Manado, Oktober 2025
- Global dan Nasional: ketidakpastian global masih tinggi ditandai Eskalasi tensi perang dagang AS-Tiongkok, Trump Tetapkan tambahan tarif 100% Untuk China Per 1 November 2025. Tercermin pada Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur global tetap Ekspansif pada 50,8 dan Indonesia Ekspansif pada level 50,4 per Oktober 2025. Dilaporkan juga terjadinya kenaikan tingkat output, ekspor, pesanan baru, dan lapangan pekerjaan global. Dari dalam negeri di tingkat nasional, pada Q2 2025 ekonomi Indonesia tetap tumbuh positif 5,14% yoy di tengah tantangan ketidakpastian. Sebagian besar sektor ekonomi tumbuh positif dan impresif menopang kinerja ekonomi nasional (diantaranya Sektor Industri Pengolahan 11,31% yoy, Perdagangan dan Reparasi 13,57% yoy, Konstruksi 9,23% yoy, dst). Inflasi pada Agustus 2025 terkendali pada level 2,31% yoy. Nilai tukar rupiah pada bulan September 2025 dilaporkan berfluktuasi pada rentang 16.348 – 16.775 per USD/IDR (kurs JISDOR).
-
Regional Sulawesi Utara: di tengah situasi ketidakpastian global, perekonomian Sulawesi Utara mampu tetap tumbuh kuat 5,64% yoy pada Q2 2025. Tiga aspek pendorong pertumbuhan ekonomi Sulut yaitu pertama; aktivitas produksi menguat antara lain dipicu pertumbuhan pada Lapangan Usaha Pertanian seiring tingginya permintaan atas daging hasil peternakan, peningkatan penjualan daya listrik pada segmen Industri dan Bisnis, surplus neraca perdagangan, dll. Kedua, tingginya mobilitas masyarakat di sepanjang Q2 2025 seiring momentum beberapa hari besar keagamaan yang jatuh pada triwulan II 2025 (Idul Fitri, Wafat Isa Al Masih, Waisak, Kenaikan Isa Al Masih, Idul Adha, Tahun Baru Islam) ditambah libur sekolah yang mendorong peningkatan aktivitas berpergian masyaraka Sulawesi Utara. Dilaporkan terjadi peningkatan jumlah penumpang di seluruh moda transportasi pada Q2 2025 diantaranya Angkutan Laut tumbuh 0,71% yoy dan Angkutan Darat tumbuh 9,41% yoy. Terakhir, tetap tingginya tingkat konsumsi masyarakat turut mendorong tumbuhnya perekonomian Sulawesi Utara pada Q2 2025 tercermin pada tingkat Kredit Konsumsi yang tumbuh 7,67% yoy didukung tingkat inflasi yang terjada pada rentang target 2,50% ± 1%.
- Selanjutnya, dari sisi pemerintah, APBN tetap menjadi shock absorber dampak dari gejolak dan ketidakpastian ekonomi di tingkat global dan dampak bawaannya ke tingkat nasional dan regional Sulawesi Utara, sekaligus sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi di tingkat regional. Atas pelaksanaan APBN di Sulawesi Utara sampai dengan 31 September 2025, Pendapatan Negara telah terealisasi sebesar Rp3.341,02 miliar atau 64,71% dari target yang telah ditetapkan. Berdasarkan jenisnya, beberapa jenis penerimaan negara menunjukkan pertumbuhan antara lain Penerimaan Perpajakan tumbuh 9,91% yoy, PNBP tumbuh 2,20% yoy, termasuk penerimaan Kepabeanan dan Cukai tumbuh 129,12% yoy, dan penerimaan atas Pengelolaan Kekayaan Negara dan Lelang tumbuh 53%.
-
Di Sulawesi Utara, pendapatan perpajakan menjadi sumber utama pendapatan negara dalam APBN. Tercatat realisasi penerimaan pajak di Sulawesi Utara sampai dengan 30 September 2025 adalah sebesar Rp2.219,92 miliar atau telah terealisasi sebesar 61,18% dari target penerimaan perpajakan tahun 2025.
-
Selain dari penerimaan pajak, salah satu sumber pendapatan negara adalah dari pendapatan bea dan cukai dimana realisasi sampai dengan akhir Seprtember 2025, dilaporkan pendapatan bea dan cukai telah terealisasi sebesar Rp72,56 miliar atau 129,12% dari target. Terdiri dari penerimaan Cukai telah terealisasi sebesar Rp16,08 miliar, Bea Masuk sebesar Rp8,6 miliar, dan realisasi penerimaan Bea Keluar sebesar Rp47,8 miliar.
-
Komponen pendapatan negara lainnya adalah PNBP. Pendapatan APBN lainnya adalah Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Capaian PNBP s.d 30 September 2025 adalah sebesar Rp1.048,53 miliar atau 70,95% dari target.
-
Dari sisi Belanja APBN, telah terealisasi sebesar 67,21% dari alokasi/pagu dengan total nilai realisasi sebesar Rp15.329,81 miliar. Dari realisasi tersebut, sebesar Rp5.247,40 merupakan realisasi belanja satuan kerja instansi vertikal kementerian/lembaga di Sulawesi Utara dengan tingkat penyerapan 57,32% dari alokasi pagu. Terdiri dari realisasi Belanja Pegawai sebesar Rp2.806,10 miliar (76,83% dari pagu), Belanja Barang sebesar Rp2.039,81 miliar (50,00% dari pagu), Belanja Modal sebesar Rp405,90 miliar (28,16% dari pagu), dan realisasi Belanja Bantuan Sosial sebesar Rp22,59 miliar (81,17% dari alokasi pagu).
-
Realisasi Belanja juga terdiri dari realisasi atas Transfer Ke Daerah (TKD) sampai dengan 30 September 2025 telah disalurkan Rp10.055,41 miliar atau 73,89% dari pagu. Dari angka tersebut, DAU adalah jenis TKD dengan nilai realisasi terbesar yaitu Rp7.084,59 miliar (79,51% dari pagu). DAK Non Fisik dengan terealisasi sebesar Rp1.163,85 miliar (64,59% dari pagu), Dana Desa terealisasi sebesar Rp862,60 miliar (77,55% dari pagu), Dana Bagi Hasil terealisasi Rp645,54 miliar (72,86% dari pagu), DAK Fisik terealisasi Rp230,70 miliar (29,24% dari pagu), dan Insentif Fiskal telah terealisasi Rp68,31 miliar (69,12% dari pagu).
- Dapat disimpulkan, di tengah dinamika ketidakpastian global yang tetap tinggi, perekonomian Sulawesi Utara pada Q2 2025 ini tetap resilien tumbuh kuat pada level 5,64% yoy. Fiskal baik melalui APBN maupun APBD di Sulawesi Utara berperan sebagai shock absorber tekanan yang muncul untuk melindungi masyarakat dan menjadi katalisator untuk menjaga stabilitas ekonomi di sepanjang tahun 2025.







