Stigma antargenerasi muncul ketika perbedaan nilai, karakter, dan gaya kerja dikotakkan dalam label negatif. Ini dapat menciptakan jarak emosional, miskomunikasi, dan bahkan menurunkan produktivitas tim. Di lingkungan Kementerian Keuangan, interaksi antara pegawai dari berbagai generasi—mulai dari Baby Boomers hingga Generasi Z—menciptakan dinamika kerja yang beragam.
Kementerian Keuangan bersama Tim Peneliti Universitas Gadjah Mada melakukan riset penguatan budaya organisasi secara kualitatif pada tahun 2024 untuk memahami kondisi budaya kerja secara lebih mendalam.

Hasil penelitian mengungkapkan tiga temuan utama.
- Pertama, perbedaan sikap kerja lebih berkaitan dengan tahapan karier daripada usia. Pegawai yang menempati posisi koordinatif menunjukkan kemampuan adaptasi dan kolaborasi yang tinggi, terlepas dari generasinya.
- Kedua, perbedaan karakteristik antargenerasi lebih disebabkan oleh tahap perkembangan karier, bukan oleh stereotip generasi. Generasi Y dan Z dianggap lebih kreatif, sementara Generasi X dihargai karena keteraturan dan ketelitiannya.
- Ketiga, pegawai dari berbagai generasi yang mengemban tanggung jawab koordinatif menunjukkan kemampuan kerja sama dan keterampilan adaptif yang sebanding. Perbedaan antargenerasi dapat diatasi melalui pembagian peran dan tanggung jawab yang sesuai.
Hal ini menegaskan perlunya pendekatan yang lebih inklusif dan berbasis peran dalam membangun sinergi lintas generasi. Maka dari itu, penting bagi organisasi untuk membangun sinergi antargenerasi melalui:
- Penghargaan atas Keberagaman: Menyadari bahwa tiap generasi memiliki kontribusi unik.
- Kolaborasi Positif: Mendorong kerja sama lintas usia untuk menciptakan solusi inovatif.
- Komunikasi Efektif: Mengurangi kesalahpahaman lewat dialog terbuka dan empatik.
- Pembelajaran Bersama: Mewadahi pertukaran pengetahuan antara pengalaman generasi senior dan perspektif segar dari generasi muda.

Mengatasi stigma antargenerasi bukan hanya tentang memperhalus perbedaan, tetapi tentang merajut kekuatan dari keberagaman. Dengan membuka ruang dialog, menghargai kontribusi unik tiap generasi, dan mendorong kolaborasi yang setara, diharapkan organisasi dapat terus memperkuat budaya kerja dan menjawab tantangan zaman secara adaptif. Kini saatnya beralih dari sekadar mengenali perbedaan menuju memanfaatkan keberagaman sebagai modal strategis dalam membangun organisasi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.


