Jl. Khatib Sulaiman No. 3 Padang

Kinerja APBN s.d. 30 September 2025 Provinsi Sumatera Barat

Kinerja APBN s.d. 31 Agustus 2025 Provinsi Sumatera Barat

Overview   Kinerja   APBN  per   31  Agustus 2025   dan   Indikator   Makro   Ekonomi  Regional Sumatera Barat

Kinerja pendapatan dan belanja negara di wilayah Sumbar hingga 31 Agustus  2025 masih selaras dengan   target   APBN  TA  2025.   Total  Pendapatan   Negara  yang  telah  diperoleh  di  wilayah Sumatera  Barat sampai  31 Agustus  2025  adalah sebesar  Rp5,21  triliun  atau tumbuh sebesar 13,67%  dibanding periode  yang  sama  pada tahun  sebelumnya. Adapun  Belanja  Negara  telah direalisasikan sebesar  Rp20,00  triliun, jumlah  ini terkontraksi sebesar  9,04% dibanding periode yang sama tahun 2024.

Perekonomian Sumatera  Barat terus  menunjukkan performa positif pada triwulan II 2025.  Laju pertumbuhan  ekonomi  Sumbar   pada  triwulan  II-2025   mencapai   3,94%   (yoy),   di   bawah pertumbuhan ekonomi nasional  sebesar  5,12% (yoy). Ekonomi  Sumatera  Barat  mengalami pertumbuhan didukung oleh  tiga  lapangan  usaha  yang mengalami  pertumbuhan  tertinggi   di   banding   lapangan   usaha   lain   yaitu   Informasi   dan Komunikasi (9,51% yoy),  Real Estate (8,31%),  dan Jasa Lainnya (7,25%).

Pada  Agustus   2025  untuk  regional   Sumatera  Barat  mengalami inflasi  sebesar  2,89%  (yoy), tercatat  lebih  tinggi  dibandingkan inflasi  nasional  sebesar  2,31%  (yoy).  Secara bulanan,  pada bulan  Agustus   2025  tercatat   inflasi  sebesar  0,52% (mtm), lebih  tinggi  dibandingkan inflasi nasional  sebesar  -0,08% (mtm).

Realisasi I-Account APBN Regional Sumatera Barat

Pendapatan  Negara

Realisasi  Pendapatan  Negara  di  wilayah  Sumatera   Barat  sampai  31  Agustus   2025  sebesar Rp5,21  triliun   atau  67,84%  dari  target  APBN  tahun  2025  sebesar  Rp7,68  triliun. Angka  ini menunjukkan pendapatan  negara  di Sumatera  Barat  tumbuh positif  sebesar  13,67%  dibanding periode  yang sama pada tahun sebelumnya.

Secara komposisi, Pendapatan  Negara didominasi oleh Penerimaan  Perpajakan  yang dipungut dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dengan porsi

74,55% atau sebesar  Rp3,88 triliun.

Penerimaan  pajak  dalam  negeri  neto  Provinsi  Sumatera  Barat  sampai  dengan  Agustus  2025 tercatat  sebesar  Rp2,45  triliun. Penerimaan  pajak dalam  negeri  bruto  Provinsi  Sumatera  Barat tercatat   sebesar   Rp3,57  triliun. Adapun  sektor Administrasi  Pemerintahan, Pertahanan   dan Jaminan   Sosial  Wajib  tercatat   sebagai  penyumbang  penerimaan  pajak  terbesar   di  wilayah Sumatera  Barat sebesar  Rp561,63  milyar. Penerimaan  perpajakan  luar negeri  mencapai  Rp 1,43 triliun  dan sudah melebihi  target Rp411,55  miliar.  Angka penerimaan perpajakan  luar negeri meningkat drastis sebesar 485,83 Miliar dibandingkan  periode   yang  sama  tahun  sebelumnya.  Kenaikan  penerimaan perpajakan  luar negeri  utamanya  berasal  dari  penerimaan Pajak Bea Keluar.  Penerimaan  Bea Keluar  tercatat tumbuh drastis  sebesar  560,36%  (yoy)  dengan realisasi  sebesar  Rp1,43  Triliun,  yang didorong oleh meningkatnya volume  ekspor  CPO dan turunannya.

Pendapatan Negara di Sumatera Barat yang berasal dari Penerimaan  Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat  sebesar Rp1,33 triliun  atau sudah mencapai  81,80% dari target 2025. Pendapatan PNBP sampai 31 Agustus  2025 mengalami peningkatan sebesar 7,23 (yoy)  dibandingkan periode  yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan pendapatan  Badan Layanan Umum  (BLU)  yang naik sebesar 19,22%  (yoy)  menjadi  pendorong utama  kenaikan  PNBP sampai  dengan  akhir  Agustus  2025 dengan realisasii tercatat  sebesar  Rp978,58  Miliar.

Belanja Negara

Total Belanja Negara di wilayah Sumbar  sampai dengan 31 Agustus  2025 adalah Rp20,00  triliun atau terealisasi  60,56% dari pagu 2025 yang sebesar Rp33,02 Triliun.  Belanja Negara terbagi atas dua komponen utama,  yaitu  Belanja Pemerintah Pusat  yang  dilaksanakan  oleh  kantor- kantor vertikal  Kementerian/Lembaga serta Transfer  Ke Daerah (TKD) yang disalurkan melalui 6 Kantor Pelayanan  Perbendaharaan Negara  (KPPN)  kepada  pemerintah daerah  provinsi  dan kabupaten/kota di Sumatera Barat.  Pada tahun  2025,  pagu  untuk  belanja  APBN di  Sumatera Barat mengalami mengalami penurunan 5,96%. Di tengah implementasi kebijakan efisiensi anggaran,  kebijakan  fiskal  tahun  2025  diarahkan  untuk  menjaga  pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Belanja Pemerintah Pusat

Belanja  Pemerintah  Pusat  di  Provinsi   Sumatera   Barat  tercatat   sebesar  Rp6,12  Triliun   atau terealisasi  sebesar  53,03%  dari pagu 2025  sebesar  Rp11,55  Triliun.  Belanja Pemerintah Pusat ini  didominasi oleh  Belanja  Pegawai  sebesar  Rp3,76 Triliun   atau  61,44%  dari  total  Belanja Pemerintah Pusat  keseluruhan. Belanja Pegawai  ini telah terealisasi  sebesar  69,79%  dari  total pagu  2025   yang  sebesar   Rp5,39   Triliun   serta   mengalami  kenaikan   sebesar   4,22%  (yoy) dibandingkan periode  yang sama tahun sebelumnya. Belanja  Barang  sampai  dengan  31 Agustus  2025  telah  terealisasi  sebesar  Rp2,04  triliun  atau 46,65% dari pagu 2025 yang sebesar  Rp4,38 Triliun.  Belanja Modal  sampai dengan 31 Agustus 2025  telah terealisasi  sebesar  Rp294,07  Miliar  atau 17,02%  dari total pagu 2025  yang sebesar Rp1,72 Triliun. Belanja Bantuan Sosial sampai dengan 31 Agustus  2025 telah terealisasi  sebesar Rp22,83 milyar atau 48,45%  dari total pagu 2025  yang sebesar Rp47,12  Miliar.  Penyaluran  bansos  diharapkan mendorong  peningkatan  daya  beli   masyarakat.  Dengan   daya  beli   yang   terjaga,   aktivitas konsumsi rumah tangga dapat tetap stabil serta mampu  menjaga kesejahteraan kelompok rentan di Provinsi  Sumatera  Barat.

Belanja Transfer Ke Daerah

Sampai dengan  31 Agustus  2025,  Transfer  Ke Daerah (TKD)  sudah  disalurkan senilai  Rp13,87 Triliun,  atau sudah terealisasi  64,61% dari pagu 2025 sebesar Rp 21,47 Triliun.  Realisasi Belanja TKD didominasi oleh komponen Dana Alokasi  Umum (DAU)  yang sebesar  Rp10,02  triliun  atau 72,28%   dari   total   TKD.   Dana   Alokasi   Umum    (DAU)   dialokasikan    kepada   provinsi   dan kabupaten/kota  untuk   membiayai  berbagai   kebutuhan  daerah  dalam  rangka   desentralisasi, seperti belanja pegawai,  dana pembangunan prasarana,  serta dukungan untuk  layanan publik  di bidang pendidikan dan kesehatan. Dana Bagi Hasil yang telah disalurkan sampai dengan 31 Agustus  2025 mencapai Rp398,07 miliar atau  sebesar  60,16%  dari pagu  2025  sebesar  Rp661,73   miliar   dan  realisasi  ini  mengalami kenaikan  sebesar  71,74%  (yoy).  Kenaikan  nilai salur  ini seiring  dengan  implementasi Undang- Undang  Nomor   1  Tahun  2022  tentang   Hubungan   Keuangan  antara Pemerintah  Pusat  dan Pemerintah Daerah (UU HKPD).

Dana Alokasi  Khusus  (DAK)  Fisik telah tersalurkan sebesar  Rp106,17  milyar  atau 10,18%  dari pagu  2025  sebesar  Rp1,04  triliun. DAK Fisik  digunakan  untuk  membantu mendanai  kegiatan fisik  yang  menjadi  urusan  daerah  dan  sesuai  prioritas nasional,  seperti  air  minum, sanitasi, konektivitas (jalan), industri kecil menengah, irigasi, perikanan,  lingkungan hidup dan kehutanan, pariwisata, pendidikan (sekolah), dan kesehatan  (layanan  dan fasilitas  kesehatan). DAK  Nonfisik telah  disalurkan sebesar  Rp2,39  triliun    atau  sebesar  57,50%  dari  pagu  2025 sebesar  Rp4,16  Triliun  yang didominasi oleh  pembayaran Tunjangan  Profesi  Guru.  Tunjangan Profesi  Guru (TPG) bertujuan untuk  meningkatkan kesejahteraan guru dan mendorong profesionalitas mereka, sehingga  kualitas pendidikan dan pembelajaran di sekolah dapat ditingkatkan. TPG juga diharapkan  dapat menjadi insentif bagi guru untuk terus mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi.

Dana Desa telah disalurkan sebesar Rp835,76  milyar  atau sudah terealisasi  sebesar 79,26%  dari pagu  2025  sebesar  Rp1,05  Triliun.   Penggunaan   Dana  Desa  diprioritaskan untuk  membiayai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang ditujukan  untuk   meningkatkan kesejahteraan masyarakat  desa, peningkatan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan dan dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa. Dana Insentif Fiskal di Sumbar juga telah disalurkan sebesar Rp110,33  miliar  atau 76,62%  dari pagu 2025 sebesar Rp143,99 miliar. Dana Insentif Fiskal (DIF) tahun 2025 diberikan kepada daerah yang menunjukkan kinerja  baik  dalam  tata  kelola  keuangan  daerah,  pelayanan  umum   pemerintahan, dan pelayanan dasar.

Realisasi I-Account APBD Konsolidasian Regional Sumatera Barat

Realisasi  Pendapatan  APBD Konsolidasian s.d.  31 Agustus  2025  Sebesar  Rp16,62  triliun  atau sudah mencapai  59,07% dari target yang sebesar Rp28,13  triliun. Pendapatan  Daerah Sumatera Barat masih didominasi oleh dana Transfer  Ke Daerah sebesar  Rp12,82  triliun  atau 77,16% dari total keseluruhan.

Realisasi Belanja Daerah s.d. 31 Agustus  2025  sebesar  Rp14,52  Triliun  atau 49,49%  dari pagu 2025  sebesar  Rp29,35  triliun. Belanja Daerah Sumatera  Barat didominasi oleh Belanja Pegawai sebesar  Rp8,59  Triliun  atau  59,15%  dari  total  belanja keseluruhan dan  mengalami kenaikan sebesar  4,46% (yoy). Kebijakan  fiskal  tahun  2025  diarahkan  untuk  menjaga  pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kemiskinan ekstrem dan meningkatkan pemerataan  ekonomi, antara lain melalui  upaya pengendalian inflasi  dengan tetap menjaga daya beli masyarakat  melalui  berbagai  program perlindungan sosial.

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Barat
Jl. Khatib Sulaiman No.3, Padang Sumatera Barat 25173
Call Center: 14090
Email: djpbsumbar@kemenkeu.go.id

IKUTI KAMI

Search