
Dalam rangka mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui sektor pendidikan, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Provinsi Sulawesi Tenggara melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) di SMA Unggul Garuda Konawe Selatan. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 5 Agustus 2026, ini merupakan bentuk nyata pembinaan proactive yang dilakukan untuk memastikan satuan kerja baru mampu mengelola anggaran negara secara tertib, efisien, dan akuntabel sejak awal operasionalnya.
SMA Unggul Garuda Konawe Selatan hadir sebagai sebuah institusi pendidikan menengah unggulan yang dituntut untuk berkonsentrasi penuh pada pengembangan talenta di bidang sains, teknologi, dan kepemimpinan. Namun, sebagai satuan kerja yang baru mulai beroperasi pada Tahun Anggaran 2026 dengan pagu anggaran yang cukup besar senilai Rp39,55 miliar, satker ini tentu menghadapi dinamika tersendiri. Kepala Kanwil DJPb Provinsi Sulawesi Tenggara, Iman Widhiyanto, menegaskan bahwa penguatan tata kelola keuangan menjadi fondasi utama agar proses belajar mengajar di sekolah ini dapat berjalan tanpa hambatan.
Hingga Juli 2026, realisasi anggaran satker ini baru mencapai sekitar 0,5 persen atau setara Rp211 juta yang mayoritas terserap untuk belanja pegawai dan belanja barang. Meski capaian Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) periode Juni 2026 tercatat di angka 78,57 yang mana nilainya sudah cukup apik untuk ukuran satker baru, terdapat ruang besar yang harus dipercepat agar nilai IKPA dapat menembus angka ideal di atas 89.
Dalam dialog interaktif yang dipimpin langsung oleh Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran I, Wahyu Budiarso, berbagai tantangan spesifik di lapangan berhasil terpetakan. Kuasa Pengguna Anggaran SMA Unggul Garuda, Dian Anggraeni, menyampaikan bahwa pihaknya masih berada pada masa transisi, di mana beberapa pejabat perbendaharaan masih bertugas dari kantor pusat kementerian. Sementara itu, Bendahara Pengeluaran menambahkan bahwa penyerapan yang masih rendah dipengaruhi oleh jumlah peserta didik yang baru mencapai 76 siswa, jauh di bawah target awal dalam DIPA sebanyak 160 siswa. Selain itu, adanya perubahan kebijakan rekrutmen tenaga pengajar dari skema CPNS menjadi PPPK juga memerlukan penyesuaian komposisi belanja pegawai.
Menyikapi berbagai kendala tersebut, Kanwil DJPb Sulawesi Tenggara langsung memberikan rekomendasi strategis dan solutif. Satker diarahkan untuk menyusun pemetaan kebutuhan belanja secara bulanan agar penarikan dana lebih terukur dan terhindar dari penumpukan realisasi di akhir tahun. Selain itu, satker didorong untuk segera memanfaatkan mekanisme revisi Halaman III DIPA pada Triwulan IV mendatang guna menyesuaikan rencana penarikan dana dengan kebutuhan riil, termasuk mengkomunikasikan potensi sisa alokasi belanja pegawai kepada Kementerian/Lembaga terkait. Kanwil DJPb juga menekankan pentingnya mengoptimalkan penggunaan Kartu Kredit Pemerintah (KKP) serta memastikan seluruh proses pengadaan berjalan transparan dan minim potensi temuan.
Lebih dari sekadar aspek teknis keuangan, kegiatan Monev ini juga menjadi ajak untuk memperkuat nilai-nilai integritas. Melalui sesi “Island of Integrity”, Kanwil DJPb Sulawesi Tenggara membagikan pengalaman membangun Zona Integritas yang berhasil mengantarkan Kanwil meraih predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). Komitmen untuk memberikan pelayanan tanpa biaya dan menolak gratifikasi disampaikan secara tegas, sekaligus mendorong SMA Unggul Garuda Konawe Selatan untuk turut serta membangun budaya bersih dan berintegritas di lingkungan internal mereka.
Melalui pendampingan berkelanjutan ini, diharapkan SMA Unggul Garuda Konawe Selatan tidak hanya mampu mengakselerasi realisasi anggarannya, tetapi juga dapat menjadi role model atau contoh teladan bagi satuan kerja baru lainnya dalam menerapkan tata kelola keuangan negara yang baik, transparan, dan bertanggung jawab, sehingga fokus utama sekolah dalam mencetak generasi unggul dapat tercapai secara maksimal.








