
Denpasar, 19 Agustus 2025 – Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Bali bekerjasama dengan RRI Denpasar menggelar Podcast Interaktif bertajuk “Kita Setara” yang mengangkat tema “Perkembangan Fiskal, Ekonomi, dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Regional Bali” pada Selasa (19/8). Sebagai narasumber hadir Kepala Kanwil DJPb Bali, Muhamad Mufti Arkan, Kepala Seksi Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II (PPA II) DJPb Bali, Kusumo Adi Wibowo, dan Kepala Bidang Kredit Bank BPD Bali, AA Ngurah Oka Dhananjaya.
APBN Bali Capaian Positif
Muhamad Mufti Arkan, dalam paparannya, mengatakan APBN Bali sepanjang semester I 2025 menunjukkan indikator fiskal yang positif. Sampai 30 Juni, pendapatan total mencapai Rp10,42 triliun atau 44,62 persen dari target, dan belanja sebesar Rp10,09 triliun atau 45,14 persen. Seluruhnya berkontribusi pada surplus APBN di Bali sebesar Rp322,12 miliar. Sementara pada APBD, pendapatan tercatat Rp12,77 triliun atau 38,75 persen dari pagu, dan realisasi belanja Rp10,63 triliun atau 30,47 persen. Dengan kondisi ini, APBD Bali juga mencapai surplus Rp2,14 triliun, yang diimbangi dengan SiLPA di akhir semester I sebesar Rp2,70 triliun. Sektor Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam 18 bulan ke belakang menjadi penggerak utama, mencapai Rp8,13 triliun atau 63,69 persen dari total pendapatan, dengan pertumbuhan 18,20 persen dibandingkan dengan sepanjang tahun lalu. Keseluruhan riwayat menunjukkan, selama semester ini, pertumbuhan ekonomi Bali tetap di atas tingkat nasional.
KUR Jadi Penopang UMKM
Pada tahun 2025, Bali memperoleh plafon KUR sebesar Rp10,85 triliun. Hingga Juni 2025, realisasi penyaluran KUR tercatat Rp5,03 triliun kepada sekitar 65,7 ribu debitur, meski mengalami penurunan 14,46% dibanding tahun sebelumnya. KUR Mikro mendominasi dengan penyaluran Rp2,95 triliun, sedangkan KUR Kecil sebesar Rp2,07 triliun.
Kepala Seksi PPA II DJPb Bali, Kusumo Adi Wibowo, menjelaskan bahwa KUR merupakan program strategis pemerintah untuk memperluas akses pembiayaan UMKM dengan bunga rendah. “Bunga KUR disubsidi pemerintah sehingga jauh lebih murah dibanding bunga pasar. Plafon pembiayaan bervariasi mulai dari Rp10 juta untuk KUR Super Mikro hingga Rp500 juta untuk KUR Kecil dan KUR Khusus,” jelas Kusumo.
Ia juga menambahkan, KUR diprioritaskan bagi debitur baru karena masih banyak UMKM yang belum memiliki akses pembiayaan formal.
Dukungan BPD Bali untuk UMKM
AA Ngurah Oka Dhananjaya, Kepala Bidang Kredit Bank BPD Bali, menuturkan bahwa hingga Juli 2025, BPD Bali telah menyalurkan KUR senilai Rp1,08 triliun kepada 6.012 debitur. Rinciannya terdiri dari KUR Super Mikro Rp360 juta, KUR Mikro Rp253,15 miliar, dan KUR Kecil Rp828,90 miliar.
“BPD Bali memberikan sejumlah kemudahan bagi pelaku usaha, seperti bebas biaya provisi dan administrasi, proses cepat 2–3 hari, serta bunga menurun yang lebih fleksibel. Harapannya, semakin banyak UMKM Bali yang bisa memanfaatkan KUR untuk mengembangkan usahanya,” ujar Oka.
Sinergi Fiskal dan Pembiayaan untuk Bali Maju
Menutup diskusi, Kepala Kanwil DJPb Bali menegaskan bahwa sinergi fiskal pusat dan daerah, pertumbuhan ekonomi yang inklusif, serta dukungan pembiayaan perbankan, khususnya KUR, menjadi kunci penguatan ekonomi Bali. “Dengan APBN dan APBD yang sehat, ekonomi yang tumbuh berkualitas, serta dukungan KUR dan kredit produktif, Bali siap melangkah lebih maju,” pungkas Mufti.