
Pekanbaru, 25 Januari 2023 – Pertumbuhan ekonomi di Riau mulai dari akhir tahun 2021 cenderung meningkat, peningkatan ekspor khususnya CPO dan turunannya, aktivitas ekonomi sudah normal dan realisasi belanja pemerintah yang meningkat pada akhir tahun. Perekonomian Riau s.d Triwulan III tumbuh 4,63 persen (yoy) sedangkan untuk data s.d Triwulan IV 2022 masih menunggu rilis dari BPS. Provinsi Riau mengalami inflasi 0,91 persen (m-to-m) dan inflasi sebesar 6.81 persen (yoy) yang dipicu oleh Inflasi kelompok Transportasi sebesar 16.19 persen akibat kenaikan administered price (BBM) diikuti kelompok Makanan sebesar 9.12 persen akibat kenaikan ongkos distribusi produk. Adapun Komoditas Penyumbang Inflasi Riau disebabkan karena: Kenaikan BBM akibat kebijakan pemerintah masih berimbas kepada kenaikan tarif angkutan & ongkos distribusi barang; Kenaikan harga beras disebabkan preferensi masyarakat Riau dengan beras premium daripada beras Bulog; dan Kenaikan harga rokok kretek filter disebabkan kebijakan kenaikan cukai secara bertahap.
Pendapatan Wilayah Riau mencapai Rp34,38 triliun, tumbuh sebesar 25,54 persen (yoy), dengan komponen penerimaan pajak sebesar Rp19,50 triliun, tumbuh sebesar 36,99 persen (yoy), penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp13,72 triliun, tumbuh sebesar 12,76 persen (yoy), dan PNBP sebesar Rp1,16 triliun, tumbuh sebesar 17,77 persen (yoy). Pendapatan Badan Layanan Umum berasal dari pendapatan pada UNRI, UIN Suska dan RS Bhayangkara.
Belanja K/L mengalami penurunan sebesar Rp 84,59 M (-1,07%). Realisasi Pemerintah Pusat di Provinsi Riau mencapai Rp7,79 triliun dari pagu Rp8,15 triliun, terdiri dari realisasi belanja pegawai Rp3,2 triliun, belanja barang Rp2,9 triliun, belanja modal Rp1,7 triliun, dan belanja sosial Rp 29,71 miliar. Kendala realisasi antara lain kesenjangan kapasitas SDM pengelola keuangan, besarnya nilai outstanding kontrak dan tingginya pagu blokir pada Satuan Kerja K/L, kegiatan yang tidak dilaksanakan sampai akhir tahun, perubahan kontrak single year ke multi years, adanya kegiatan nasional yang terbit pagunya di akhir triwulan III, ketersediaan barang/jasa sesuai TKDN 40%, komitmen penyedia barang/jasa dalam penyelesaian pekerjaan, serta adanya penyesuaian harga terkait inflasi dan kenaikan harga BBM. Rendahnya realisasi belanja sejalan dengan pagu belanja yang juga lebih rendah dari TAYL (Pagu belanja berkurang 2,78 T).
Realisasi belanja infrastruktur tahun 2022, berupa:
- Pembangunan Jembatan Nilo (sepanjang 26 m senilai 12,69 M)
- Preservasi dan Pemeliharaan Rutin Jalan (sepanjang 741,97 km senilai 357,731 M)
- Pembangunan Pelabuhan Mengkapan dan Bandar Sri Junjungan (senilai 16,4 M)
- Pembangunan Dermaga Penyeberangan Sagu-Sagu Lukit, Pada Lintas Penyeberangan Pulau Padang - Mengkapan Pulau Sumatera Tah (senilai 10 M)
- Pembangunan Gedung Kelas Baru Lingkup Kemenag (sebanyak 5 unit senilai 17,04 M)
- Pembangunan Gedung STAIN Bengkalis (sebanyak 2 unit senilai 27,64 M)
- Rehabilitasi dan Renovasi Prasarana Sekolah 52 M
- Revitalisasi Dana, Pembangunan Pengaman Pantai Pulau Terluar, Pengaman Tebing dan Pengaman Sungai 191 M
- Revitalisasi UPPKB Muara Lembu, Pekerjaan Marka Jalan, Subsidi Operasional Angkutan Perintis senili 108,91 M
- Optimalisasi SPAM Tembilahan, Sarana Cuci Tangan Pakai Sabun, Sanitasi senilai 17 M
Realisasi TKDD Riau Tahun 2022 mencapai Rp22,94 triliun. Realisasi ini terdiri dari Dana Bagi Hasil sebesar Rp8,7 triliun, Dana Alokasi Umum sebesar Rp8,4 triliun, Dana Insentif Daerah sebesar Rp145 miliar , DAK Non Fisik sebesar Rp3,1 triliun, DAK Fisik seluruh pemda lingkup Provinsi Riau sebesar Rp1,1 triliun, dan Dana Desa sebesar Rp1,4 triliun. Persentase realisasi terbesar DAK Fisik di Kep. Meranti (98,91%) dan terendah di Kuansing (30,53%).
Kendala penyaluran DAK Fisik, antara lain:
- Proses pemenuhan dokumen persyaratan berjalan lambat mulai input dari OPD, reviu APIP sampai disetujui Pemda dan cenderung pengajuan pada saat last minute batas akhir pengajuan ke KPPN.Adanya penghentian salur oleh Kementerian Kesehatan atas DAK Fisik Pengadaan Makanan Tambahan pada Subbidang Penguatan Intervensi Penurunan Stunting pada bulan Juni 2022. Selain itu adanya sisa kontrak pada subbidang kefarmasian karena barang/obat yang direncanakan tidak memenuhi syarat dan beberapa obat ditarik peredarannya sehingga kontrak harus dibatalkan.
- Subbidang Perumahan dan Permukiman Kota Pekanbaru nilai kontraknya 0 yang disebabkan pihak Pemkot tidak dapat menyanggupi untuk menyediakan dana pendamping.
- Capaian output pada beberapa subbidang yaitu kefarmasian, penguatan percepatan penurunan stunting, pengendalian penyakit dan penguatan sistem kesehatan di sebagian besar kabupaten/kota di Riau NIHIL.
- Capaian output pada subbidang jalan tematik pengembangan food estate dan sentra produksi pangan Prov. Riau hanya 15,02%, dan irigasi tematik food estate Provinsi Riau hanya 25,46%.
- Pemahaman Pemda terkait mekanisme dan alur penyaluran DAK Fisik masih perlu ditingkatkan
- Kendala internal pada Pemda Kab. Kuantan Singingi sehingga realisasi sangat rendah hanya 30,53%. Beberapa subbidang seperti air minum tidak terkontrakkan, subbidang jalan dari 10,98 M hanya terkontrakkan 30 juta dan subbidang Pendidikan SKB dari rencana kegiatan 460,78 juta hanya terkontrakkan 11,3 juta.
Penurunan Dana Desa sebesar 5,41% dibanding 2021 disebabkan adanya penurunan pagu 2022 dan 7 desa tidak salur tahap III di Kab. Kuansing, Bengkalis dan Inhu karena adanya permasalahan hukum, syarat minimal penyerapan tidak terpenuhi, dan Penetapan APBDes dan Perkades penetapan jumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) cenderung lambat. Realisasi 100% pada Kab. Rohul, Pelalawan, Inhil, Kep. Meranti dan Siak. Keterbatasan KPM yang layak menerima Dana Desa menyebabkan terjadinya realokasi anggaran yang semula diperuntukkan untuk BLT Dana Desa menjadi Non-BLT sebesar Rp40,61 miliar. Beberapa Pemda tahun 2022 tidak mendapatkan DID yaitu Pekanbaru, Pelalawan, Rokan Hilir, dan Bengkalis.
Realisasi PC PEN Riau sampai dengan 31 Desember 2022, terdiri dari realisasi kluster kesehatan, kluster Perlindungan Sosial, dan kluster Pemulihan Ekonomi. Kluster kesehatan terdiri dari Klaim Rumah Sakit sebesar Rp486,1 M (74 RS dan 14.560 pasien); dan Insentif Nakes sebesar Rp42,13 M (90 Faskes dan 10.264 nakes). Sementara itu, Kluster Perlindungan Sosial terdiri dari Bantuan Sembako yang diberikan kepada 282.603 KPM senilai Rp653 M; Program Keluarga Harapan yang diberikan kepada 165.168 KPM senilai Rp497,33 M; BLT Minyak Goreng yang diterima oleh 274.766 KPM senilai Rp82,43 M; BLT BBM yang diberikan kepada 311.370 KPM senilai Rp185,601 M; dan Bantuan Subsidi Upah dengan target penerima Rp 240,10 M dengan 400.174 penerima manfaat. Sedangkan Kluster Pemulihan Ekonomi terdiri dari Ketahanan Pangan PUPR Rp 49,61 M dan Infrastruktur PUPR Rp 557,85 M. Realisasi Belanja Perlindungan Sosial (2 % DTU) sebesar Rp63,72 M dari total pagu Rp96,41 M. Kab. Bengkalis tertinggi dalam penyaluran belanja perlinsos sebesar 16,15 M dan terealisasi 99,21%) sedangkan Kab. Indragiri Hilir terendah dalam prosentase penyaluran sebesar 0,37 M (6,20%)
Penyaluran KUR di Provinsi Riau s.d Triwulan IV sebesar Rp10,29T dengan jumlah debitur 136.547. Bank penyalur KUR terbanyak yaitu Bank BRI sektor terbanyak pertanian, perburuan dan kehutanan serta skema terbanyak adalah skema mikro. Sementara itu, penyaluran UMi di Provinsi Riau s.d Triwulan IV Tahun 2022 telah mencapai Rp178,53 miliar dengan total debitur 38.532. Pembiayaan UMi terbesar disalurkan oleh PT PNM dengan total penyaluran sebesar Rp175,64 M kepada 38.020 debitur. Kab. Rokan Hulu menjadi wilayah di Riau yang merupakan daerah salur UMi terbesar dengan 7.751 debitur dan total penyaluran sebesar Rp34,96 M.
Pencairan DAU pada tahun 2023 dilakukan melalui KPPN berdasarkan rekomendasi dari DJPK dengan alokasi pagu sebesar Rp22,54T naik sebesar 4,27% (yoy). Hampir seluruh komponen alokasi TKD meningkat. Terdapat transfer hibah daerah untuk 3 kabupaten (Kampar, Rokan Hilir dan Pelalawan).
Adapun Langkah-Langkah Strategis Pelaksanaan Anggaran TA 2023, antara lain: Meningkatkan Kualitas Perencanaan, Meningkatkan Kedisiplian Dalam Melaksanakan Rencana Kegiatan, Melakukan Akselerasi Pelaksanaan Program/Kegiatan/Proyek, Melakukan Percepatan Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa, Meningkatkan Akurasi dan Percepatan Penyaluran Dana Bantuan Sosial (Bansos) dan Bantuan Pemerintah (Banper), Meningkatkan Kualitas Belanja Melalui Peningkatan Efisiensi dan Efektifitas Belanja, Meningkatkan Monitoring dan Evaluasi, dan Perlunya sosialisasi dan pendampingan dana transfer secara periodik kepada Pemda.
Rekomendasi untuk penyaluran DAK Fisik agar Pemda segera mempersiapkan laporan realisasi output 2022 sebagai salah 1 syarat penyaluran tahap 1 dan perlunya peningkatan sinergi OPD,APIP, BPKAD dan konsultasikan ke KPPN/Kanwil DJPb. Sedangkan untuk Dana Desa agar mempercepat penyusunan Perdes APBDes, KPM BLT Desa, dan penyampaian dokumen tidak pada batas akhir pengajuan ke KPPN.
Kinerja APBN perlu terus dijaga dan diarahkan untuk melindungi masyarakat, mendukung pemulihan, dan menjaga kesinambungan fiskal. Dengan demikian, kinerja solid APBN 2022 dapat terus mendukung optimisme pemulihan ekonomi Indonesia serta mengantisipasi ketidakpastian dan konsolidasi fiskal di 2023.
“Kinerja APBN adalah menggambarkan keseluruhan upaya Indonesia menghadapi pandemi yang luar biasa 3 tahun ini, dan upaya Indonesia untuk memulihkan kondisi ekonomi masyarakat, kegiatan ekonomi, dan kondisi kesejahteraan masyarakat. Kita akan terus menjaga APBN keuangan negara sebagai instrumen yang kredibel, efektif dan tentu sehat dan sustainable. Ini adalah salah satu prasyarat bagi Indonesia untuk terus maju dan berkembang sehingga kita bisa mencapai cita-cita negara Indonesia”-Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI.



Pekanbaru, 23 Agustus 2022 - Kementerian Keuangan perwakilan Riau dengan Badan Layanan Umum (BLU) Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyelenggarakan acara “Pameran dan Sosialisasi Sinergi Pemberdayaan Usaha Kecil, Menengah, dan Koperasi (UKMK) Kemenkeu Satu di Sektor Kelapa Sawit di Provinsi Riau” selama tiga hari berturut-turut dari tanggal 23 hingga 25 Augustus 2022. Acara dibuka oleh Gubernur Riau, Syamsuar dan dihadiri oleh Pimpinan Kepala Daerah, Sekretaris Daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) Riau, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Pelaku UMKM, akademisi, asosiasi, investor serta masyarakat umum.

Selasa tanggal 23 Agustus 2022 merupakan hari bersejarah bagi perwakilan kementerian keuangan Prov Riau dengan seluruh pemerintah daerah di Riau karena hari ini merupakan tonggak ditandatanganinya Nota Kesepakatan antara Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Riau dan Seluruh Pemerintahan Daerah di Riau tentang Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Pengelola Keuangan Daerah dan Penguatan Koordinasi Pengelolaan Keuangan Negara.
Nota Kesepakatan ini akan menjadi dasar bagi Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Riau dan seluruh pemerintah daerah untuk melakukan pertukaran pengetahuan mengenai tata kelola keuangan, baik pusat dan daerah. Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia Pengelola Keuangan Daerah akan diberikan pembelajaran dan pelatihan tentang aspek tata kelola keuangan, aspek manajerial dan aspek lainnya dalam bentuk e-learning dan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan pemerintah daerah. Selain peningkatan kapasitas sumber daya manusia, Nota Kesepakatan ini juga bertujuan untuk lebih menguatkan koordinasi pengelolaan keuangan negara melalui pertukaran data dan informasi keuangan public untuk kepentingan bersama dan dalam rangka pemberdayaan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan perekonomian daerah.
