Perilaku yang Mengundang Bencana

 

Angin kencang dan hujan yang disebabkan oleh Topan Jebi, di Tokyo, Jepang. Foto: Reuters/Toru Hanai

 

Kita semua tentu masih ingat. Pada tahun 2017, badai Atlantik Harvey menghantam Houston, kota terbesar di Texas. Badai tersebut mengakibatkan hujan deras dan banjir di beberapa tempat, saking parahnya hingga disebut badai yang muncul 500.000 tahun sekali. Faktanya itu adalah badai ketiga yang menerjang Houston sejak 2015. Belum reda Harvey, badai Irma sudah menunggu giliran menghantam Miami, Florida, setelah sebelumnya menghantam Kuba dan selatan kepulauan Bahama. Lalu di belakangnya masih mengantre pula badai Jose dan Maria yang bersiap-siap menyapu lepas pantai Puerto Rico.

Pada suatu minggu di tahun 2018, belasan tempat di bumi mengalami gelombang panas (heatwave). Salah satunya mengakibatkan peristiwa yang menjadi headline internasional: kebakaran hebat di California. Di saat yang bersamaan, di sisi bumi yang lain, badai topan Jebi dan hujan yang sangat deras melanda Jepang hingga mengakibatkan lebih dari 1 juta orang mengungsi. Kemudian di tahun yang sama, badai Mangkhut menghantam Filipina dan Tiongkok daratan, yang menyebabkan lebih dari 2 juta orang mengungsi. Di tempat lain, badai Walaka di samudera Pasifik melenyapkan East Island di Hawaii dari peta untuk selamanya.

Jika mundur beberapa tahun ke belakang, sejumlah studi menyebutkan bencana kekeringan turut berkontribusi memicu konflik Suriah yang pecah pada 2011. Lahan yang kekeringan sejak tahun 2006 memaksa para petani dan jutaan orang dari pelosok desa mengungsi dan berduyun-duyun pindah ke kota, bercampur dengan warga kota dan pengungsi lainnya dari perang Irak. Ini menyebabkan kota penuh sesak dan kita semua tahu kelanjutannya apa: konflik sosial dan perang saudara.

Sejumlah ahli memprediksi peristiwa pengungsian akibat bencana alam akan semakin banyak di masa depan. Bank Dunia memprediksi lebih dari 143 juta orang di seluruh akan mengungsi pada 2050. Prediksi PBB lebih buruk: pada tahun yang sama akan terdapat 200 juta pengungsi. Institute for Economic and Peace (IEP) bahkan meramalkan lebih buruk lagi: pada 2050 akan ada lebih dari 1 miliar pengungsi akibat ancaman ekologi.

Apa yang sedang terjadi?

Sejumlah peristiwa di atas memiliki benang merah dan mengerucut pada satu kata kunci: iklim. Ya, perubahan iklim telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terus terjadi. Hanya saja perubahannya menjadi eksponensial sejak era revolusi industri dimulai pada abad ke-18. Sejak saat itu, manusia menjadi giat membuat mesin, menggali bumi, menemukan bahan bakar fosil, dan membuang emisi karbon ke udara. Sejak saat itu, suhu bumi meningkat beberapa derajat Celcius, dan lapisan permafrost (es abadi) tak lagi abadi – dia mencair. Melelehnya es abadi bukan hanya soal permukaan air laut yang naik, lalu menenggelamkan kota-kota pesisir dan jutaan orang kehilangan tempat tinggal. Tidak hanya itu.

Deforestasi bahkan berpotensi memicu wabah yang tidak diduga sebelumnya. Pada suatu musim panas di tahun 2016, di Siberia, seorang anak lelaki 12 tahun meninggal dan puluhan orang lainnya dirawat di rumah sakit karena terpapar anthrax dari bangkai rusa kutub yang muncul dari bawah lapisan es yang mencair. Diduga rusa ini telah mati dan terkubur di bawah sana selama 75 tahun. Mencairnya es menguak bangkai rusa dan membangkitkan bakteri dan mikroorganisme lainnya yang berpotensi patogenik yang selama ini tersimpan dan terkubur dalam-dalam di balik lapisan es. Beruntung, penyakit itu bermula dari sebuah kota kecil, sehingga tidak menyebar ke mana-mana dan dapat langsung ditangani. Hanya berselang 3 tahun setelah kejadian itu, hal yang jauh berbeda dan tak pernah dibayangkan orang terjadi.

Pada akhir 2019, di Wuhan, sebuah kota metropolitan di China kurang lebih sebesar Jakarta, kasus COVID-19 pertama kali terdeteksi. Perilaku manusia modern yang hilir mudik lintas negara telah membantu wabah ini menyebar ke seluruh planet bumi. Ketika di Wuhan mulai diberlakukan lockdown, semua sudah terlambat. Penyebarannya di kota itu memang pada akhirnya dapat ditangani, namun wabah telah meluas ke luar China sebelum orang menyadarinya.

Belum ada penelitian yang mengatakan wabah ini disebabkan langsung oleh perubahan iklim yang diakibatkan manusia, namun perilaku kita bisa jadi berkontribusi memperburuk keadaan. Misalnya tindakan kita yang menyebabkan polusi udara meningkatkan risiko penyakit jantung dan pernapasan, yang berdampak langsung pada penderita COVID-19.

Selain itu, behavior kita yang bepergian untuk urusan yang tidak perlu, apalagi mengabaikan protokol kesehatan, menyebabkan wabah ini semakin sulit dihentikan. Terbukti, pandemi ini malah semakin ganas di 2021. Alih-alih melandai, kurva jumlah kasus aktif harian malah meningkat secara eksponensial. Di masa depan, entah wabah apa lagi yang akan mengancam kehidupan umat manusia.

Naiknya suhu bumi akibat emisi karbon yang kita buang juga berdampak pada perubahan cuaca. Di awal tahun 2021, dampak kekacauan iklim akibat efek rumah kaca, hujan deras berlangsung selama 5 hari mengakibatkan banjir besar merendam lebih dari 10 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan, mengakibatkan ratusan ribu orang terdampak dan puluhan ribu orang mengungsi.

Apa yang bisa kita lakukan?

Kabar buruknya, kita tidak bisa mencegah hal buruk itu terjadi. Kita hanya bisa memperlambat hal itu datang. Kita semua, sadar atau tidak, setiap hari meninggalkan jejak karbon dalam setiap aktivitas. Menggunakan kendaraan, memakai air dan listrik, mengkonsumsi makanan adalah contoh aktivitas yang menghasilkan jejak karbon – zat yang merusak lapisan ozon di atmosfer bumi.

Sebagai individu, mengurangi pemakaian kendaraan pribadi, menghemat pemakaian listrik dan air, serta mengurangi konsumsi makanan yang berpotensi menjadi gunungan sampah adalah beberapa contoh kecil yang dapat kita lakukan untuk membantu memperlambat kenaikan iklim akibat lapisan ozon yang menipis. Kecil memang, namun bisa jadi besar dan bermakna, jika kita lakukan bersama-sama.

Dalam lingkup organisasi/kantor/perusahaan, kita bahkan bisa melakukan hal yang lebih besar. Berikut beberapa di antaranya:

  1. Mengurangi pemakaian sampah plastik dan kertas

Pada tahun 2015, Thomas Crowther dari Yale University melakukan penelitian terkait jumlah pohon yang ditebang setiap tahunnya. Hasil penelitiannya menyebutkan, jumlah pohon yang ditebang setiap tahunnya di seluruh dunia tak kurang dari 15,3 miliar. Sebagiannya–anda sudah tahu–digunakan sebagai bahan baku kertas. Sebagai bentuk dukungan untuk mengurangi pemakaian kertas, organisasi dapat mengoptimalkan penggunaan persuratan/naskah dinas elektronik. Apabila dibutuhkan, karyawan dapat mengoptimalkan penggunaan kertas bekas dan menggunakan kedua sisi bolak balik (print on both sides).

Terkait pengurangan pemakaian sampah plastik, karyawan dapat berkontribusi dengan cara tidak menggunakan peralatan makan dan minum dari bahan plastik, styrofoam, atau kertas sekali pakai. Tumpukan sampah yang dibiarkan dapat menghasilkan gas metana yang menjadi salah satu pemicu rusaknya lapisan ozon di bumi. Sebagai substitusi, karyawan dapat diarahkan untuk menggunakan peralatan makan dan minum yang dapat dicuci dan dipakai berulang kali. Misalnya menggunakan piring melamin, gelas kaca, sendok dan sedotan dari bahan stainless steel, sehingga dapat mengurangi sampah sisa makanan.

  1. Menghemat penggunaan energi listrik

Sebagian besar energi listrik di dunia masih dihasilkan dari batu bara yang melepaskan karbon/emisi. Mulai dari penggaliannya yang meninggalkan lubang menganga, hingga proses pengolahannya menyebabkan polusi/limbah. Itu semua demi mengalirkan listrik ke masyarakat. Memang saat ini sedang dikembangkan penerapan pembangkit listrik tenaga surya yang lebih ramah lingkungan di beberapa daerah, namun kapasitasnya masih sedikit, dan harga produksinya masih relatif mahal.Kita dapat berkontribusi mengurangi produksi batu bara dengan menghemat penggunaan listrik.

Di lingkungan perkantoran, hal ini dapat dilakukan dengan: pertama, menggunakan program sederhana untuk mematikan komputer secara otomatis setelah jam pulang kerja; kedua, mematikan lampu ruangan dan peralatan elektronik yang tidak diperlukan; ketiga, menggunakan lampu LED yang lebih hemat energi; keempat, menggunakan lampu berteknologi sensor yang hanya akan menyala jika ada orang di dalam ruangan, atau menyala otomatis ketika hari mulai gelap dan mati otomatis ketika hari mulai terang; kelima, menggunakan pendingin ruangan berteknologi inverter yang lebih ramah emisi; keenam, menata layout kantor agar mendapat cahaya matahari yang cukup dan memiliki ventilasi udara, sehingga tidak memerlukan lampu dan pendingin ruangan terlalu banyak, dan; ketujuh, jika memungkinkan, di kantor dapat dipasang panel surya sebagai alternatif sumber energi listrik terbarukan yang ramah lingkungan.

  1. ang mengalami kekeringan menyebabkan jutaan orang di kota itu mengalami krisis air bersih, dan sekitar 200.000 orang lainnya meninggal akibat kekurangan air atau mengkonsumsi air kotor. Data Riset Kesehatan Nasional (Riskesnas) pada 2018 menunjukkan bahwa 60 persen stunting disebabkan oleh air dan sanitasi yang buruk.
  1. Menghemat penggunaan air

Lebih dari tujuh puluh persen planet ini terdiri dari air. Tapi perlu diingat, sebagian besar air itu adalah air laut. Hanya dua persen lebih yang merupakan air tawar. Itu pun hanya satu persen yang bisa dimanfaatkan. Sisanya merupakan es/salju. Penggunaan air bersih secara berlebihan akan menyebabkan kita mengalami krisis air bersih, yang tersisa bisa jadi hanya air keruh, yang bahkan tidak layak digunakan untuk mencuci.

Banyak contoh danau yang menyusut bahkan mengering karena perubahan iklim, yang mengakibatkan hilangnya sumber air bersih. Sebut saja danau Laut Aral di perbatasan Kazakhstan dan Uzbekistan, danau Urmia di Iran, atau danau Chad di Afrika. Pemanasan yang terjadi juga menyebabkan ribuan ton ikan mati di danau Maninjau dan Singkarak, Sumatera Barat. Akibatnya warga sekitar danau kehilangan sumber pendapatan. Di Chennai, India, waduk Chembarambakkam y

Kajian resmi pemerintah bahkan menyebutkan pulau Jawa akan kehabisan air bersih pada 2040. Contoh di atas hanya sebagian dari daftar panjang kasus krisis air bersih, sehingga menggunakan air bersih secara bijak merupakan hal penting yang tidak bisa diperdebatkan lagi.

  1. Menerapkan Flexible Working Space dan Working From Home

Tidak dapat dipungkiri, dewasa ini bekerja bisa dilakukan dari mana saja. Di masa depan, trend WFH dan bekerja pada coworking space akan menguat. Terlebih pandemi COVID-19 yang menyebabkan kebijakan PSBB harus diambil pemerintah, dan banyak karyawan yang bekerja dari rumah (WFH). Dengan pembatasan pergerakan orang dan bekerja dari rumah, artinya semakin sedikit penggunaan listrik dan air di kantor, semakin sedikit penggunaan kendaraan, semakin sedikit penggunaan bahan bakar, akan semakin sedikit barang tambang yang dieksploitasi, semakin sedikit polusi yang dihasilkan, dan semakin baik kualitas udara di bumi. Hal ini dibuktikan pada jurnal Earth System Science Data. Studi tersebut mengatakan, kebijakan lockdown di sejumlah negara menurunkan tingkat emisi karbon di bumi hingga 7%, penurunan terbesar sejak Perang Dunia Kedua.

  1. Mengelola sampah dengan bijak

Sampah yang menumpuk dapat menimbulkan gas metana, karbondioksida, dan gas lainnya yang menyebabkan timbulnya bau tak sedap. Gas ini juga bertanggung jawab atas rusaknya lapisan ozon. Pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan cara menyediakan tempat sampah terpilah. Misalnya dengan mengelompokkan sampah menjadi organik dan anorganik, atau dikelompokkan menjadi plastik, kertas, bahan metal, dan sebagainya. Pengelompokan ini penting untuk mempermudah proses daur ulang. Memanfaatkan kembali hasil daur ulang sampah turut membantu menjaga lingkungan karena mengurangi penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir.

Dukungan dari pemerintah untuk pemulihan alam mutlak diperlukan. Sudah saatnya pemerintah menaruh perhatian lebih pada lingkungan. Misalnya dari sisi penganggaran dengan menerapkan Green Budgeting, negara dapat menyediakan panel surya di gedung-gedung kantor pemerintahan, sebagai upaya mengurangi penggunaan listrik yang bersumber dari batu bara dan beralih ke sumber energi ramah lingkungan. Selama ini memang banyak pertemuan tingkat tinggi lintas negara yang dilakukan untuk membahas persoalan iklim. Sebut saja Kyoto Protocol atau Konvensi Paris.

Namun hasilnya belum begitu menggembirakan. Kita–sebagai individu, organisasi, maupun pemerintah–harus merenungkan kembali tindakan kita terhadap keberlangsungan planet ini. Jangan sampai perbuatan kita justru mengundang katastropi itu tiba lebih cepat. Dan kita harus melakukannya sekarang, karena bencana tidak menunggu.

 

Konten ini diproduksi oleh Dicky Priatama

Telah dipublikasikan di www.kumparan.com

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Djuanda I Lt. 9
Gedung Prijadi Praptosuhardo II Lt. 1 Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

IKUTI KAMI

Search