Selong – Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Tipe A2 Selong melaksanakan survei pemantauan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Lombok Timur, yaitu SPPG Selong Pancor 2 dan SPPG Selong Pancor 3. Kegiatan yang dilaksanakan pada 22 Mei 2026 ini merupakan bagian dari upaya pendampingan dan pemantauan program strategis nasional untuk memastikan pelaksanaan MBG berjalan sesuai ketentuan, akuntabel, dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan kebutuhan gizi kelompok sasaran utama, yaitu peserta didik, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Dalam pelaksanaannya, SPPG berperan sebagai unit operasional yang bertanggung jawab dalam penyediaan dan distribusi makanan bergizi kepada penerima manfaat.
Survei dilakukan melalui wawancara langsung dengan pengelola SPPG, pengisian kuesioner digital, serta observasi lapangan terhadap aspek operasional, tata kelola keuangan, distribusi layanan, keamanan pangan, dan dampak program terhadap ketenagakerjaan. Hasil survei menunjukkan bahwa kedua SPPG berada dalam kondisi aktif dan mampu menjalankan operasional program secara rutin dengan dukungan sumber daya manusia yang memadai. SPPG Selong Pancor 2 mempekerjakan 50 tenaga kerja, sedangkan SPPG Selong Pancor 3 mempekerjakan 52 tenaga kerja, dengan masing-masing memiliki 9 juru masak.
Dari sisi cakupan layanan, kedua SPPG melayani ribuan penerima manfaat setiap hari. SPPG Selong Pancor 2 menyalurkan rata-rata 1.645 porsi makanan untuk siswa sekolah dan 224 porsi untuk ibu hamil serta ibu menyusui. Sementara itu, SPPG Selong Pancor 3 melayani rata-rata 1.823 siswa, 226 balita, 23 ibu hamil dan menyusui, serta 162 guru dan tenaga kependidikan setiap harinya.
Hasil pemantauan juga menunjukkan bahwa proses distribusi makanan berlangsung efektif dengan waktu tempuh kurang dari 30 menit. Kondisi tersebut mendukung ketepatan waktu konsumsi makanan oleh penerima manfaat sekaligus membantu menjaga kualitas makanan yang didistribusikan. Dari aspek keamanan pangan, tidak ditemukan kejadian luar biasa maupun gangguan kesehatan yang signifikan pada penerima manfaat selama periode pelaporan. Pengawasan juga telah dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Dinas Kesehatan, Puskesmas, serta unsur TNI dan Polri.
Dari sisi tata kelola keuangan, kedua SPPG telah menerapkan pengelolaan dana melalui mekanisme Virtual Account (VA) dan melaksanakan pelaporan keuangan secara rutin. Selain itu, seluruh kebutuhan bahan baku utama diperoleh dari agen dan pasar lokal di wilayah Lombok Timur. Kondisi ini menunjukkan bahwa Program MBG tidak hanya berkontribusi terhadap pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi lokal melalui keterlibatan pelaku usaha dan pemasok daerah.
Survei juga menemukan dampak positif program terhadap ketenagakerjaan. Program MBG berhasil menyerap tenaga kerja dari berbagai latar belakang profesi dan memberikan tingkat pendapatan yang relatif lebih baik serta stabil dibandingkan pekerjaan sebelumnya. Pada salah satu SPPG, rata-rata pendapatan tenaga kerja meningkat dari Rp3,5 juta menjadi Rp5 juta per bulan setelah bergabung dalam program, sementara pada SPPG lainnya pendapatan meningkat dari Rp4,8 juta menjadi Rp5 juta per bulan.
Meskipun secara umum pelaksanaan program berjalan baik, terdapat beberapa tantangan yang masih perlu mendapat perhatian, antara lain fluktuasi harga bahan baku, ketersediaan pasokan bahan pangan, serta keterlambatan pencairan anggaran yang berpotensi memengaruhi kelancaran operasional. Oleh karena itu, diperlukan penguatan koordinasi antar pemangku kepentingan untuk menjaga keberlanjutan dan efektivitas pelaksanaan program.
Melalui kegiatan pemantauan ini, KPPN Selong bersama Kanwil DJPb Provinsi NTB terus berkomitmen mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis sebagai salah satu instrumen penting dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, memperkuat pembangunan sumber daya manusia, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan.














