
Yogyakarta, 15 Agustus 2024 – Kanwil Ditjen Perbendaharaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar “Focus Group Discussion (FGD) Dampak Perubahan Iklim terhadap Perekonomian di Daerah dan Strategi Pembiayaan Pengelolaan Sampah di D.I. Yogyakarta” pada 15 Agustus 2024 di Aula Lantai 3 Kanwil DJPb DIY, Maguwoharjo, Depok, Sleman. FGD digelar untuk memperkuat koordinasi di antara stakeholder terkait dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap perekonomian DIY.
Seperti diketahui, dunia saat ini tengah menghadapi ancaman dampak perubahan iklim yang ditandai dengan kenaikan suhu rata-rata bumi. Akibatnya ancaman kekeringan dan bencana alam sebagai dampak dari anomali cuaca terjadi di mana-mana, termasuk di Indonesia dan DIY. Selain itu dibahas pula strategi pembiayaan pengelolaan sampah di DIY, di mana pemda lingkup DIY masih terus membangun model pengelolaan sampah secara mandiri.
FGD yang digelar ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang dan dibuka langsung oleh Kepala Kanwil DJPb DIY, Agung Yulianta serta Direktur Utama Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Joko Tri Haryanto yang memberikan keynote speech secara daring. Narasumber yang hadir langsung yakni Damayanti Ratunanda selaku Direktur Penyaluran Dana Badan Pengelolaan Dana Lingkungan Hidup), Ni Made Dwipanti Indrayanti, S.T, M.T selaku Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY, dan Prof. Dr. Ir. Ris Hadi Purwanto M.Agr.Sc. selaku Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM.
Dalam sambutannya, Kepala Kanwil DJPb DIY mengatakan perubahan pola cuaca berdampak besar terhadap perekonomian di dunia dan Indonesia, tak terkecuali di DIY. Apalagi sektor pertanian menyumbang 10,72% Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY.
“Perubahan pola cuaca berdampak besar terhadap struktur ekonomi kita, terutama di DIY. Apalagi pada sektor pertanian, pariwisata, dan pembangunan infrastruktur. Khusus pertanian memegang peran penting, di mana 10,72% PDRB DIY disumbang oleh pertanian. Lalu, pariwisata menjadi penggerak utama terutama pada unsur akomodasi, makan, dan minum, pasti UMKM akan terdampak. DIY perlu memperhatikan dan antisipasi perubahan iklim ini,” kata Agung.
Kepala Kanwil DJPb DIY juga menyebut peran krusial BPDLH dalam mengelola dana lingkungan hidup demi mengantisipasi dampak perubahan iklim di DIY. Dana yang digulirkan BPDLH di DIY telah digunakan untuk mendukung sejumlah program antara lain Social Forestry dan program dukungan untuk debitur di DIY yang berada di wilayah pinggir hutan.
Sementara itu, Direktur Utama BPDLH, Joko Tri Haryanto mengatakan pendanaan merupakan hal yang vital dalam upaya melestarikan lingkungan. Apalagi mengingat kebutuhan biaya untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim terbilang besar.
“Masalah pendanaan sangat krusial untuk mengantisipasi perubahan iklim, kalah hanya disandarkan pada keuangan negara bakal sangat terbatas. Oleh sebab itu, BPDLH hadir untuk mengonsolidasi dana-dana yang dialokasikan untuk kelestarian lingkungan hidup seperti dari internasional, dana dari domestik, pemerintah, dan lain-lain,” ucap Joko.
Selain itu, Kepala Bappeda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, S.T, M.T. menyebut kerusakan lingkungan hidup tak bisa dilepaskan dari aktivitas ekonomi yang dilakukan manusia. Di sisi lain, kerusakan lingkungan itu berpotensi menghadirkan kerugian yang tak sedikit. Dia pun memaparkan upaya-upaya yang telah dilakukan pemda di DIY untuk mengantisipasi perubahan iklim.
“Studi Bappenas mengatakan ada potensi kerugian Rp544 triliun akibat perubahan iklim jika tidak ada intervensi. Upaya untuk mengerem kerusakan lingkungan bisa mengurangi kerugian hingga Rp281,9 triliun. Berbagai kegiatan sudah dilakukan di DIY untuk menahan laju kerusakan lingkungan, misal mempertahankan kawasan pesisir agar tetap memperhatikan kelestarian biota laut,” ujarnya.
Dalam FGD tersebut, seluruh komponen yang hadir sepakat bahwa semua pihak harus berperan aktif mengantisipasi dampak perubahan iklim karena telah terbukti berpengaruh terhadap perekonomian. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat harus bahu membahu agar alam tetap lestari.