
Menjaga predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) bukan perkara sekali jadi, melainkan komitmen yang harus terus dirawat setiap hari. Berangkat dari semangat itulah, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Provinsi Sulawesi Tenggara menggelar Sosialisasi Service Excellence/Personal Grooming dan Informasi Perbankan pada Jumat, 24 Juli 2026, bertempat di Aula Kanwil DJPb Provinsi Sulawesi Tenggara. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 11.00 WITA ini diikuti oleh seluruh pejabat dan pelaksana di lingkungan kantor tersebut.
Dalam sambutannya, Kepala Bidang Supervisi KPPN dan Kepatuhan Internal, Sigid Mulyadi, yang mewakili Kepala Kanwil DJPb Provinsi Sulawesi Tenggara, menegaskan bahwa sosialisasi ini menjadi fondasi penting untuk terus meningkatkan kualitas dan standar pelayanan terbaik kepada seluruh pemangku kepentingan. Ia menekankan bahwa predikat WBBM yang telah berhasil diraih instansi harus terus dijaga, dan penerapan budaya Service Excellence menjadi langkah strategis agar predikat tersebut bukan sekadar penamaan, melainkan wujud nyata dari komitmen integritas, profesionalisme, dan pelayanan publik bernilai tambah yang benar-benar dirasakan masyarakat dan mitra kerja.
Materi utama sosialisasi disampaikan oleh Ribka, Service Quality Officer Bank Mandiri, yang mengajak peserta menyelami filosofi layanan “Good is Not Enough, Be Wonderful” yaitu sebuah pola pikir bahwa pelayanan tidak cukup hanya menggugurkan kewajiban rutin, tetapi harus melampaui ekspektasi pengguna layanan. Peserta diperkenalkan pada konsep Customer Experience (CX) yang terbentuk dari seluruh persepsi multisensori pelanggan, mulai dari apa yang mereka lihat, dengar, hingga rasakan. Salah satu poin paling menarik adalah rumus komunikasi 3V, di mana keberhasilan interaksi ternyata 55% ditentukan oleh bahasa tubuh (Visual), 38% oleh nada suara (Vokal), dan hanya 7% oleh pilihan kata (Verbal), sebuah pengingat bahwa cara menyampaikan seringkali jauh lebih penting daripada apa yang disampaikan.
Peserta juga dibekali kebiasaan praktis sehari-hari, seperti membiasakan Magic Words dan membuang Killer Words dalam berkomunikasi, menerapkan alur layanan yang berkesan mulai dari salam hangat, kontak mata, menyebut nama pelanggan minimal tiga kali, hingga salam penutup sembari berdiri. Tiga pilar utama standar layanan turut ditegaskan, yaitu keahlian, sikap positif, dan penampilan yang rapi, lengkap dengan resep jitu menangani keluhan tanpa menaikkan nada suara atau bersikap defensif.
Sesi berikutnya membahas Informasi Perbankan, disampaikan oleh Rival (Auto Loan Officer) dan Tyas (RM Personal Loan Officer) dari Bank Mandiri. Peserta mendapat penjelasan mengenai berbagai solusi finansial, mulai dari Kredit Serbaguna Mandiri (KSM) dengan bunga promo dan bebas biaya provisi khusus pegawai Kementerian Keuangan, pembiayaan kendaraan melalui Mandiri Tunas Finance yang mencakup mobil baru, mobil bekas, hingga motor gede, layanan digital Livin’ AUTO untuk pengajuan kredit otomotif, hingga produk Multiguna “Cash Aja” dengan jaminan BPKB dan bunga mulai 0,71%.
Antusiasme peserta terlihat jelas pada sesi diskusi interaktif yang menghadirkan berbagai pertanyaan aplikatif. Wahyu Budiarso (Kabid PPA I) menanyakan penanganan nasabah yang hanya ingin dilayani petugas CSO tertentu, sementara Ari Setiawan (Kepala Seksi SPB) menggali metode Bank Mandiri mengukur kepuasan pelanggan melalui skema Mystery Shopper. Didik Puji Santoso (Pelaksana Seksi STA) menanyakan persyaratan penggantian kartu ATM yang hilang, yang kini telah dipermudah lewat verifikasi digital di aplikasi Livin’ by Mandiri. Sigid Mulyadi turut menanyakan mekanisme pengurusan KSM dan KKB bagi pegawai yang sering mutasi tugas, dijawab bahwa jaringan Bank Mandiri yang terintegrasi secara nasional memungkinkan layanan tetap dapat diakses di mana pun nasabah berada. Sementara itu, Mokhamad Arifin (Kepala Bagian Umum) mengangkat isu perbedaan tabungan berbuku dan paperless, serta kasus pemotongan saldo otomatis untuk produk asuransi tanpa persetujuan nasabah, yang dijawab akan ditindaklanjuti dan dieskalasi ke tingkat pusat untuk penelusuran lebih lanjut.
Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil membekali pegawai Kanwil DJPb Provinsi Sulawesi Tenggara dengan pemahaman komprehensif mengenai budaya Service Excellence, mulai dari pola pikir layanan, penguasaan komunikasi, hingga standar penanganan keluhan, sekaligus memberikan wawasan finansial yang aplikatif melalui kolaborasi dengan Bank Mandiri. Sinergi ini menjadi langkah nyata menjaga predikat WBBM sekaligus terus meningkatkan kualitas layanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat dan mitra kerja.



