
SP – 002/WPB.08/2026
Ekonomi dan Fiskal Lampung Awal 2026: Pajak Dalam Negeri Menguat dan Inflasi Terjaga di Tengah Tekanan Global
Bandar Lampung, 28 Februari 2026 – Kinerja APBN Regional Provinsi Lampung pada awal tahun 2026 menunjukkan resiliensi dan disiplin fiskal yang kuat di tengah tekanan sentimen moneter global dan volatilitas harga komoditas. Meski dibayangi kebijakan moneter global yang ketat serta gangguan logistik internasional, aktivitas ekonomi sektor riil di Lampung tetap berada dalam zona ekspansif. Kondisi ini didukung secara konsisten oleh penguatan sektor manufaktur serta kendali inflasi daerah yang terjaga dengan baik melalui koordinasi kebijakan yang solid.
Dinamika Moneter Global dan Tekanan Harga Komoditas Unggulan
Dinamika ekonomi global pada awal tahun ini didominasi oleh sentimen hawkish dari The Fed yang mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50% hingga 3,75%. Kebijakan tersebut secara langsung memperkuat posisi mata uang USD dan memberikan tekanan balik terhadap harga komoditas global. Situasi ini diperburuk oleh ketegangan geopolitik yang memicu lonjakan biaya kargo rute Asia menuju Amerika Serikat dan Eropa sebesar 15% hingga 20%. Akibatnya, harga komoditas unggulan Lampung mengalami koreksi signifikan per Januari 2026. Harga batu bara tercatat turun ke level US$96,47 per ton atau terkoreksi sebesar 4,30% (mtm), sementara harga referensi Crude Palm Oil (CPO) juga mengalami penurunan sebesar 1,13% (mtm) ke level US$915,64 per metrik ton. Penurunan paling tajam dialami oleh komoditas Kopi Robusta yang merosot sebesar 9,70% (mtm) akibat melimpahnya pasokan dari Vietnam di pasar internasional.
Resiliensi Sektor Manufaktur dan Stabilitas Harga Domestik
Meskipun harga komoditas global mengalami tekanan, sektor riil di Lampung menunjukkan performa yang sangat menggembirakan dengan indikator produksi yang tetap ekspansif. Hal ini tecermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang berada di level 52,6 serta Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang mencapai 54,12. Pada penutupan tahun 2025, Lampung mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$499,47 juta dengan lonjakan ekspor sebesar 24,29% (mtm) yang didominasi oleh sektor pertanian dan industri pengolahan. Sisi impor bahan baku juga meningkat signifikan sebesar 68,27% (mtm), memberikan sinyal kuat akan optimisme pelaku usaha dalam meningkatkan kapasitas produksi di awal tahun 2026. Dari sisi stabilitas harga, Lampung mencatatkan inflasi tahunan yang sangat terkendali sebesar 1,90% (yoy) berada pada rentang target inflasi 2,5±1%, bahkan mengalami deflasi bulanan sebesar -0,07% (mtm) yang dipengaruhi oleh penurunan harga pangan seperti cabai dan bawang merah serta penyesuaian harga bensin.
Kinerja Fiskal Regional Lampung: Pajak Domestik Menguat dan Belanja Lebih Efisien
Dari sisi kinerja fiskal, Pendapatan Negara di Lampung hingga 31 Januari 2026 terealisasi sebesar Rp782,09 miliar atau 5,84% dari target tahunan. Walaupun secara total terdapat kontraksi sebesar 4,89% (yoy) akibat penurunan penerimaan Bea Keluar yang terdampak pelemahan harga komoditas global, namun sektor perpajakan dalam negeri menunjukkan pertumbuhan impresif sebesar 29,30% (yoy) dengan capaian Rp510,77 miliar. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan aktivitas pada sektor administrasi pemerintahan dan industri pengolahan yang berdampak positif pada Pajak Penghasilan, PPN, dan PBB. Selain itu, PNBP tetap mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 7,74% (yoy).
Di sisi belanja, realisasi mencapai Rp3.267,69 miliar atau 11,90% dari pagu, yang menunjukkan adanya percepatan penyerapan anggaran dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal ini berdampak pada pelebaran defisit anggaran regional sebesar 5,21% (yoy) di angka Rp2.485,61 miliar, mengindikasikan peran APBN yang ekspansif di Provinsi Lampung pada awal tahun anggaran 2026.
Tantangan Strategis: Peluang Bioetanol dan Mitigasi Ketahanan Pangan Provinsi Lampung
Menatap masa depan, Provinsi Lampung bersiap menghadapi tantangan sekaligus peluang strategis melalui rencana mandatori Bioetanol E10 pada tahun 2027. Dengan potensi produksi mencapai 1,8 juta kiloliter (kL) per tahun yang bersumber dari komoditas tebu dan singkong, Lampung berpeluang menjadi pusat produksi bioetanol nasional untuk menutupi defisit kapasitas domestik yang saat ini mencapai 86%. Pemerintah terus melakukan mitigasi agar program hilirisasi ini tidak memicu konflik kepentingan antara kebutuhan energi dan pangan (food vs fuel) yang dapat berdampak pada stabilitas stok dan harga gula pasir serta tapioka. Diperlukan kebijakan terobosan untuk meningkatkan daya saing Harga Indeks Pasar (HIP) bioetanol dibandingkan pasar pangan mentah, serta keterlibatan investor strategis seperti Toyota dan Pertamina New & Renewable Energy (NRE) guna memastikan program ini mampu mendongkrak kesejahteraan petani tanpa mengganggu stabilitas pangan nasional.
![]()

