Kinerja perekonomian Sultra pada triwulan II 2021 tumbuh 4,21%. Seluruh lapangan usaha tumbuh positif, bahkan beberapa lapangan usaha yang sempat mengalami kontraksi paling dalam dapat tumbuh cukup signifikan. Sektor penyumbang terbesar pertumbuhan Sultra adalah perdagangan besar dan eceran dengan kontribusi terhadap pertumbuhan Sultra sebesar 0,84%. Sedangkan pada sisi pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT) tidak lagi menjadi komponen yang mendominasi PDRB Sultra dan tergantikan oleh kegiatan ekspor.
Secara konsolidasian pendapatan negara semester I 2021 mencapai Rp2.544,71 miliar meningkat 46,44% dibanding tahun 2020. Pendapatan perpajakan pada APBN menjadi sumber utama pendapatan negara di Sultra (82,93%) sementara pada APBD, pendapatan terbesar berupa dana transfer (85%). Secara konsolidasian, realisasi belanja semester I 2021 berkontribusi sebesar 12,18% dari total PDRB Sultra semester I 2021.
Peningkatan kasus positif harian COVID-19 di Sultra disikapi dengan penerapan pengetatan PPKM atau PPKM Level 3 di sebagian besar kab/kota mulai awal kuartal kedua 2021. Berdasarkan data Google Mobility Index, penerapan PPKM Level 3 tidak terlalu berdampak pada aktivitas masyarakat secara umum, bahkan aktivitas masyarakat di pertokoan, apotek, dan taman mengalami peningkatan dibanding sebelum pandemi COVID-19. Aktivitas yang mengalami penurunan hanya terjadi pada daerah pusat transportasi umum dan tempat kerja yang menerapkan syarat protokol kesehatan lebih ketat. Berdasarkan data tersebut, diperkirakan pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan dan penyediaan akomodasi dan makan minum di kuartal ketiga 2021 akan mengalami penurunan. Dengan pangsa terhadap PDRB Sultra kurang dari 5%, dampak penurunan sektor transportasi dan pergudangan dan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum hanya akan sedikit mengkoreksi pertumbuhan Sultra di kuartal ketiga (ceteris paribus).
Terdapat hubungan, baik jangka pendek maupun jangka panjang antara penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi di Sultra. Kontraksi ekonomi yang berlangsung lama akan menyebabkan tingkat pengangguran yang parah. Penurunan kinerja perekonomian akan memberikan dampak penurunan penyerapan tenaga kerja pada periode T+5 setelah terjadinya penurunan kinerja.
Potensi sektor perikanan Sultra sangat besar, namun perannya terhadap pengembangan sektor lainnya masih rendah. Keterkaitan ke belakang sektor perikanan rendah yang artinya pengelolaan sektor perikanan belum didukung oleh industri hulu yang memadai. Hubungan keterkaitan ke depan berada di atas rata-rata namun hanya terhubung beberapa sektor khususnya terkait penyediaan makan dan minum. Permintaan antara yaitu menunjukkan jumlah barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi selanjutnya masih tergolong rendah dengan kontribusi 5,60%. Ekspor sektor perikanan sebesar 99,55% merupakan ekspor antar provinsi dan hanya 0,45% merupakan ekspor luar negeri.
Simak detail Kajian Fiskal Regional Triwulan II 2021 Sultra pada tautan berikut: https://bit.ly/KFRSultra_twII2021
Dan untuk reviunya klik link berikut: https://bit.ly/KuesKFRTWII2021








