Kinerja realisasi APBN periode sampai dengan 31 Juli 2026 di wilayah Manggarai Raya dan Ngada sebesar Rp2,51 triliun (58,80% dari pagu), yang terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat (BPP) sebesar Rp462,67 miliar (53,52%) dan Penyaluran TKD dan Dana Desa (TKDD) sebesar Rp2,04 triliun (60,14%). Realisasi penyerapan anggaran belanja K/L dan Penyaluran TKD tersebut mengalami penurunan sebesar Rp43,96 miliar atau tumbuh 10,50% year on year yang disebabkan adanya peningkatan belanja modal sebesar Rp42,20 miliar dan peningkatan belanja pegawai sebesar Rp29,39 miliar, walaupun belanja barang mengalami penurunan sebesar Rp27,63 miliar (tumbuh -15,71%). Di sisi lain, kinerja penyaluran TKDD mengalami penurunan signifikan, yaitu sebesar -Rp160,52 miliar. Penurunan tersebut paling banyak disebabkan penurunan penyaluran Dana Desa sebesar Rp131,35 miliar, sebagai akibat penurunan alokasi Dana Desa tahun 2026 yang mencapai Rp343,32 miliar.
Secara persentase, kinerja realisasi APBN di wilayah Manggarai Raya dan Ngada masih tetap terjaga sangat baik, yaitu sebesar 58,80%, atau meningkat sebesar 10,91% year on year. Hal ini menunjukkan bahwa Satker-Satker K/L dan Pemerintah Daerah telah menunjukkan kinerja yang sangat baik, sehingga persentase penyerapan anggaran dapat lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, walaupun secara nominal mengalami penurunan akibat penurunan alokasi.
Pertumbuhan ekonomi regional sampai dengan Triwulan I 2026 menunjukkan angka yang sangat baik pada 4 kabupaten, yaitu Kab. Manggarai Barat sebesar 6,03%, Kab. Manggarai sebesar 5,08%, Kab. Manggarai Timur sebesar 4,97%, dan Kab. Ngada sebesar 4,73%. Salah satu hal yang menggembirakan dari pertumbuhan ekonomi regional tersebut adalah andil terbesar menurut lapangan usaha bukan didominasi oleh Sektor Administrasi Pemerintahan, melainkan Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, disusul Sektor Perdagangan dan Sektor Konstruksi. Hal ini menunjukkan bahwa belanja pemerintah telah memberikan dampak bagi peningkatan pada lapangan usaha lainnya, sehingga ketergantungan terhadap alokasi belanja pemerintah secara bertahap semakin berkurang.
Sementara itu laju inflasi year on year bulan Juli 2026 dengan locus penghitungan di Kab. Ngada mengalami penurunan, yaitu sebesar 1,95% year on year. Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar bagi tingkat inflasi adalah Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 2,78% dan memberikan andil terhadap inflasi keseluruhan sebesar 1,23%. Hal ini menunjukkan bahwa keseimbangan antara supply and demand telah terbentuk, sehingga harga-harga komoditas pangan terkendali. Hal yang perlu mendapat perhatian adalah menjaga konsistensi ketersediaan supply barang di pasar, baik dengan cara memproduksi sendiri, maupun mendatangkan barang dari daerah lain, mengingat dari sisi demand dapat dikatakan relatif stabil karena ada kebutuhan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).


