
Pagi masih gelap ketika dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai penjuru Sulawesi Tenggara mulai menyalakan kompor. Pukul dua dini hari, para juru masak sudah bergerak menyiapkan ratusan hingga ribuan porsi makanan yang akan tiba di meja anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Begitulah denyut harian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di provinsi ini, program prioritas nasional yang kini telah menjangkau seluruh penjuru Bumi Anoa.
Hingga akhir Mei 2026, implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sulawesi Tenggara menunjukkan perkembangan yang signifikan. Sebanyak 242 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi di seluruh 17 kabupaten/kota dengan dukungan 1.222 mitra penyedia bahan baku serta 12.100 tenaga kerja. Melalui kolaborasi tersebut, program ini telah menjangkau 663.039 penerima manfaat yang terdiri atas 542.195 peserta didik dan 120.844 ibu hamil, ibu menyusui, serta balita. ejak diluncurkan pada tahun 2025, MBG menjadi salah satu program strategis pemerintah dalam upaya menekan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju visi Indonesia Emas 2045.
Untuk memastikan program berjalan sesuai harapan, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Provinsi Sulawesi Tenggara bersama jajaran KPPN melakukan pendampingan dan pemantauan langsung ke lapangan sepanjang Mei 2026. Enam SPPG menjadi sasaran kunjungan, mulai dari SPPG Kendari-Lahundape, Bataraguru Wolio dan Wangkanapi Wolio di Baubau, Kolaka Balandete dan Lamokato 3 di Kolaka, hingga SPPG Abeli-Puday di Kendari. Di setiap lokasi, tim bertemu langsung dengan kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan untuk menelusuri seluruh rantai proses, mulai dari dapur hingga distribusi ke penerima manfaat.
Hasil pemantauan menunjukkan kabar yang menggembirakan. Standar keamanan pangan secara umum terpenuhi dengan baik. Setiap SPPG memastikan sampel makanan diuji oleh ahli gizi atau pengawas gizi sebelum dibagikan, bahkan beberapa lokasi menerapkan pengujian berlapis hingga di tingkat sekolah. Tidak ditemukan kejadian keracunan atau gangguan kesehatan yang signifikan di seluruh titik yang dipantau. Pengelolaan sampah dan limbah pun dilakukan secara bertanggung jawab, baik melalui kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup maupun pemanfaatan kembali sisa makanan oleh peternak setempat.
Program ini pun terbukti membawa berkah ekonomi bagi masyarakat sekitar. Belasan ribu tenaga kerja terserap, mulai dari juru masak hingga akuntan, dengan sebagian besar mengaku menerima upah bulanan yang lebih baik dibandingkan pekerjaan sebelumnya. Seluruh pegawai SPPG yang dipantau juga telah terdaftar dalam program BPJS Ketenagakerjaan, memberikan jaminan sosial yang lebih layak bagi para pekerja di garis depan dapur gizi ini.
Meski berjalan baik, tim pemantau turut mengidentifikasi sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama. Keterlambatan pengiriman bahan baku dari pemasok serta distribusi makanan ke sekolah-sekolah masih menjadi titik rawan yang dapat memengaruhi kelancaran layanan. Fluktuasi harga bahan pangan segar seperti sayur dan buah turut menjadi pekerjaan rumah, diperparah kondisi geografis sejumlah daerah, seperti SPPG di Kolaka yang harus mendatangkan bahan baku melalui jalur pelabuhan di Kolaka Utara sehingga rentan terdampak cuaca buruk dan menambah waktu tempuh. Di sisi lain, pelibatan petani, peternak, dan nelayan lokal sebagai mitra penyedia bahan baku dinilai belum berjalan maksimal, padahal potensi tersebut dapat memberikan dampak ganda yang lebih besar bagi perekonomian daerah.
Menjawab tantangan tersebut, sejumlah langkah strategis direkomendasikan untuk memperkuat keberlanjutan program. Penguatan kerja sama dengan produsen dan UMKM lokal menjadi kunci agar perputaran ekonomi daerah ikut terdongkrak. Penyusunan Service Level Agreement (SLA) yang lebih ketat dengan pemasok lokal diharapkan dapat menjamin ketepatan waktu pasokan, sementara penataan zona armada distribusi dan modernisasi alat porsi akan mempercepat proses pemorsian sehingga makanan tiba tepat waktu di tangan siswa. Variasi menu serta survei kepuasan kepada penerima manfaat juga didorong untuk menjaga semangat dan antusiasme anak-anak menyantap makanan bergizi setiap hari.
Dengan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, SPPG, dan masyarakat, Program Makan Bergizi Gratis di Provinsi Sulawesi Tenggara diharapkan dapat terus tumbuh menjadi fondasi kuat bagi generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif, selangkah lebih dekat mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.



