
Mataram, 29 Juni 2026
Perkembangan APBN per 31 Mei 2026
Kinerja fiskal di Provinsi Nusa Tenggara Barat hingga 31 Mei 2026 terus melanjutkan tren positif dalam mendukung penguatan perekonomian daerah. Pendapatan negara berhasil terealisasi sebesar Rp2.927,8 miliar atau 52,34% dari target. Di sisi lain, realisasi belanja negara mencapai Rp9,672,51 miliar atau 40,84% dari total pagu yang dialokasikan. Capaian ini menegaskan peran APBN sebagai shock absorber sekaligus stimulus penggerak roda ekonomi regional.
- Hingga Mei 2026, realisasi Penerimaan Pajak tercatat sebesar Rp1.126,01 miliar. Struktur penerimaan ini masih didominasi oleh Pajak Penghasilan (PPh) sebesar Rp588,75 miliar dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar Rp267,24 miliar. Berdasarkan pertumbuhan, penerimaan pajak tumbuh 9,37% secara tahunan (y-on-y), didorong oleh kenaikan komponen Pajak Lainnya. Berdasarkan jenis pajak, Pajak Penghasilan (PPh) menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 52,29% diikuti Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 22,41% yang mencerminkan bahwa penghasilan dan konsumsi masyarakat terus bertumbuh. Dari sisi sektor usaha, penerimaan didominasi oleh Administrasi Pemerintah (38,75%), Perdagangan (17,47%), dan Jasa Keuangan (8,59%).
- Penerimaan Kepabeanan dan Cukai mencatat kinerja yang sangat signifikan dengan realisasi Rp1.446,14 miliar. Pertumbuhan ini didorong oleh lonjakan Bea Keluar yang tumbuh 8.137,58% secara tahunan (y-o-y), sejalan dengan tingginya realisasi ekspor konsentrat tembaga PT AMMAN Mineral pada Januari - April 2026. Cukai juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 10,5% dan diharapkan terus meningkat seiring dengan perbaikan kinerja cukai HT. Di sisi lain, Bea Masuk mengalami koreksi sebesar 24,06% seiring dengan penurunan volume importasi bahan baku dan bahan penolong pertambangan serta barang modal pertambangan.
- Realisasi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp355,66 miliar atau 49,16% dari target. Pendapatan BLU membukukan pertumbuhan positif sebesar 11,47%, yang utamanya ditopang oleh peningkatan pendapatan jasa layanan rumah sakit dan jasa layanan pendidikan. Sementara itu, komponen PNBP Lainnya juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 3,49% secara nominal menunjukkan adanya perbaikan kinerja penerimaan yang bersifat menyeluruh.
- Belanja Pemerintah Pusat (BPP) terealisasi sebesar Rp098,37 miliar atau 32,46% dari pagu. Realisasi belanja ini mencatat pertumbuhan positif secara tahunan (y-o-y), dengan fokus pada pembangunan infratruktur pelayanan publik di daerah. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen Belanja Modal sebesar 342,66%, diikuti Belanja Pegawai sebesar 25,86%, dan Belanja Barang sebesar 27,89%. Adapun komponen Belanja Bantuan Sosial mengalami koreksi sebesar 64,29% seiring dengan penyesuaian kebijakan belanja pemerintah pusat.
- Transfer ke Daerah (TKD) telah disalurkan sebesar Rp574,13 miliar atau 46,49% dari pagu. Secara nominal, realisasi TKD mengalami kontraksi sebesar 14,60% (y-o-y), meskipun secara persentase penyaluran tumbuh positif sebesar 7,96%. Penurunan nominal tersebut terutama dipicu oleh kontraksi pada Dana Bagi Hasil (DBH) sebesar 81,83% dan DAK Fisik sebesar 72,25%. Di sisi lain, DAK Nonfisik mencatat pertumbuhan positif sebesar 42,68% (y-o-y). Penyaluran DAK Nonfisik yang mencakup Bantuan Operasional Sekolah, Bantuan Operasional Kesehatan, dan Tunjangan Profesi Guru Daerah memberikan dampak langsung bagi pemenuhan layanan dasar masyarakat NTB.
- Keterjagaan realisasi fiskal tersebut membuktikan bahwa APBN tetap berfungsi sebagai shock absorber yang andal dalam menjaga stabilitas perekonomian daerah. APBN juga berperan aktif dalam mendukung program prioritas nasional di NTB, antara lain Program Makan Bergizi Gratis dengan realisasi Rp2,02 triliun dan 1,89 juta penerima manfaat, Program Koperasi Desa Merah Putih dengan 1.172 unit yang telah berbadan hukum, serta Program Sekolah Rakyat yang telah beroperasi di 5 lokasi. Sinergi yang erat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah diharapkan dapat terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi NTB yang inklusif dan berkelanjutan sepanjang tahun 2026.
Perkembangan Perekonomian Regional NTB bulan Mei 2026
- Neraca Perdagangan NTB pada Mei 2026 mencatatkan surplus kumulatif yang sangat signifikan sebesar USD 1.147,2 Ekspor s.d. Mei 2026 tercatat sebesar USD 1.213,4 juta, dengan kontribusi ekspor bulan Mei mencapai USD 11,68 juta, yang ditopang oleh komoditas konsentrat tembaga, katoda, dan mutiara. Nilai impor terjaga pada angka USD 66,28 juta secara kumulatif, sehingga mencerminkan posisi surplus perdagangan yang kokoh. Kinerja ekspor ini tumbuh sangat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun 2025, didorong oleh eksportasi konsentrat tembaga dan katoda dari smelter PT AMMAN Mineral.
- Dari sisi stabilitas harga, NTB mencatatkan Inflasi Tahunan (y-o-y) sebesar 3,78% pada Mei 2026, berada di atas rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5%±1%. Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus menjalankan langkah-langkah mitigasi guna memastikan stabilitas harga pangan tetap terjaga bagi seluruh lapisan masyarakat NTB.
- Indikator kesejahteraan masyarakat menunjukkan tren yang menggembirakan. Nilai Tukar Petani (NTP) NTB pada Mei 2026 tercatat sebesar 130,44, sementara Nilai Tukar Nelayan (NTN) meningkat ke angka 111,53. Tingkat Pengangguran Terbuka berhasil ditekan menjadi 2,99% pada Februari 2026, persentase penduduk miskin menurun menjadi 11,38%, dan Gini Ratio tercatat sebesar 0,364, mencerminkan adanya perbaikan dalam distribusi pendapatan masyarakat.
- Pertumbuhan Ekonomi NTB pada Triwulan I 2026 mencatatkan angka yang sangat impresif sebesar 13,64% (y-o-y), didorong secara signifikan oleh lonjakan ekspor dan peningkatan aktivitas sektor pertambangan, dengan PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp52,62 triliun. Pemerintah terus berupaya menjaga momentum pertumbuhan ini dengan mendorong pengembangan sektor-sektor potensial lain di Nusa Tenggara Barat guna meningkatkan kesejahteraan yang nyata dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat. Dengan pengelolaan fiskal yang hati-hati, prudent, dan tepat sasaran, Pemerintah optimis NTB dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat sepanjang tahun 2026.







