
SP – 006/WPB.08/2026
Pertumbuhan Ekonomi Lampung Tetap Terjaga, APBN April 2026 Perkuat Stabilitas di Tengah Risiko Global
Bandar Lampung, 29 Mei 2026 – Tantangan ketidakpastian global akibat ketegangan geopolitik, tingginya biaya logistik dan fluktuasi harga komoditas masih terus harus dihadapi Provinsi Lampung. Meskipun demikian, perekonomian Lampung tetap menunjukkan kinerja yang terjaga. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, investasi tetap tumbuh positif, dan tingkat pengangguran terus menurun. Pada sisi fiskal, APBN Regional Lampung hingga April 2026 mencatat pertumbuhan baik dari sisi pendapatan maupun belanja negara, sehingga tetap mampu menjalankan fungsi stabilisasi dan mendukung aktivitas ekonomi daerah.
Risiko Global Meningkat, Lampung Mampu Catatkan Surplus Neraca Perdagangan
Perekonomian Lampung masih dihadapkan pada sejumlah risiko eksternal. Konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia dan meningkatkan biaya logistik. Di saat yang sama, penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil US Treasury masih membatasi ruang ekspansi investasi Indonesia. Selain itu, mulainya musim panen kopi robusta di Brasil berpotensi menekan harga kopi dunia akibat meningkatnya pasokan global.
Di sektor perdagangan internasional, sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), Lampung masih mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$263,20 juta pada Maret 2026. Ekspor Maret 2026 mengalami kontraksi -21,10% (mtm), disebabkan penurunan ekspor industri pengolahan dan pertanian. Sementara itu, Impor Maret 2026 meningkat 21,59% (mtm) terutama didorong oleh kenaikan impor barang modal sebesar 694,39% (mtm). Peningkatan tersebut menjadi sinyal positif bahwa dunia usaha mulai memperluas kapasitas produksinya sebagai respons terhadap ekspektasi pertumbuhan permintaan.
Ekonomi Lampung Tumbuh, Inflasi Mampu Dikendalikan
Perekonomian Lampung pada Triwulan I 2026 tumbuh 5,58% (yoy), menjadi pertumbuhan tertinggi kedua di Sumatera. Pertumbuhan tersebut ditopang Konsumsi Rumah Tangga yang berkontribusi 64,05% terhadap PDRB dan mencatatkan pertumbuhan 5,54% (yoy), sementara investasi yang tercermin dari PMTB juga tumbuh 4,39% (yoy). Di sisi kesejahteraan, tingkat pengangguran terbuka Februari 2026 turun menjadi 3,95% (turun 0,12% dari Februari 2025).
Pada April 2026 Lampung mengalami inflasi sebesar 0,53% (yoy) dan 0,55% (mtm) jauh di bawah rentang target inflasih 2,5+1%. Inflasi bulanan disebabkan kenaikan harga minyak goreng, ikan nila, Sigaret Kretek Mesin (SKM), beras, dan cabai merah.
Kinerja APBN April 2026: Pendapatan Tumbuh, Belanja Akseleratif
Kinerja APBN Regional Lampung hingga 30 April 2026 menunjukkan tren yang tetap positif. Pendapatan Negara terealisasi sebesar Rp3.825,42 miliar atau 28,56% dari target, tumbuh 5,19% (yoy). Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh Pajak Dalam Negeri yang mencapai Rp2.518,78 miliar dan tumbuh 26,04% (yoy). Kinerja penerimaan yang baik didorong oleh sektor industri pengolahan serta perdagangan besar yang masih tumbuh kuat.
Sementara itu, Belanja Negara telah terealisasi sebesar Rp9.905,77 miliar atau 35,56% dari pagu, tumbuh 0,67% (yoy). Pertumbuhan didorong oleh Belanja Pemerintah Pusat yang tumbuh 33,65% (yoy) senilai Rp2.850,57 miliar, didukung percepatan belanja pegawai, belanja barang, dan belanja modal. Di sisi lain, Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi sebesar Rp7.055,20 miliar, mengalami kontraksi -8,45% (yoy) seiring penyesuaian kebijakan belanja pemerintah.
Hingga akhir April 2026, APBN Lampung mencatat defisit sebesar Rp6.080,35 miliar atau 42,05% dari target. Defisit ini tetap dikelola secara terukur sebagai bagian dari strategi fiskal untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan melindungi masyarakat dari dampak ketidakpastian global.
Isu Tematik: Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Sebagai Upaya Perkuat Ekonomi Kerakyatan
Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) memasuki fase implementasi yang semakin luas setelah peresmian oleh Presiden RI. Di Lampung, hingga April 2026 telah terbentuk 2.651 unit koperasi, yang diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi desa sekaligus memperkuat rantai pasok produk lokal. Pemerintah Pusat melalui Kementerian Koperasi mengalokasikan Dana Dekonsentrasi ke Provinsi Lampung sebesar Rp5,07 miliar dan telah terealisasi Rp3,28 miliar atau 64,7% dari pagu.
Meskipun kesiapan infrastruktur masih dilakukan secara bertahap, perkembangan program menunjukkan arah yang positif. Sebanyak 300 gerai fisik telah selesai dibangun dan 673 koperasi telah terintegrasi dengan akun digital Simkopdes. Ke depan, penguatan tata kelola, peningkatan kapasitas SDM, serta dukungan aset dan infrastruktur diharapkan mampu mempercepat transformasi koperasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di desa dan kelurahan.
APBN akan terus dioptimalkan untuk mendukung berbagai program prioritas pemerintah, termasuk penguatan ekonomi kerakyatan melalui koperasi, sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat Lampung.

