan dan liburan yang menghasilkan stimulus ekonomi tambahan. Kemudian, sektor jasa pendidikan berkontribusi sebesar 8,30% relatif terjaga dengan tumbuh 5,89%. Kondisi ini didukung oleh jumlah pelajar dan mahasiswa lokal dan perantau di DIY pada tahun 2024 mencapai 638.345 orang.
Meski demikian, Kanwil DJPb DIY mengingatkan sejumlah hal yang perlu diperhatikan pemda lingkup DIY agar ekonomi DIY tetap kokoh menghadapi ketidakpastian global. Terutama mengatasi ketimpangan di DIY bagian utara dan selatan berdasarkan sisi ekonomi dan indeks pembangunan manusia (IPM). Skor IPM pada kawasan utara DIY jauh lebih tinggi dibandingkan dengan skor IPM pada kawasan selatan DIY. Secara ekonomi sisi selatan lebih tertinggal dari sisi utara yang memiliki sentra pertumbuhan ekonomi lebih banyak sehingga menyebabkan kemiskinan di sisi selatan lebih tinggi.
"Keseimbangan primer DIY sampai dengan Mei 2024 masih negatif disebabkan oleh adanya kenaikan belanja negara yang lebih tinggi secara nominal dibandingkan dengan kenaikan pendapatan negara secara nominal. Selain itu ada penerimaan negara di DIY yang disetor ke pusat," kata Agung.
Di kesempatan yang sama, Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional Kementerian Keuangan, Parjiono mengatakan pemda lingkup DIY perlu ikut mewaspadai gejolak global yang belum pasti kapan usainya. Menurutnya, kondisi perdagangan dan investasi global yang melemah akibat naiknya jumlah sanksi dagang harus turut diwaspadai pemda.
"Harga komoditas volatile dipicu oleh disrupsi rantai pasok dan high demand. Di sisi lain El Nino berkepanjangan juga mengganggu proses panen komoditas pangan. Lalu pasar keuangan domestik masih terdampak sentimen global tersebut. Namun di sisi lain, Indonesia masih mampu menjaga neraca perdagangan tetap surplus dalam 49 tahun terakhir dan inflasi tetap terkendali pada Mei 2024 dengan tekanan terhadap harga pangan mulai mereda," kata Parjiono.
Narasumber dalam kegiatan ini yaitu Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional Kementerian Keuangan, Parjiono; Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan (DJPb) DIY, Agung Yulianta; Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak DIY, Erna Sulistyowati; Kepala Kantor Pengawasan Dan Pelayanan Bea Dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean (TMP) B Yogyakarta, Tedy Himawan; Kepala KPKNL Yogyakarta, Ibu Tuti Kurniyaningsih; dan Kepala BDK (Balai Diklat Keuangan) Yogyakarta, Endang Widajati.









