
SP – 01/WPB.08/2026
Kilas Balik Kinerja APBN 2025: Pendapatan Melebihi Target, Belanja Terserap Optimal
Bandar Lampung, 30 Januari 2025 – Menutup tahun anggaran 2025, APBN Regional Lampung mencatatkan performa yang menggembirakan dengan Pendapatan Negara yang melebihi target dan Belanja Negara yang terserap optimal. Capaian ini berhasil diraih di tengah kondisi ketegangan geopolitik global dan volatilitas harga komoditas unggulan Lampung. Pada tahun 2026, APBN akan terus difungsikan sebagai instrumen utama stabilisasi dan akselerasi ekonomi, sekaligus motor pembangunan berbagai program prioritas, mewujudkan kedaulatan pangan, ketahanan energi, dan kesejahteraan masyarakat.
Kondisi Geopolitik Global dan Fluktuasi Harga Komoditas
Kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat terhadap Venezuela, kekhawatiran penurunan pasokan minyak bumi dari Rusia, Iran, dan Irak meningkatkan kecenderungan volatilitas harga minyak dunia pada awal tahun. Harga acuan beberapa komoditas unggulan mengalami koreksi, yang terdalam dialami kopi robusta dengan harga US$190,53 per pon, atau terkoreksi 11,33% dibandingkan bulan sebelumnya akibat banjir pasokan dari Vietnam. Sementara itu, Harga Batu Bara Acuan (HBA) tertekan tipis (-1,19% mtm) hingga level US$100,81 per ton imbas penimbunan stok secara masif oleh dua negara pengimpor, Tiongkok dan India. Selanjutnya, penurunan harga minyak mentah dunia dan pergeseran kebijakan konsumsi energi ke arah energi terbarukan secara global menjadikan harga CPO (Minyak Sawit Mentah) terkoreksi ke US$926,14 per metrik ton (-3,90% mtm).
Performa Perdagangan Luar Negeri Provinsi Lampung
Meskipun terpengaruh kondisi geopolitik, pertumbuhan devisa ekspor secara tahunan tetap dapat diraih oleh komoditas kopi dan CPO, masing-masing 83,04% (yoy) dan 33,91% (yoy). Sementara, pertumbuhan devisa ekspor Batu Bara terkoreksi 17,75% (yoy). Terdapat anomali positif pada struktur impor yaitu meskipun impor bahan baku turun 26,51% (mtm) (perlambatan produksi jangka pendek), terjadi lonjakan investasi barang modal sebesar 961,37% (mtm). Lonjakan ini memberikan sinyal bahwa pelaku industri di Lampung sedang melakukan peningkatan kapasitas produksi untuk menghadapi siklus ekonomi selanjutnya. Di tengah dinamika perdagangan luar negeri tersebut, Lampung tetap dapat menjaga surplus perdagangan dengan nilai sebesar US$386,70 juta pada November 2025.
Kinerja APBN Tutup Tahun 2025: Pendapatan Negara Impresif dan Belanja Negara Optimal
Menutup Tahun Anggaran 2025, Kinerja APBN Regional Lampung mencatatkan kinerja yang impresif. Pendapatan Negara melebihi target (107,98%) dengan pertumbuhan 6,85% dibandingkan tahun lalu. Hasil ini tidak lepas dari windfall Pajak Perdagangan Internasional, utamanya Bea Keluar CPO dan Batu Bara. Pada sisi Belanja Negara, meskipun mengalami kontraksi 5,26% (yoy) akibat efisiensi dan pergeseran prioritas terhadap program strategis nasional, penyerapan belanja mampu optimal sebesar 96,84%. Kinerja optimal Pendapatan Negara dan Belanja Negara Regional Tahun 2025 menghasilkan Defisit Anggaran sebesar Rp19.829,80 miliar yang menyempit -11,27% (yoy), menunjukkan komitmen disiplin fiskal serta perbaikan kualitas penerimaan dan belanja.
Secara mendetail, Pajak Perdagangan Internasional menghasilkan pendapatan sebesar Rp2.508,19 miliar sepanjang tahun 2025, dengan capaian yang melebihi target yaitu sebesar 364,65% dari target atau tumbuh 61,47% (yoy). Pendapatan Bea Keluar sendiri bernilai Rp2.128,17 miliar, dengan realisasi impresif 613,04% dari target atau tumbuh 116,72% (yoy). Selanjutnya, Belanja Pemerintah Pusat (BPP) terealisasi senilai Rp9.507,73 miliar, 93,95% dari pagu, terkontraksi 13,09% (yoy) dampak kebijakan efisiensi dan pergeseran prioritas belanja. Sedangkan Transfer ke Daerah mencatatkan keberhasilan penyaluran anggaran senilai Rp22.194,67 miliar, tercapai 98,14% dari pagu, dan sedikit terkontraksi 1,45% (yoy).
Progres Program Ketahanan Pangan di Provinsi Lampung
Kedaulatan pangan menjadi salah satu perhatian utama pemerintahan Presiden Prabowo, seperti tertuang dalam poin Asta Cita “mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan...” yang menyiratkan bahwa Indonesia harus dapat memenuhi kebutuhan pangannya dari produksi dalam negeri.
Program Ketahanan Pangan di Lampung sendiri difokuskan pada penguatan posisi sebagai salah satu lumbung pangan nasional melalui peningkatan produksi padi, jagung, dan singkong. Kementerian/Lembaga maupun Pemerintah Provinsi Lampung telah berkolaborasi dalam program penanaman serentak, pembangunan gudang pangan, penyerahan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) seperti alat pengering, dan program penyediaan Pupuk Organik Cair. Program-program tersebut didukung oleh anggaran ketahanan pangan sejumlah Rp1,603 triliun, dengan realisasi mencapai Rp1,249 triliun.
Secara umum, Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Provinsi Lampung tumbuh stabil dari tahun 2020 s.d. 2024. Seluruh Kabupaten/Kota di Lampung telah terbebas dari status rentan pangan, karena memiliki skor 4 atau lebih dalam perhitungan IKP. Namun perlu menjadi perhatian, yaitu penurunan Indeks Ketersediaan yang berada pada titik terendah dalam lima tahun terakhir. Selain itu, terdapat tiga Kabupaten (Lampung Timur, Tanggamus, dan Lampung Utara) yang memerlukan perhatian mendalam untuk mencegah penurunan status ketahanan pangan dari “Agak Tahan” menjadi “Rentan Pangan”.
Pada akhirnya, program-program penunjang ketahanan pangan di daerah perlu terus didukung baik dari segi pengelolaan anggaran, sinergi antar instansi, dan pengawasan keberlanjutan program. Harapannya, produksi bahan pangan Lampung dapat terus meningkat secara konsisten dan stabil serta memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri dan menyejahterakan kehidupan petani.

