GKN I lt.1 - Jl. Urip Sumoharjo KM.4 Makassar 90232 

Kota Makassar, selain dikenal sebagai pusat perdagangan dan budaya di Indonesia bagian timur, juga memiliki kekayaan sejarah yang terekam dalam nama-nama daerahnya. Setiap nama daerah di kota ini membawa makna tersendiri yang mencerminkan kondisi geografis, nilai-nilai lokal, hingga kisah masa lalu yang diwariskan dari generasi ke generasi. Nama-nama ini bukan sekadar penanda wilayah, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang memperkaya karakter Kota Makassar.

Nama-nama daerah di Makassar, seperti Panakkukang, Tallo, Tamalanrea, dan lain-lain, masing-masing menyimpan filosofi dan cerita yang erat dengan kehidupan masyarakat setempat. Bagi penduduk asli maupun generasi penerus, nama-nama ini membawa kebanggaan tersendiri. Melalui pengenalan dan pemahaman lebih dalam terhadap asal-usul dan arti nama-nama tersebut, kita dapat melihat bagaimana kearifan lokal masih hidup dan memberikan warna di tengah modernisasi kota ini.

Artikel ini akan membahas lebih lanjut arti di balik nama-nama daerah di Kota Makassar. Selain memperkaya pengetahuan budaya, pemahaman ini juga dapat meningkatkan kecintaan kita pada kota dan masyarakatnya. Simak lebih lanjut untuk mengetahui makna yang tersimpan dalam nama-nama daerah di Makassar serta nilai-nilai yang diwariskannya hingga kini.

Berikut beberapa arti dari nama-nama daerah di Kota Makassar:

  1. Panakkukang
    Nama Panakkukang berasal dari kata dalam bahasa Makassar "nakku" yang berarti mencium, dan "kan" yang berarti kebun. Secara harfiah, ini mengacu pada "kebun yang harum" atau tempat yang indah untuk dinikmati, menggambarkan wilayah yang subur dan banyak tumbuh-tumbuhan.

  2. Tallo
    Tallo adalah salah satu kerajaan kuno yang pernah berdiri di Makassar. Dalam bahasa Makassar, Tallo berarti "keberanian" atau "semangat juang," mencerminkan sejarah wilayah ini sebagai pusat peradaban dan kekuatan di masa lalu.

  3. Tamalanrea
    Nama Tamalanrea diambil dari bahasa Makassar, yang terdiri dari kata "tamala" (seperti atau menyerupai) dan "rea" (besar atau megah), yang berarti "besar dan indah." Nama ini mengisyaratkan daerah ini memiliki alam yang megah dan luas, serta memiliki sejarah sebagai area dengan potensi besar.

  4. Rappocini
    Rappocini berasal dari bahasa Makassar, kata "rapo" berarti berkumpul atau bersatu, dan "cini" berarti tempat. Nama ini dapat diartikan sebagai "tempat berkumpul atau tempat persatuan." Daerah ini dikenal sebagai tempat untuk berbagai aktivitas masyarakat dan pusat kebersamaan.

  5. Mariso
    Nama Mariso berasal dari kata "marisomang" yang berarti suara ombak atau riak air. Letaknya yang dekat dengan laut memberi kesan wilayah yang tenang dan damai, diiringi suara ombak yang menjadi ciri khas wilayah pesisir ini.

  6. Ujung Pandang
    Ujung Pandang berasal dari kata “ujung” yang berarti “titik akhir” atau “tanjung” dalam bahasa Makassar, dan “pandang” yang berarti “melihat” atau “memandang.” Ini mengacu pada tempat yang berada di ujung tanjung, tempat strategis untuk mengamati laut lepas.

  7. Manggala
    Manggala berasal dari kata dalam bahasa Makassar yang berarti "pemimpin" atau "yang memimpin." Daerah ini dikenal dengan nuansa kepemimpinan yang kuat dan kental dengan semangat kearifan lokal.

  8. Bontoala
    Bontoala berasal dari kata "bonto" yang berarti bukit, dan "ala" yang berarti pedesaan. Secara keseluruhan, nama ini dapat diartikan sebagai "bukit yang berada di area pedesaan," menggambarkan daerah yang subur dan memiliki pemandangan alam.

  9. Tamalate
    Nama Tamalate berasal dari kata “tamara” yang berarti "tidak terlihat," dan "late" yang berarti "berkeliaran." Nama ini mengacu pada daerah yang di masa lampau memiliki area yang sulit dijangkau atau terpencil.

  10. Biringkanaya
    Biringkanaya terdiri dari kata "biring" yang berarti tebing atau dataran tinggi, dan "kanaya" yang berarti bersinar atau terang. Nama ini menggambarkan wilayah yang tinggi dan menjadi tempat memandang atau melihat dari kejauhan.

  11. Mamajang
    Nama Mamajang berasal dari kata dalam bahasa Makassar, mama’ jang, yang berarti "tempat beristirahat atau tempat berlindung." Daerah ini dulu dikenal sebagai tempat persinggahan atau tempat perlindungan bagi para pelaut dan pendatang dari luar wilayah.

  12. Barombong
    Barombong berasal dari kata "baro" yang berarti jembatan dan "mbong" yang berarti besar. Nama ini bisa diartikan sebagai "jembatan besar." Wilayah ini memiliki sejarah sebagai jalur lintas yang menghubungkan wilayah pesisir dengan wilayah lainnya.

  13. Karuwisi
    Nama Karuwisi berasal dari kata "karu" yang berarti kasar atau tidak rata, dan "wisi" yang berarti tanah. Ini mencerminkan kondisi alam wilayah ini di masa lalu, yang berupa tanah berbatu atau kasar.

  14. Pampang
    Nama Pampang diambil dari kata dalam bahasa Makassar yang berarti "daerah terbuka" atau "padang rumput." Daerah ini dulunya adalah padang terbuka yang digunakan sebagai lahan untuk ternak dan bercocok tanam.

  15. Sudiang
    Sudiang berasal dari kata "sudi" yang berarti baik atau berkah, dan "ang" yang merujuk pada suasana atau keadaan. Nama ini mencerminkan harapan masyarakat agar daerah ini diberkahi dan menjadi tempat tinggal yang nyaman dan sejahtera.

  16. Parangtambung
    Nama Parangtambung berasal dari kata parang yang berarti "bukit" atau "tanah tinggi," dan tambung yang berarti "kayu." Ini mengacu pada daerah berbukit yang memiliki banyak pepohonan besar, menggambarkan keasrian alam wilayah tersebut.

  17. Kaluku Bodoa
    Kaluku Bodoa berasal dari kata kaluku yang berarti pohon kelapa, dan bodoa yang berarti "hutan kecil" atau "rerimbunan." Ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut dulunya adalah tempat banyak tumbuh pohon kelapa dalam hutan kecil.

  18. Bonto Matene
    Nama Bonto Matene berasal dari kata "bonto" (bukit) dan "matene" (merah). Nama ini mengacu pada bukit atau tanah berwarna merah yang menjadi ciri khas daerah tersebut, mungkin karena tanahnya yang kaya akan zat besi.

  19. Antang
    Nama Antang diambil dari kata "anta" yang berarti "menghormati" atau "sopan." Ini mencerminkan nilai-nilai keramahan dan kesopanan yang menjadi karakter masyarakat di daerah ini.

  20. Kassi-Kassi
    Kassi-Kassi berasal dari kata "kassi" yang berarti pasir. Nama ini mengacu pada tanah di wilayah tersebut yang dulu berupa daerah berpasir, mungkin dekat dengan wilayah pesisir atau muara sungai.

  21. Pannampu
    Nama Pannampu berasal dari kata "pannampu" dalam bahasa Makassar yang berarti tempat berlindung atau daerah yang menawarkan perlindungan. Ini mencerminkan bahwa daerah ini dulunya dikenal sebagai tempat berlindung bagi pendatang atau pelintas yang singgah.

  22. Tamamaung
    Tamamaung berasal dari kata dalam bahasa Makassar, yaitu "mamaung" yang berarti tempat bersembunyi atau terlindung. Nama ini mungkin merujuk pada sejarah daerah yang dulu memiliki hutan atau area teduh yang cocok sebagai tempat persembunyian.

  23. Gunung Sari
    Nama Gunung Sari berasal dari kata "gunung" dan "sari," yang berarti keindahan atau kecantikan. Nama ini mengacu pada daerah yang berada di dekat kawasan perbukitan yang indah dan memiliki pemandangan asri.

  24. Jongaya
    Nama Jongaya berasal dari bahasa Makassar, "jonga" berarti tinggi atau berdiri tegak, dan "aya" yang berarti tempat. Nama ini merujuk pada dataran tinggi atau daerah yang memiliki pemandangan luas dari ketinggian.

  25. Laikang
    Laikang berasal dari kata "laikang" yang berarti "air atau sumber air." Daerah ini dulunya dikenal memiliki banyak mata air, sehingga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar.

  26. Tamangapa
    Nama Tamangapa berasal dari kata "tamang" yang berarti kolam atau genangan, dan "apa" yang berarti air. Ini merujuk pada daerah yang dahulu banyak memiliki kolam atau genangan air, mungkin juga digunakan untuk irigasi pertanian.

  27. Pettarani
    Nama Pettarani diambil dari nama pahlawan atau tokoh lokal yang dihormati di Makassar. Nama ini menjadi simbol perjuangan dan pengabdian kepada masyarakat.

  28. Maradekaya
    Nama Maradekaya berasal dari kata "maradeka" yang berarti "merdeka" atau "bebas." Nama ini mencerminkan harapan agar wilayah ini bebas dari penjajahan atau kendala yang menghalangi kemajuan.

  29. Camba Berua
    Nama Camba Berua terdiri dari kata "camba," yang artinya tanah perbukitan atau hutan, dan "berua," yang berarti baru. Ini merujuk pada area perbukitan yang baru berkembang atau diolah.

  30. Kunjung Mae
    Kunjung Mae berarti "kunjung datang" atau tempat persinggahan. Nama ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut dulunya merupakan tempat singgah atau titik pertemuan bagi para pedagang atau pengunjung dari luar.

  31. Lette
    Nama Lette berarti "tinggi" atau "ketinggian" dalam bahasa Makassar, yang merujuk pada daerah yang terletak di dataran tinggi. Wilayah ini mungkin dulunya menjadi tempat pengawasan atau penjagaan karena posisinya yang strategis.

  32. Parangloe
    Nama Parangloe berasal dari kata "parang" yang berarti bukit atau tebing, dan "loe" yang berarti batu. Ini menggambarkan daerah berbukit dengan banyak formasi batuan yang khas.

  33. Tamalabba
    Tamalabba berasal dari kata "tamala" yang berarti tidak terlihat atau tersembunyi, dan "abba" yang berarti bersahabat. Nama ini mencerminkan daerah yang mungkin dulu terpencil namun dikenal sebagai tempat yang bersahabat dan aman.

  34. Kandea
    Nama Kandea berasal dari kata dalam bahasa Makassar "kandea" yang berarti makanan atau tempat makan. Nama ini merujuk pada area yang dulunya dikenal sebagai tempat persinggahan atau lokasi untuk menikmati makanan.

  35. Ballaparang
    Ballaparang berasal dari kata "balla" yang berarti rumah, dan "parang" yang berarti tebing. Secara harfiah, nama ini berarti "rumah di dekat tebing," mungkin merujuk pada permukiman di dekat wilayah yang berbukit atau curam.

  36. Biring Romang
    Nama Biring Romang terdiri dari kata "biring" (tebing) dan "romang" (hutan). Ini berarti "tebing hutan" atau daerah yang memiliki tebing dan banyak pepohonan, mencerminkan lanskap alam yang kaya.

  37. Paropo
    Nama Paropo berasal dari kata dalam bahasa Makassar yang berarti "tanah datar" atau "dataran luas." Daerah ini dulunya merupakan dataran yang digunakan untuk kegiatan masyarakat, seperti bertani atau berdagang.

  38. Maccini Sombala
    Nama Maccini Sombala terdiri dari kata "maccini" yang berarti perkebunan, dan "sombala" yang berarti jagung. Ini merujuk pada daerah yang dulunya terkenal dengan perkebunan jagung, yang menjadi sumber penghidupan bagi warga setempat.

  39. Maccini Parang
    Maccini Parang berarti perkebunan yang berada di dekat bukit atau tebing. Nama ini merujuk pada kondisi geografis daerah yang terletak di antara perkebunan dan tebing berbatu.

  40. Pampanang
    Nama Pampanang berasal dari kata "pampang" atau "pandang" yang berarti terbuka atau luas. Ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut memiliki tanah lapang atau ruang terbuka yang luas.

  41. Bonto Makkio
    Nama Bonto Makkio berasal dari kata "bonto" (bukit) dan "makkio" (besar atau megah). Ini merujuk pada bukit besar atau bukit yang menjulang tinggi, menjadi landmark atau ciri khas daerah tersebut.

  42. Pa’baeng-Baeng
    Nama Pa’baeng-Baeng berasal dari kata “baeng” yang berarti jalan atau persimpangan. Ini menunjukkan bahwa daerah ini dulunya adalah titik pertemuan atau persimpangan dari berbagai jalur atau rute perdagangan.

  43. Sinrijala
    Nama Sinrijala berasal dari kata "sinri" yang berarti melindungi atau menjaga, dan "jala" yang berarti jaring. Nama ini merujuk pada daerah yang dulunya menjadi tempat bagi nelayan untuk merawat atau menyiapkan jaring mereka.

  44. Mangasa
    Nama Mangasa berasal dari kata "mangasa" yang berarti maju atau berkembang. Nama ini melambangkan wilayah yang diharapkan terus berkembang dan maju dalam segi ekonomi atau kemasyarakatan.

  45. Biring Je’ne
    Nama Biring Je'ne berasal dari kata "biring" (tebing) dan "je'ne" (air), yang berarti "tebing air." Nama ini mengacu pada area di sekitar tebing yang memiliki aliran air atau dekat dengan sumber air.

  46. Bangkala
    Nama Bangkala berasal dari kata "bangka" yang berarti perahu dan "la" yang berarti tempat. Ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut mungkin dulunya adalah dermaga atau tempat persinggahan perahu.

  47. Katimbang
    Nama Katimbang berasal dari kata dalam bahasa Makassar yang berarti "penyeimbang." Ini mencerminkan harapan masyarakat setempat untuk hidup seimbang dalam hal kehidupan ekonomi, sosial, dan spiritual.

  48. Caddika
    Caddika berasal dari kata "caddi" yang berarti kecil atau sederhana. Nama ini mencerminkan harapan agar wilayah tersebut berkembang dengan rendah hati dan tetap mempertahankan kesederhanaan di tengah kemajuan.

  49. Pacinongan
    Nama Pacinongan berasal dari kata dalam bahasa Makassar, "cinong," yang berarti tempat bermain atau taman. Nama ini mengacu pada daerah yang sering digunakan sebagai tempat pertemuan, hiburan, atau rekreasi bagi penduduk setempat.

  50. Lariang Bangi
    Lariang Bangi berasal dari kata "lariang" (sungai) dan "bangi" (bersih atau jernih). Ini menunjukkan bahwa daerah tersebut berada di sekitar aliran sungai yang memiliki air jernih, yang dahulu mungkin menjadi sumber air bersih bagi masyarakat.

  51. Buntusu
    Nama Buntusu berasal dari kata "buntu" (ujung atau akhir) dan "su" (air), merujuk pada sebuah kawasan di tepi sungai atau aliran air yang berada di ujung suatu wilayah. Nama ini menggambarkan daerah yang berdekatan dengan air atau terletak di ujung aliran sungai.

  52. Kapasa Raya
    Kapasa berasal dari kata dalam bahasa Makassar yang berarti "peningkatan" atau "keberkahan." Nama ini menggambarkan harapan masyarakat agar daerah ini terus berkembang dan memberikan kesejahteraan bagi penduduknya.

  53. Borong
    Borong dalam bahasa Makassar berarti "lapangan" atau "dataran luas." Daerah ini mungkin dulunya adalah tempat terbuka atau lapangan yang digunakan untuk aktivitas publik, seperti berkumpul atau mengadakan acara-acara penting.

  54. Maccini Gusung
    Nama Maccini Gusung terdiri dari kata "maccini" yang berarti kebun, dan "gusung" yang berarti dataran tinggi atau tanah yang menonjol. Daerah ini kemungkinan adalah kawasan perkebunan yang berada di dataran tinggi.

  55. Tamangapa
    Tamangapa terdiri dari kata "tamang" yang berarti kolam atau genangan air, dan "apa" yang berarti air. Nama ini menunjukkan bahwa daerah ini dulunya memiliki banyak sumber air atau kolam alami, yang mungkin juga digunakan untuk kegiatan pertanian atau perikanan.

  56. Untia
    Untia dalam bahasa Makassar berarti "gelombang" atau "ombak kecil." Nama ini mencerminkan daerah pesisir yang berhubungan erat dengan laut, mungkin juga sebagai tempat bersandar perahu-perahu kecil di sekitar pesisir Makassar.

  57. Kalukuang
    Nama Kalukuang berasal dari kata kaluku, yang berarti kelapa. Wilayah ini mungkin dahulu dipenuhi pohon kelapa, menjadikannya daerah yang dikenal akan hasil perkebunan kelapanya.

  58. Tidung
    sebuah kelurahan di Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Kata "Tidung" memiliki arti "bukit atau gunung".

  59. Toddopuli
    Toddopuli berasal dari kata “toddo” yang berarti “berdiri” dan “puli” yang berarti “pohon kelapa.” Secara harfiah, Toddopuli berarti "pohon kelapa yang berdiri." Nama ini mungkin mengacu pada kawasan yang dulunya dipenuhi pohon kelapa, yang menjadi pemandangan khas di daerah tersebut. Kata Toddopuli juga bisa diambil dari kata Kata "Toddopulia" dalam bahasa Makassar memiliki arti sebagai simbol keteguhan dalam pendirian dan rela menanggung risiko apapun.  

  60. Minasa Upa
    Nama Minasa Upa berasal dari kata “minasa” yang berarti “hasil” atau “keberhasilan,” dan “upa” yang berarti “upaya” atau “usaha.” Nama ini memiliki makna filosofi yang menggambarkan bahwa usaha keras akan membawa hasil atau kesuksesan, sehingga menjadi harapan bagi masyarakat yang tinggal di sana.

  61. Mallengkeri
    Mallengkeri berasal dari kata “malleng” yang berarti “keliling” atau “lingkar” dan “keri” yang berarti “lembah.” Nama ini menggambarkan daerah yang mungkin berada di sekitar area berbukit atau memiliki lanskap yang melingkar dan rendah.

  62. Somba Opu
    Somba Opu berasal dari kata "somba" yang berarti “hormat” atau “penghormatan” dan “opu” yang berarti “raja” atau “pemimpin.” Nama ini merujuk pada kerajaan Gowa-Tallo yang memiliki benteng terkenal di wilayah ini. Somba Opu menjadi lambang kebesaran dan kehormatan kerajaan, dan kini menjadi situs sejarah penting. 

  63. Lasuloro
    Nama Lasuloro berasal dari kata “lasu” yang berarti “sakit” atau “luka,” dan “loro” yang berarti “dua.” Nama ini mungkin berakar dari cerita atau legenda lokal tentang dua kejadian atau dua individu yang mengalami kesulitan atau penderitaan di daerah tersebut.

  64. Kajenjeng
    Kajenjeng dalam bahasa Makassar berarti “menjenguk” atau “mengunjungi.” Nama ini bisa jadi diberikan untuk menandakan daerah yang menjadi tempat singgah atau pertemuan, seperti rumah keluarga atau tempat berkumpul bagi masyarakat setempat.

  65. Panampu
    Nama Panampu berarti “pelindung” atau “penjaga.” Nama ini menggambarkan fungsi wilayah ini di masa lalu sebagai area pertahanan atau tempat yang berperan dalam melindungi masyarakat sekitar.

  66. Labuang Baji
    Labuang Baji berasal dari kata “labuang” yang berarti “pelabuhan” atau “tempat bersandar,” dan “baji” yang berarti “baik” atau “aman.” Nama ini menggambarkan wilayah yang dulunya mungkin menjadi tempat bersandar perahu yang aman dan nyaman bagi para pelaut atau pedagang.

  67. Mamajang
    Mamajang dalam bahasa Makassar berasal dari kata yang berarti “terbuka” atau “luas.” Daerah ini mungkin dahulu merupakan lahan terbuka atau tempat yang sering digunakan untuk berkumpul, sehingga memiliki arti simbolik sebagai ruang publik yang luas.

  68. Baji Ati
    Baji Ati terdiri dari kata “baji” (baik) dan “ati” (hati), yang secara harfiah berarti "hati yang baik." Nama ini mencerminkan harapan agar penduduk di wilayah ini memiliki sifat baik hati dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan.

  69. Baji Gau
    Baji Gau berasal dari kata “baji” (baik) dan “gau” (perbuatan), yang berarti “perbuatan baik.” Nama ini melambangkan harapan agar masyarakat di wilayah ini selalu melakukan perbuatan yang baik dan terpuji.

  70. Baji Ateka
    Baji Ateka terdiri dari kata “baji” (baik) dan “ateka” (berpikir atau bijaksana). Nama ini berarti “pikiran yang baik” atau “kebijaksanaan,” menggambarkan harapan agar masyarakat di daerah ini memiliki pemikiran yang baik dan bijaksana.

  71. Baji Bicara
    Baji Bicara terdiri dari kata “baji” (baik) dan “bicara” yang berarti "perkataan atau berbicara." Nama ini menunjukkan nilai-nilai untuk berbicara dengan baik atau bijak, mengingatkan masyarakat untuk menjaga tutur kata.

  72. Baji Gio
    Baji Gio terdiri dari kata “baji” (baik) dan “gio” (penampilan atau cara berpakaian). Nama ini mengandung makna pentingnya tampil dengan baik dan rapi, atau memperhatikan cara berpakaian yang sopan.

  73. Baji Dakka
    Baji Dakka berasal dari kata “baji” (baik) dan “dakka” (teguh atau kuat). Nama ini memiliki arti “kebaikan yang teguh” atau "keteguhan dalam kebaikan," menggambarkan karakter yang kuat dalam memegang nilai-nilai kebaikan.

  74. Baji Minasa
    Baji Minasa terdiri dari kata “baji” (baik) dan “minasa” (hasil atau keberhasilan). Nama ini berarti “hasil yang baik” atau "keberhasilan yang baik," mencerminkan harapan agar segala usaha yang dilakukan di wilayah ini membuahkan hasil yang baik.

  75. Baji Pamai
    Baji Pamai berasal dari kata “baji” (baik) dan “pamai” (pekerjaan). Nama ini mengandung arti "pekerjaan yang baik" atau "usaha yang baik," melambangkan harapan agar masyarakat di wilayah ini selalu melakukan pekerjaan yang membawa manfaat dan kebaikan.

  76. Baji Areng
    Baji Areng terdiri dari kata “baji” (baik) dan “areng” (nama atau reputasi). Nama ini memiliki arti “nama baik” atau "reputasi yang baik," mencerminkan pentingnya menjaga nama baik dan martabat masyarakat di wilayah ini.

  77. Batua
    Nama Batua berasal dari kata “batu,” yang berarti “batu” atau “batuan.” Nama ini merujuk pada wilayah yang mungkin memiliki banyak batuan atau berada di area berbatu, sehingga menjadi ciri khas geografisnya.

  78. Borong
    Borong dalam bahasa Makassar berarti “lapangan” atau “dataran luas.” Nama ini menunjukkan bahwa daerah ini dulunya adalah tempat terbuka atau lapangan yang sering digunakan untuk berkumpul, kegiatan sosial, atau acara masyarakat.

  79. Makkio Baji
    Makkio Baji terdiri dari kata “makkio” yang berarti “tempat berkumpul” atau “tempat ramai,” dan “baji” yang berarti “baik.” Nama ini mengacu pada tempat yang sering menjadi pusat berkumpulnya orang-orang untuk melakukan hal-hal baik, seperti pertemuan sosial atau kegiatan keagamaan.

  80. Bonto Makkio
    Bonto Makkio terdiri dari kata “bonto” yang berarti “bukit” dan “makkio” yang berarti “ramai” atau “besar.” Nama ini merujuk pada sebuah bukit yang mungkin dulunya sering menjadi pusat kegiatan atau tempat pertemuan besar.

  81. Bontoala
    Bontoala berasal dari kata “bonto” (bukit) dan “ala” yang berarti “tempat.” Nama ini berarti “tempat di bukit” atau “bukit sebagai tempat tinggal,” mengacu pada daerah yang berada di dataran tinggi atau perbukitan.

  82. Rappokalling
    Nama Rappokalling berasal dari kata “rapo” yang berarti “teduh” atau “damai,” dan “kalling” yang berarti “kecil.” Nama ini menggambarkan tempat yang tenang atau damai, yang mungkin dulunya adalah area kecil dengan suasana teduh atau nyaman bagi penduduk.

  83. Bonto Duri
    Bonto Duri berasal dari kata “bonto” (bukit) dan “duri” (duri atau tanaman berduri). Nama ini mungkin merujuk pada bukit yang dipenuhi tanaman berduri atau area yang memiliki vegetasi khas dengan duri, seperti kaktus atau semak belukar.

  84. Bonto Tangnga
    Bonto Tangnga terdiri dari kata “bonto” (bukit) dan “tangnga” yang berarti “tengah.” Nama ini mengacu pada bukit yang terletak di tengah area lain atau berfungsi sebagai titik sentral dalam wilayah tersebut.

  85. Bonto Nompo
    Bonto Nompo terdiri dari kata “bonto” (bukit) dan “nompo” yang berarti “penopang” atau “pendukung.” Nama ini berarti “bukit yang menopang” atau “bukit yang kuat,” melambangkan kekuatan atau keteguhan wilayah yang berfungsi sebagai penopang bagi area sekitarnya.

  86. Bonto Biraeng
    Bonto Biraeng berasal dari kata “bonto” (bukit) dan “biraeng” yang berarti “berdaun” atau “rimbun.” Nama ini menggambarkan bukit yang dipenuhi dengan pepohonan rimbun atau tumbuhan hijau, menciptakan pemandangan yang asri dan subur.

  87. Karunrung
    Nama Karunrung diyakini berasal dari kata “karu-karu” yang dalam bahasa Makassar berarti "serpihan" atau "kerikil kecil" dan "rung" yang berarti "tersebar." Nama ini mengacu pada daerah yang mungkin memiliki banyak batu kerikil atau serpihan-serpihan kecil yang tersebar, atau menggambarkan kondisi tanah yang berbatu pada masa lalu.

  88. Jipang
    Jipang berasal dari istilah yang kemungkinan terkait dengan kata “jipang” yang dalam beberapa konteks tradisional Makassar dan Bugis mengacu pada “persembahan” atau “hadiah.” Nama ini mungkin menggambarkan daerah yang pada masa lalu dijadikan tempat pemberian persembahan atau simbol penghormatan dalam budaya lokal, atau bisa juga merujuk pada komunitas masyarakat yang tinggal di sana dengan peran istimewa.

  89. Pattunuang
    Kata Pattunuang berasal dari bahasa Makassar yang berarti "tempat atau wilayah yang ditentukan atau dijaga". Dalam konteks sejarah, Pattunuang merupakan nama kawasan yang erat kaitannya dengan administrasi atau wilayah tertentu dalam struktur kerajaan Makassar. Biasanya, nama ini mengacu pada wilayah yang memiliki otoritas tertentu atau wilayah yang dijaga dengan ketat oleh penguasa.
  90. Tello
    Tello kemungkinan besar berasal dari bahasa Makassar bisa merujuk pada sebuah wilayah yang terdiri dari beberapa bagian. Dalam sejarahnya, daerah ini memiliki banyak pemukiman atau suku yang berasal dari komunitas yang lebih besar. Nama ini sering diasosiasikan dengan komunitas yang cukup berpengaruh di Makassar pada masa lalu.
  91. Mappala
    Mappala berasal dari bahasa Makassar, yang artinya adalah "tempat tinggal atau wilayah yang ditempati" atau lebih sering merujuk kepada tempat yang menjadi pusat kegiatan masyarakat, seperti tempat berkumpul atau tempat dimana suatu aktivitas sosial berlangsung. Nama ini juga bisa merujuk pada kelompok atau komunitas tertentu yang sudah lama menetap di kawasan tersebut.

  92. Bontosunggu
    Bontosunggu dalam bahasa Makassar berarti "di atas bukit" atau "di puncak". Nama ini merujuk pada posisi geografis daerah tersebut yang terletak di kawasan yang lebih tinggi, seperti di sekitar bukit atau dataran tinggi di Makassar. Kata "bonto" berarti "atas", sedangkan "sunggu" berarti "bukit" atau "puncak".

  93. Tinumbu
    Tinumbu berasal dari bahasa Makassar, yang berarti "tempat atau daerah yang ditumbuhi" atau bisa juga berarti "tempat yang berkembang". Nama ini sering dikaitkan dengan area yang berkembang pesat atau menjadi pusat kegiatan tertentu, baik itu pemukiman atau daerah yang memiliki banyak sumber daya alam.

  94. Mariso
    Mariso memiliki asal dari bahasa Makassar yang bisa berarti "berkumpul" atau "tempat berkumpul". Secara historis, kawasan ini sering digunakan sebagai tempat pertemuan atau sebagai pusat aktivitas sosial dan perdagangan masyarakat. Daerah Mariso juga merupakan kawasan penting yang dekat dengan pelabuhan dan pusat ekonomi.

  95. Mattoangin
    Arti: Mattoangin berasal dari bahasa Makassar yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai "tempat yang terkena angin" atau "terbuka ke arah angin". Secara figuratif, nama ini bisa merujuk pada suatu daerah yang berada di tempat terbuka atau sering terkena angin, yang bisa jadi menggambarkan wilayah yang lebih sejuk atau bebas hambatan angin. Secara historis, daerah ini juga terkait dengan wilayah yang memiliki banyak aktivitas masyarakat.

  96. Karebosi
    Arti: Karebosi berasal dari bahasa Makassar, yang berarti "tanah lapang" atau "lapangan". Dalam konteks ini, Karebosi merujuk pada sebuah tempat yang luas dan terbuka, seperti lapangan atau area yang digunakan untuk berbagai kegiatan sosial, olahraga, dan pasar.

 

Di daerah manakah anda tinggal atau pernah singgah di Kota Makassar? Kini kita tidak sekedar pernah mendengar nama tersebut, tapi juga tau makna dan sejarah di balik nama tersebut. Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua.  

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Makassar II
Gedung Keuangan Negara (GKN) I Lantai 1
Jl. Urip Sumoharjo KM. 4 Makassar 90232
Tel/Fax: 0411-457932

 

IKUTI KAMI

 

 PENGADUAN

 

Search