Jayapura – Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Papua menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Indikator Ekonomi Makro: Pertumbuhan Ekonomi pada Rabu (23/04) di Ruang Kolaborasi Kanwil DJPb Provinsi Papua. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas pegawai dalam mendukung peran Regional Chief Economist (RCE) di lingkungan Kanwil DJPb Papua.
Kegiatan diawali dengan pemaparan oleh Untung Widiyatmoko, Kepala Seksi PPA II B, yang menyampaikan kondisi dan posisi APBN di Provinsi Papua terkini. Dalam paparannya, disampaikan perkembangan realisasi pagu APBN serta berbagai tantangan yang dihadapi, termasuk dinamika penyerapan anggaran dan peran belanja pemerintah dalam mendorong aktivitas ekonomi daerah.
Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif yang menghadirkan Pisi Bethania Titalessy selaku Local Expert Kanwil DJPb Provinsi Papua, yang juga merupakan Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Cenderawasih. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan secara komprehensif mengenai indikator ekonomi makro, khususnya pertumbuhan ekonomi.
Pisi menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan peningkatan nilai output barang dan jasa dalam suatu wilayah dalam periode tertentu yang umumnya diukur melalui Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) . Ia menekankan bahwa pengukuran pertumbuhan ekonomi menggunakan PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) agar mencerminkan pertumbuhan riil, bukan sekadar perubahan harga.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa terdapat tiga pendekatan utama dalam menghitung PDRB, yaitu pendekatan produksi, pengeluaran, dan pendapatan . Dari sisi pengeluaran, struktur ekonomi daerah dapat dilihat melalui komponen konsumsi rumah tangga, investasi, belanja pemerintah, serta ekspor dan impor. Hal ini menjadi penting dalam menganalisis sumber pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah.
Dalam diskusi tersebut juga dipaparkan berbagai teori pertumbuhan ekonomi, mulai dari teori klasik hingga modern. Teori klasik seperti yang dikemukakan oleh Adam Smith menekankan pentingnya pertumbuhan penduduk dalam memperluas pasar, sementara teori neoklasik seperti Solow menyoroti peran modal, tenaga kerja, dan teknologi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi . Selain itu, inovasi dan kewirausahaan juga menjadi faktor penting sebagaimana dijelaskan dalam teori Schumpeter.
Pisi juga menguraikan ciri-ciri pertumbuhan ekonomi yang sehat, antara lain peningkatan PDRB, penurunan tingkat pengangguran, inflasi yang stabil, peningkatan investasi, serta perbaikan kualitas hidup masyarakat . Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya berfokus pada angka, tetapi juga pada aspek kesejahteraan yang lebih luas.
Khusus untuk konteks Papua, disampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah masih cenderung dipengaruhi oleh dinamika permintaan domestik dan belanja pemerintah . Meskipun pertumbuhan tetap positif, terdapat volatilitas antar triwulan yang mencerminkan sensitivitas terhadap siklus fiskal. Oleh karena itu, diperlukan penguatan investasi produktif dan diversifikasi sektor ekonomi guna menjaga stabilitas pertumbuhan jangka panjang.
Selain itu, terdapat sejumlah prasyarat penting dalam mendorong pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di Papua, antara lain peningkatan infrastruktur dasar, kualitas sumber daya manusia, konektivitas antarwilayah, akses pembiayaan bagi UMKM, serta kebijakan afirmatif yang tepat sasaran .
Diskusi berlangsung secara aktif dan interaktif, dengan partisipasi pegawai yang antusias dalam menggali berbagai aspek analisis ekonomi regional. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas kajian ekonomi yang dihasilkan oleh Kanwil DJPb Provinsi Papua, sehingga dapat memberikan insight yang lebih komprehensif dalam mendukung perumusan kebijakan fiskal serta memperkuat peran Kementerian Keuangan sebagai pengelola fiskal yang responsif terhadap dinamika perekonomian daerah.




