
Kendari, 29 September 2025 - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melaksanakan kegiatan "Treasury Goes to Campus". Kegiatan ini dikemas dalam seminar nasional di mini studio Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Halu Oleo (UHO) , mengangkat tema: "accelerating a green and circular economy through sustainable natural resource downstreaming".
Tujuan dan Peserta
Tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan kepada masyarakat, khususnya kalangan muda, agar memahami dan mendukung kebijakan pengelolaan keuangan negara, sekaligus mengenalkan peran APBN. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa FEB UHO dan para finalis Halu Oleo Management Business Case Competition (HMBCC).
Dalam sambutannya, Dekan FEB UHO, Bapak Prof. Dr. La Ode Anto, S.E., M.Si., Ak., QIA., CA., menyampaikan bahwa meskipun Sultra memiliki tambang nikel terluas, hal itu tidak menjamin keberlangsungan hidup masyarakat, dan kerusakan lingkungan justru marak terjadi.
Strategi Fiskal Mendukung Ekonomi Hijau
Kepala Kanwil DJPb Sultra memaparkan materi utama mengenai Strategi Hilirisasi Sumber Daya Alam untuk Mendorong Ekonomi Hijau dan Sirkular di Indonesia dari sisi fiskal. Materi tersebut menjelaskan:
- Ekonomi Hijau (green economy) adalah pendekatan ekonomi yang rendah karbon dalam penggunaan sumber daya dan inklusif secara sosial.
- Ekonomi Sirkular merupakan bagian dari ekonomi hijau, fokus pada konsep make-use-reuse-recycle dalam penggunaan sumber daya agar tetap efisien dan berkelanjutan.
Pemerintah menargetkan Net Zero Emission pada tahun 2060 dan telah memasukkan konsep ini ke dalam RPJMN 2025. Alokasi APBN sebagai dasar fiskal mendukung hal ini melalui:
- Investasi dalam infrastruktur hijau (irigasi, sanitasi, pengendalian banjir, dan energi terbarukan).
- Instrumen fiskal hijau seperti green bond dan green sukuk.
- Pengenaan biaya lingkungan atau pajak karbon (carbon taxing).
- Pemberian insentif pajak, seperti pembebasan PPN bagi perusahaan untuk pengadaan barang ramah lingkungan.
- Integrasi APBN untuk penganggaran berbasis iklim melalui climate budget tagging.
Realisasi di Sultra dan Langkah Kanwil
Khusus di Sultra, realisasi APBN dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim masih sebesar 2% dari total belanja. Ini diwujudkan melalui pembangunan Bendungan Ladongi dan Ameroro, serta program kampung iklim.
Menghadapi tantangan berupa ketergantungan Sultra pada sektor pertambangan dan perlunya keselarasan kebijakan daerah dengan pusat , Kanwil DJPb Sultra berkomitmen untuk:
- Melakukan penguatan basis data regional dan mengembangkan analisis data APBN.
- Memberikan masukan kepada Pemda dalam perumusan kebijakan ekonomi daerah.
- Meningkatkan sinergi antar instansi dengan menginisiasi forum ekonomi regional Sultra.
- Meningkatkan literasi terkait ekonomi hijau.
Kegiatan seminar ini diakhiri dengan sesi diskusi interaktif yang diharapkan dapat membuka wawasan mahasiswa mengenai penerapan ekonomi hijau dan sirkular di wilayah Sulawesi Tenggara.











