
SP – 004/WPB.08/2026
Lampung Tangguh Hadapi Gejolak Global, Ekonomi Terjaga dan Kinerja APBN Februari 2026 Tumbuh Positif
Bandar Lampung, 31 Maret 2026 – Di tengah dinamika global yang masih berfluktuasi, perekonomian dan kondisi fiskal Lampung pada awal tahun 2026 tetap menunjukkan ketahanan. Hal ini tercermin dari konsumsi rumah tangga yang terjaga, realisasi investasi yang terus tumbuh positif, serta inflasi yang tetap berada dalam rentang sasaran. Sejalan dengan itu, dari sisi fiskal, Penerimaan Negara mengalami pertumbuhan, sementara Belanja Negara dikelola secara lebih efisien.
Gejolak Global Berlanjut, Neraca Dagang Lampung Tetap Surplus
Di tengah dinamika global yang masih bergejolak, perekonomian Lampung dihadapkan pada berbagai tekanan eksternal yang perlu diantisipasi secara cermat. Penguatan dolar Amerika Serikat turut meningkatkan biaya impor input produksi dan bahan baku industri, sementara suku bunga global yang masih tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi aktivitas ekonomi. Di sisi lain, kebijakan pembatasan kuota produksi batubara, serta fluktuasi harga komoditas unggulan seperti CPO dan kopi robusta, turut memengaruhi kinerja perdagangan dan industri domestik. Kondisi geopolitik global, termasuk konflik di timur tengah, juga berdampak pada peningkatan biaya logistik dan asuransi pelayaran internasional.
Meski demikian, kinerja perdagangan luar negeri Lampung tetap menunjukkan ketahanan. Pada Januari 2026, neraca perdagangan tercatat surplus sebesar US$411,47 juta, mencerminkan posisi eksternal yang masih kuat. Kinerja ekspor memang mengalami penurunan secara bulanan sebesar 24,45%, namun secara tahunan menunjukkan perbaikan dengan kenaikan 4,73%. Penurunan bulanan terutama dipengaruhi oleh melemahnya ekspor industri pengolahan serta sektor pertambangan dan pertanian, sementara peningkatan tahunan didorong oleh pemulihan ekspor industri pengolahan. Di sisi lain, impor juga mengalami kontraksi sebesar 62,94% (yoy) dan 45,44% (mtm), kontraksi secara bulanan dipengaruhi oleh penurunan impor barang konsumsi, barang modal, serta bahan baku.
Surplus neraca perdagangan yang terjaga mencerminkan kemampuan daerah dalam menyeimbangkan tekanan eksternal, sementara penurunan impor turut mengindikasikan adanya penyesuaian terhadap kondisi global.
Kinerja Sektor Riil Lampung Menguat, Inflasi Februari Meningkat namun Tetap Terkendali
Pada periode ini, performa sektor riil Lampung menunjukkan progres positif. Hal ini tercermin melalui kontribusi rumah tangga yang tetap paling besar terhadap PDRB (61,61%) dan mampu tumbuh 4,94% (ctc). Pada sisi investasi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,28% (ctc) meningkat tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 1,78% (ctc). Sementara itu, pada Februari 2026 Lampung mengalami inflasi sebesar 2,95% (yoy) dan 0,36% (mtm) masih berada pada rentang terkendali 2,5±1%. Inflasi bulanan disebabkan kenaikan harga emas perhiasan, daging ayam, dan bawang merah.
Kinerja Fiskal Regional Februari 2026: Pajak Domestik Tumbuh Positif dan Belanja Diakselerasi
Kinerja APBN Regional Lampung hingga 28 Februari 2026 menunjukkan capaian yang tetap solid. Realisasi Pendapatan Negara mencapai Rp1.702,50 miliar atau 12,71% dari target, tumbuh 1,71% (yoy). Kinerja ini didukung oleh Pajak Dalam Negeri yang membukukan Rp1.070,84 miliar, tumbuh kuat 34,12% (yoy) dan PNBP yang meningkat 39,14% (yoy), utamanya dari Pendapatan BLU (tercapai Rp196,09 miliar, tumbuh 197,39% yoy). Sementara dari sisi Belanja Negara, hingga Februari telah terealisasi sejumlah Rp5.162,98 miliar atau 18,73% dari pagu, tumbuh 7,59% (yoy). Kinerja positif Belanja Negara periode ini didukung akselerasi Belanja K/L dan Transfer ke Daerah (TKD) yang masing-masing tumbuh 35,02% (yoy) dan 2,88% (yoy). Kontribusi belanja terbesar berasal dari TKD khususnya DAU (tersalur Rp2.919,13 miliar) dan DAK Nonfisik (tersalur Rp1.271,18 miliar).
Program 3 Juta Rumah: Akselerasi Penyediaan Hunian Layak di Lampung
Pemerintah terus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui Program 3 Juta Rumah sebagai bagian dari upaya strategis mengurangi backlog perumahan sekaligus menggerakkan sektor konstruksi. Di Provinsi Lampung, program ini menunjukkan tren progres yang positif pada tahun 2026. Hingga Maret 2026, realisasi Kredit Program Perumahan (KPP) telah mencapai Rp114,67 miliar yang disalurkan kepada 877 debitur. Selain itu, melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), telah berhasil dibangun 729 unit rumah, dengan 600 unit di antaranya telah terjual, serta realisasi anggaran mencapai Rp71,9 miliar.
Capaian ini memperkuat kinerja tahun sebelumnya, di mana hingga akhir 2025 realisasi Program 3 Juta Rumah di Lampung telah mencapai 16.466 unit, yang terdiri dari pembangunan oleh pengembang (12.873 unit), dukungan negara (2.492 unit), swadaya masyarakat (1.047 unit), serta gotong royong (54 unit). Hal ini menunjukkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dalam mempercepat penyediaan hunian layak.
Di sisi lain, pemerintah terus memperkuat berbagai skema pendanaan, termasuk integrasi Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), dukungan APBD, serta partisipasi sektor swasta melalui CSR. Upaya ini menjadi penting mengingat tantangan backlog perumahan di Lampung masih cukup besar, tercatat sekitar 1,09 juta unit atau 37,04% dari total rumah tangga, termasuk backlog kualitas rumah tidak layak huni sebesar 766 ribu unit (26%).
Dengan berbagai langkah percepatan tersebut, Program 3 Juta Rumah tidak hanya berpotensi menjadi solusi penyediaan hunian, tetapi juga berperan sebagai penggerak ekonomi daerah melalui peningkatan aktivitas sektor konstruksi, penyerapan tenaga kerja, serta penguatan daya beli masyarakat secara berkelanjutan.

