
Pontianak, 31 Maret 2026 — Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Kalimantan Barat hingga akhir Februari 2026 menunjukkan peran yang semakin strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah di tengah tekanan global yang masih berlanjut. Ketidakpastian perekonomian dunia yang dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan di sejumlah negara utama, fluktuasi harga komoditas, serta dinamika kebijakan moneter global turut memberikan dampak terhadap kinerja ekonomi domestik. Dalam konteks regional, struktur ekonomi Kalimantan Barat yang masih bertumpu pada sektor komoditas dan perdagangan menjadikan APBN sebagai instrumen penting dalam menjaga daya tahan ekonomi sekaligus mendorong akselerasi pertumbuhan.
Hingga 28 Februari 2026, realisasi pendapatan negara di Kalimantan Barat mencapai Rp1.870,90 miliar atau 11,15% dari target Rp16.785,72 miliar, dengan pertumbuhan sebesar 14,34% secara tahunan. Peningkatan ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik masih terjaga, khususnya pada sektor perdagangan dan jasa. Penerimaan perpajakan terealisasi sebesar Rp1.581,00 miliar atau 9,99% dari target, tumbuh 13,74% (year on year), didukung oleh peningkatan pada sektor Administrasi Pemerintahan. Sementara itu, sektor Perdagangan Besar dan Eceran tetap menjadi kontributor utama, mencerminkan konsumsi masyarakat yang relatif stabil di tengah tekanan eksternal.
Di sisi kepabeanan dan cukai, penerimaan masih mengalami tekanan akibat dinamika harga komoditas global, khususnya crude palm oil (CPO). Hingga Februari 2026, kinerja bea dan cukai secara tahunan tercatat mengalami kontraksi sebesar 36,06%, yang terutama disebabkan oleh penurunan pada Bea Keluar sebesar 59,15%. Penurunan ini berkaitan dengan perubahan tarif dan harga referensi komoditas CPO di pasar global. Namun demikian, komponen Bea Masuk dan Cukai tetap menunjukkan pertumbuhan masing-masing sebesar 22,60% dan 61,25%, mencerminkan aktivitas impor dan konsumsi barang kena cukai yang masih terjaga.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencatatkan realisasi sebesar Rp289,90 miliar atau 30,01% dari target Rp965,90 miliar, dengan pertumbuhan sebesar 17,72% secara tahunan. Kinerja ini didukung oleh peningkatan pada PNBP lainnya serta pendapatan Badan Layanan Umum, yang menunjukkan adanya optimalisasi sumber penerimaan negara di luar perpajakan sebagai respons terhadap dinamika ekonomi.
Dari sisi belanja negara, realisasi hingga akhir Februari 2026 mencapai Rp4.307,92 miliar atau 16,30% dari pagu Rp26.433,64 miliar. Di tengah upaya menjaga kualitas belanja, Belanja Pemerintah Pusat tumbuh signifikan sebesar 39,15% secara tahunan dengan realisasi Rp1.016,40 miliar atau 10,04% dari pagu. Akselerasi belanja ini menjadi penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah, terutama ketika sektor eksternal menghadapi tekanan.
Komposisi belanja pemerintah pusat didominasi oleh Belanja Pegawai yang terealisasi sebesar Rp655,31 miliar atau 13,61% dari pagu. Belanja Barang sebesar Rp237,12 miliar atau 7,38% dari pagu dimanfaatkan untuk mendukung operasional layanan publik dan bantuan kepada masyarakat. Sementara itu, Belanja Modal sebesar Rp123,97 miliar atau 5,93% dari pagu difokuskan pada pembangunan infrastruktur dasar, yang menjadi salah satu faktor kunci dalam memperkuat konektivitas dan produktivitas ekonomi di Kalimantan Barat, terutama dalam menghadapi tantangan geografis wilayah.
Berdasarkan fungsinya, belanja negara menunjukkan penguatan pada sektor pelayanan publik. Fungsi Pelayanan Umum mencatatkan realisasi terbesar sebesar Rp3.342,47 miliar, mencerminkan stabilitas tata kelola pemerintahan. Sementara itu, fungsi Perumahan dan Fasilitas Umum mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 785,8%, yang mengindikasikan percepatan pembangunan infrastruktur dasar seperti perumahan, sanitasi, air minum, dan kawasan permukiman.
Kinerja APBD konsolidasian di Kalimantan Barat hingga akhir Februari 2026 menunjukkan kondisi fiskal yang masih terjaga, dengan pendapatan daerah sebesar Rp2.722,93 miliar dan belanja daerah sebesar Rp1.242,38 miliar. Surplus sebesar Rp1.480,56 miliar dan SILPA sebesar Rp1.463,32 miliar memberikan ruang fiskal bagi pemerintah daerah untuk mengantisipasi risiko ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan program pembangunan.
Selain menjaga stabilitas, APBN juga terus mendukung pelaksanaan Program Prioritas Nasional di daerah. Program Makan Bergizi Gratis hingga 30 Maret 2026 telah didukung oleh 396 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan 13.807 petugas dan menjangkau 877.222 penerima manfaat, atau sekitar 70% dari target 586 SPPG dan 1.250.037 penerima manfaat. Di sektor pendidikan, pembangunan Sekolah Rakyat terus berjalan dengan realisasi di Kota Pontianak sebesar Rp2.647,01 juta, Kabupaten Ketapang sebesar Rp533,06 juta, dan Kabupaten Landak sebesar Rp394 juta. Program ini diharapkan dapat memperluas akses pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah.
Dukungan terhadap sektor usaha juga diperkuat melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang hingga 31 Maret 2026 telah mencapai Rp125,59 miliar kepada 283 debitur. Program ini menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga keberlangsungan usaha mikro dan kecil di tengah dinamika ekonomi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.


















