
Pangkalpinang, 12 Agustus 2025-Peningkatan ekspor menjadi salah satu kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan kuat bagi suatu wilayah. Berangkat dari strategi tersebut, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bangka Belitung (Babel) melaksanakan kegiatan temu para eksportir, supplier/petani komoditas ekspor, pelaku UMKM dan juga Pembina kelompok tani dalam kegiatan yang bertajuk “Kegiatan Kolaborasi Eksportir dan supplier komoditas unggulan Babel: Penguatan UMKM dan Pengembangan Desa Devisa Menuju Pasar Ekspor”. Kegiatan ini dilaksanakan bertempat di Aula Kanwil Ditjen Perbendaharaan Babel pada tanggal 12 Agustus 2025 yang juga melibatkan seluruh jajaran unit eselon I di Kementerian Keuangan di Provinsi Bangka Belitung. Terdapat 3 komoditas unggulan ekspor utama yang berasal dari Babel hasil dari kurasi dan arahan LPEI (Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia) yang merupakan salah satu SMV (Special Mission Vehicle) Kementerian Keuangan pada kegiatan sebelumnya. Komoditas unggulan tersebut yakni Lada, Ikan segar dan produk olahannya serta lidi nipah yang menjadi primadona komoditas ekspor unggulan yang berasal dari Babel selain komoditas timah.
Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong komoditas ekspor non timah yang masih belum dioptimalkan mengingat timah masih mendominasi jumlah komoditas ekspor terbesar di wilayah Babel. Kegiatan ini dibuka oleh Ibu Syukriah sebagai kepala Kanwil Ditjen perbendaharaan Babel sekaligus sebagai Kepala Perwakilan Kemenkeu di wilayah Babel. Seluruh pimpinan Kemenkeu satu Babel memiliki semangat, komitmen dan tekat kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di babel agar tidak terus bergantung terhadap hasil tambang yang pada akhirnya akan habis. Potensi unggulan non tambang yang dimiliki Babel perlu terus di dorong dan dioptimalkan pemanfataannya khususnya untuk meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat khususnya para petani lada, nelayan dan petani lidi nipah, menambah lapangan pekerjaan yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Pertemuan strategis ini juga tujuan untuk memperkuat rantai pasok dan mendorong peningkatan ekspor ke pasar global. Melalui akses pasar ekspor yang berkelanjutan, diharapkan pendapatan dan kesejahteraan pelaku usaha di hulu dapat meningkat secara signifikan.
Masih banyak tantangan yang dihadapi oleh para pejuang komoditas ekspor yang diungkap peserta dalam kegiatan tersebut. Seperti halnya kendala untuk komoditas lada yakni minimnya ketersediaan bahan baku yang dipasok oleh para petani yang menjadi tantangan utama bagi eksportir lada. Kelangkaan/minimnya supply lada tersebut juga diamini oleh para supplier/petani lada dari desa Nyelanding kabupaten Bangka Selatan yang merupakan daerah penghasil lada putih terbesar di wilayah bangka Belitung yang diwakili oleh Sekretaris desa Nyelanding. Dia mengakui minimnya supply/pasokan lada dari wilayahnya diakibatkan pengeluaran yang cukup besar untuk pembelian pupuk. Besarnya pengeluaran untuk pupuk tersebut tidak diimbangi dengan harga jual yang diterima oleh para petani lada. Begitupula untuk kebutuhan junjung (tonggak kayu untuk merambatnya tanaman lada) yang harga belinya juga masih tergolong mahal. Berkurangnya lahan perkebunan lada akibat perambahan penambangan timah liar dan faktor cuaca juga menjadi faktor penentu yang mempengaruhi rendahnya pasokan dari para petani.
Selain itu peserta dari kepala BP3L (Badan Pengelolaan Pengembangan Dan Pemasaran Lada) wilayah Babel juga menyatakan kendala utama yang mempengaruhi kualitas ekpor lada di Babel adalah pola pengeringan lada dan juga sertifikat indikasi geografis dari negara pengekspor yang akan mempengaruhi pemesanan lada dari negara lain. Pola pengeringan lada yang masih tradisional dan belum modern mengakibatkan kualitas lada di Babel perlu ditingkatkan agar tidak ditolak oleh negara lain. Kendala lain yang dihadapi oleh para petani lada adalah penyakit kuning lada yang sampai sekarang masih belum ditemukan cara penanganan yang efektif. Beralihnya para petani lada ke petani sawit serta perilaku petani yang menimbun lada sampai menunggu harga tinggi juga turut mempengaruhi jumlah pasokan yang diterima oleh para Eksportir lada di wilayah Babel tersebut. Ekspor lada dari Babel banyak dilakukan ke negara Vietnam karena di sana akses cukup mudah serta standarisasi pengolahan sudah lebih baik dibandingkan di Indonesia.
Lain halnya ekspor untuk komoditas ikan segar di wilayah Babel, para peserta mengungkapkan sampai saat ini tidak banyak kendala yang dihadapi oleh para eksportir. Kebanyakan supply ikan segar diperoleh para ekportir dari wilayah Muntok, sadai, Toboali, Sungailiat dan Belitung. Ekspor ikan segar dilakukan 3-4 kali dalam seminggu dengan jumlah total sekali ekspor bisa mencapai 30 ton ikan segar ke negara Malaysia dan juga Singapura. Jenis ikan yang banyak di ekspor ke 2 negara tersebut adalah jenis ikan kerapu, kakap dan jenis ikan karang lainnya. Selain itu jika ada permintaan ada juga ekspor kepiting serta cumi. Para eksportir tidak dapat melakukan ekpsor ke negara lain karena terhalang sertifikat yang masih berada di grade C. untuk meningkatkan grade sertifikat tersebut para eksportir harus memenuhi beberapa persyaratan seperti peningkatan kualitas sarpras gudang penyimpanan ikan dan hal lainnya.
Berbeda halnya dengan ekspor olahan ikan yang diwakili oleh Pemdes Kurau Barat sebagai sentra ekspor penghasil olahan ikan di wilayah Bangka Tengah. Berbekal 40 UKM yang bergabung dalam 1 sentra UKM yang bergerak di bidang pengolahan ikan berupa krupuk getas dan ampiang di wilayah Kurau Barat, para pengrajin merasa sangat kesulitan akan stock dan supplai bahan baku yang diperoleh dari para nelayan. Jenis ikan yang banyak digunakan adalah ikan kepetek dan ikan ciu sebagai bahan baku utama dalam pembuatan getas dan ampiang. Menurut penjelasan sekretaris desa Kurau Barat yang menjadi salah satu peserta di kegiatan tersebut, kedua jenis ikan tersebut di pilih oleh para pengrajin mengingat harganya yang tergolong masih murah dibandingkan dengan ikan tenggiri sebagai bahan baku produksinya. Terkadang para pengrajin membeli stock ikan dari desa sebelah apabila hasil tangkap ikan dari nelayan di desa Kurau Barat tidak mencukupi. Desa Kurau dan Kurau Barat merupakan salah satu sentra wilayah penghasil ikan terbesar di wilayah Bangka Tengah yang menjadi supplier utama bagi industri rumahan produk olahan ikan di wilayah Bangka Tengah tersebut. Pemasaran produk olahan ikan dari desa Kurau Barat tersebut sudah sampai ke luar pulau bahkan juga sampai di ekspor ke luar negeri berupa produk kreatif cie-cie yang banyak disukai oleh negara seperti Singapura dan Malaysia.
Sumber daya alam pohon nipah di Kepulauan Bangka Belitung sangat melimpah. Hal ini juga menjadi komoditas ekspor unggulan dari Babel. Dengan produk kerajinan lidi nipah sebagai salah satu industri kreatif di wilayah Bangka dan sudah terkenal ke berbagai daerah dan mancanegara, pemilik Deshandra Craft yang juga menjadi salah satu peserta kegiatan juga mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi selama 5 tahun menjalankan bisnisnya tersebut untuk bisa menembus pasar ekspor. Ketersediaan pasokan lidi nipah yang diperoleh dari para petani pencari lidi nipah juga belum optimal. Hal ini disebabkan bahan baku utama lidi nipah yang diperoleh petani didapatkan langsung dari pohon nipah yang banyak tumbuh diwilayah bakau, rawa dan pesisir pantai yang tak jarang resiko yang dihadapi adalah bertemu dengan ular dan buaya. Kondisi inilah yang menyebabkan petani lidi nipah meminta harga jual yang cukup tinggi kepada pengrajin/eksportir. Permasalahan lain juga dihadapi oleh pengrajin mengingat pihak pembeli dari mancanegara juga tidak berani mengambil harga yang tinggi dan cenderung meminta menyamakan harga dari jenis kerajinan yang dibuat.
Pangsa pasar ekspor produk kerajinan lidi nipah tersebut memang cukup tinggi, mengingat di setiap kegiatan pameran dan bazaar produk ekspor yang diikuti oleh pengrajin lidi nipah selalu mendapatkan pesanan dari pihak luar. Namun saat ini pihak pengrajin merasa kesulitan untuk melakukan pelebaran pemasaran ke pasar global yang disebabkan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengikuti kegiatan pameran dan bazaar tersebut juga membutuhkan biaya yang tidak tergolong murah. Pihak pengrajin meminta dukungan dari pemerintah dan pihak lainnya agar bisa membantu mengembangkan pemasaran produknya atau dibantu pembiayaan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pameran ekspor sejenis karna permodalan yang dimiliki saat ini sudah mulai berkurang.
Ekspor Lidi nipah di wilayah Babel mulai dilakukan di tahun 2020 saat wabah Covid-19 dengan penghasil utama lidi nipah berada di Desa Kapur kabupaten Bangka. Kepala Desa Kapur yang juga turut hadir dalam kegiatan tersebut juga memberikan kesaksian bahwa komoditas lidi nipah yang melimpah diwilayahnya juga turut meningkatkan pendapatan Masyarakat di wilayahnya. Namun kendala ketidaksesuaian harga yang ditawarkan oleh para petani lidi nipah ke pengrajin/eksportir nipah masih menjadi utama kenapa stock lidi nipah menjadi berkurang. Lidi nipah yang diambil harus dikeringkan dan diolah terlebih dahulu oleh para petani sebelum dijual ke pengrajin/eksportir. Ekosistem di desa kapur juga sudah berjalan dengan baik dengan terdapat sebanyak 50 orang petani lidi nipah yang sudah dilatih dan dipekerjakan untuk mengolah lidi nipah yang diperolehnya. Adanya ketidakcocokan harga tersebut membuat ekportir lidi nipah sempat mencari bahan baku ke wilayah provinsi lain untuk mengatasi keterbatasan stock tersebut.
Dari hasil diskusi tersebut akan ditindaklanjuti oleh Kemenkeu satu Babel untuk meningkatkan perannya dan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian di wilayah Babel agar ketergantungan terhadap timah bisa teratasi. Peningkatan layanan kepada para eksportir, pemberian pelatihan pembukuan, pengembangan akses pemasaran produk maupun bantuan lainnya akan terus diberikan oleh Kemenkeu satu Babel khususnya pengembangan komoditas ekspor non timah yang menjadi produk unggulan Babel mampu bersaing, berjaya dan mampu menembus pasar global untuk menambah pundi-pundi penerimaan daerah dan meningkatkan devisa negara.
Kontributor : Rino Radiansyah (Kepala Seksi PPA II B)
Informasi lebih lanjut hubungi:
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Bangka Belitung
Jl. Sungai Selan No. 91, Kota Pangkalpinang
Call Center: 0812-7345-2957
Telp: (0717) 433405
Fax: (0717) 435802



