
Pekanbaru, 25 Juni 2026
Perkembangan Perekonomian Riau sampai Akhir Bulan Mei 2026
- Kinerja APBN Regional Provinsi Riau sampai dengan 31 Mei 2026 menunjukkan kondisi yang tetap resilien di tengah dinamika perekonomian global yang masih diwarnai ketidakpastian geopolitik, perlambatan ekonomi negara mitra dagang, serta fluktuasi harga komoditas internasional. APBN tetap menjalankan fungsinya sebagai instrumen fiskal yang menjaga stabilitas ekonomi, mendukung pembangunan, serta mendorong kesejahteraan masyarakat. Realisasi pendapatan negara di Provinsi Riau sampai dengan Mei 2026 mencapai Rp11,83 triliun atau 40,40 persen dari target APBN Tahun 2026. Capaian tersebut tumbuh 12,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp11,36 triliun atau 42,74 persen dari pagu, sehingga APBN Regional Riau masih mencatatkan surplus sebesar Rp463,49 miliar.
- Perekonomian Provinsi Riau pada Triwulan I Tahun 2026 menunjukkan kinerja yang tetap positif. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Riau atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat sebesar Rp317,14 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp152,45 triliun. Pertumbuhan ekonomi Riau pada Triwulan I Tahun 2026 tercatat sebesar 4,89 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi Sumatera.
- Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi didorong oleh sektor industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan. Aktivitas industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar perekonomian daerah seiring terus berkembangnya industri hilirisasi berbasis kelapa sawit dan produk turunannya.
- Kinerja sektor eksternal juga masih menunjukkan hasil yang positif. Nilai ekspor Riau periode Januari–April 2026 mencapai US$7,03 miliar atau meningkat 8,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, impor mencapai US$1,08 miliar atau meningkat 100,24 persen. Dengan kondisi tersebut, neraca perdagangan Riau masih mencatatkan surplus sebesar US$5,96 miliar.
- Dari sisi harga, inflasi gabungan Kota Pekanbaru dan Kota Tembilahan pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,76 persen (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 3,95 persen (yoy). Inflasi terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga cabai merah, minyak goreng, tomat, biaya pemeliharaan kendaraan pribadi, bensin, dan ikan patin. Secara umum inflasi masih berada dalam rentang yang terkendali dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.
- Untuk Nilai Tukar Petani (NTP) bulan Mei 2026 mencatatkan angka yang cukup tinggi sebesar 207,41, didorong oleh kenaikan harga komoditas unggulan seperti kelapa sawit, karet, cabai merah, cabai rawit dan sapi potong. NTP Riau menduduki peringkat ke-1 dari 10 provinsi di Sumatera, diikuti oleh Bengkulu (201,95) dan Jambi (186,71). Hal ini mencerminkan kuatnya nilai tukar petani terutama karena dominasi petani sawit rakyat dengan nilai komoditas yang tinggi. Sedangkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) cukup stabil di angka 109,02.
Perkembangan APBN Terkini
- Realisasi pendapatan negara sampai dengan Mei 2026 mencapai Rp11,83 triliun atau 40,40 persen dari target APBN. Capaian tersebut tumbuh sebesar 12,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp6,93 triliun atau tumbuh sebesar 12,69 persen secara y-o-y, penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp4,31 triliun tumbuh sebesar 1,17 persen secara y-o-y, dan penerimaan PNBP sebesar Rp579,19 miliar tumbuh 14,98 persen secara y-o-y.
- Kinerja penerimaan pajak sebesar Rp6,93 triliun menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik dengan realisasi mencapai 34,49 persen dari target. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) sebesar 25,12 persen, Pajak Pertambahan Nilai dan PPnBM sebesar 11,87 persen, serta Pajak Lainnya yang tumbuh 74,55 persen. Momentum penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Wajib Pajak Badan pada akhir Mei turut berkontribusi terhadap peningkatan penerimaan pajak.
- Penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp4,31 triliun atau 52,44 persen dari target. Bea Masuk tumbuh signifikan sebesar 35,66 persen yang dipengaruhi meningkatnya impor barang modal, termasuk importasi pesawat udara. Sementara itu, Bea Keluar tumbuh 0,57 persen sejalan dengan perkembangan ekspor produk turunan kelapa sawit.
- Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sampai dengan Mei 2026 mencapai Rp579,19 miliar atau tumbuh 14,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya PNBP Lainnya serta pendapatan Badan Layanan Umum (BLU).
- Realisasi belanja negara sampai dengan Mei 2026 mencapai Rp11,36 triliun atau 42,74 persen dari pagu. Secara tahunan, belanja negara tumbuh 0,82 persen.
- Belanja Pemerintah Pusat terealisasi sebesar Rp3,46 triliun atau tumbuh 38,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya realisasi belanja pegawai sebesar 37,96 persen, belanja barang sebesar 13,51 persen, serta belanja modal yang tumbuh sangat tinggi sebesar 365,59 persen. Kondisi ini menunjukkan semakin meningkatnya pelaksanaan program dan kegiatan kementerian/lembaga di wilayah Provinsi Riau.
- Transfer ke Daerah (TKD) telah tersalurkan sebesar Rp7,90 triliun atau 43,70 persen dari pagu. Secara tahunan, penyaluran TKD mengalami kontraksi sebesar 9,82 persen. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh lebih rendahnya realisasi Dana Bagi Hasil (DBH) dan Dana Desa dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun demikian, penyaluran Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) tetap menunjukkan pertumbuhan positif.
- Dengan realisasi pendapatan negara sebesar Rp11,83 triliun dan realisasi belanja negara sebesar Rp11,36 triliun, APBN Regional Riau sampai dengan Mei 2026 masih mencatatkan surplus sebesar Rp463,49 miliar.
Perkembangan APBD Regional Riau Terkini
- Kinerja APBD pemerintah daerah di Provinsi Riau sampai dengan Mei 2026 menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Realisasi pendapatan daerah mencapai Rp9,85 triliun atau 30,26 persen dari target pendapatan tahun 2026. Secara tahunan, pendapatan daerah tumbuh sebesar 17,93 persen.
- Pertumbuhan pendapatan daerah terutama ditopang oleh peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tumbuh 61,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan transfer juga masih tumbuh positif sebesar 0,21 persen.
- Di sisi belanja, realisasi belanja daerah mencapai Rp8,05 triliun atau 23,91 persen dari pagu APBD. Secara tahunan, realisasi belanja daerah mengalami kontraksi tipis sebesar 0,97 persen. Kontraksi terutama dipengaruhi oleh perlambatan realisasi belanja modal, belanja transfer, dan belanja tidak terduga.
- Dengan realisasi pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan realisasi belanja, APBD se-Provinsi Riau sampai dengan Mei 2026 mencatatkan surplus sebesar Rp1,81 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan masih tersedianya ruang fiskal yang cukup besar untuk mendukung percepatan pelaksanaan program pembangunan pada semester berikutnya.
Isu Strategis dan Policy Response
- Insiden robohnya trestle (jembatan penghubung dermaga) di Dermaga Tanjung Buton, Kabupaten Siak yang merupakan pintu utama untuk ekspor komoditas cangkang sawit dengan tujuan pasar Jepang telah mengakibatkan penurunan operasional hingga 50 persen. Dampaknya adalah penurunan yang signifikan terhadap penerimaan Kanwil Bea Cukai Riau. Hal ini terjadi karena pencatatan penerimaan bea keluar otomatis berpindah dan masuk ke kas daerah/instansi di Jambi dan Sumatera Utara.
- Beberapa langkah tindak lanjut yang telah dilakukan diantaranya:
- Kementerian Perhubungan telah mengambil alih rencana perbaikan fasilitas pelabuhan. Pengajuan anggaran perbaikan dijadwalkan pada akhir bulan November tahun 2026 untuk dimasukkan ke dalam Tahun Anggaran (TA) 2027.
- Proses perbaikan memerlukan 5 tahapan kajian teknis, yaitu: (1) Survei Pendahuluan, (2) Survei Oseanografi & Hidrologi, (3) Uji Asesmen, (4) Penyelidikan Tanah, dan (5) Analisis Struktur. Saat ini, progres di lapangan baru menyelesaikan Tahap 1.
- Pemerintah Kabupaten Siak memimpin secara langsung rapat evaluasi tahap pertama yang telah dilaksanakan pada tanggal 15 April 2026, dan rapat evaluasi lanjutan yang dijadwalkan pada 15 Juli 2026.






