Untuk menggairahkan budaya menulis, Direktorat Jenderal Perbendaharan menginisiasi “Program Perbendaharaan Menulis” pada tahun 2018 melalui moment Hari Bakti Perbendaharaan yang mengusung tema “Tingkatkan Literasi Perbendaharaan untuk Menggemakan Pembangunan”. Gerakan menulis ini juga dilengkapi dengan tuntunan untuk memandu para penulis yang diharapkan akan banyak lahir dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

Oleh:
Lydia K. Christyana
(Kepala KPPN Madiun)
Bagi sebagian besar orang yang tidak memiliki talenta menulis, gerakan menulis ini menjadi sesuatu yang “menakutkan” apalagi dilengkapi dengan kewajiban untuk menghasilkan karya tulis, esai, opini, kisah pengalaman pribadi, cerpen atau kisah inspiratif. . Guna mengatasi ketakutan dan kegamangan tersebut, berbagai cara dilakukan untuk memotivasi dan mendorong para pegawai agar memiliki keberanian menulis. Gerakan menulis juga dilakukan sebagai pendorong guna mengubah rasa ketakutan/kegamangan menjadi kesenangan/kebahagiaan. Kegiatan menulis harus dilakukan dengan upaya yang menggembirakan dan bukan sekedar menjadi kewajiban pegawai. Sebuah kutipan inspiratif menyebutkan bahwa “Verba Volant, Script Manent” yang artinya apa yang dikatakan akan lenyap, apa yang ditulis akan abadi. Kutipan tersebut memberikan semangat bahwa kemampuan verbal untuk berkisah antar teman, kemampuan verbal menyampaikan materi dalam kegiatan sosialisasi, kemampuan verbal bertugas menjadi Costumer Service akan hilang begitu kegiatan usai. Guna mengabadikannya maka harus diolah dalam bentuk tulisan sehingga menjadi dokumen yang abadi dan dapat diakses oleh banyak pihak yang memerlukan.
Sebelum kita berupaya membuyarkan ketakutan/kegamangan dalam menulis yang telah banyak pula disharingkan oleh para pakar, kita perlu juga memahami pengertian literasi dan manfaatnya ketika dikembangan dengan baik dalam keseharian aktivitas dan dalam profesi apapun. Literasi yang dalam bahasa Inggris literacy berasal dari bahasa Latin littera (huruf) yang pengertiannya melibatkan penguasaan sistem-sistem tulisan dan konvensi-konvensi yang menyertainya yang selanjutnya didefinisikan dengan singkat sebagai kemampuan membaca dan menulis. Pemahaman dari pengertian ini adalah apabila sesorang mampu membaca tentunya juga mampu menulis. Sejak menempuh pendidikan dasar, hal pertama yang diajarkan para guru adalah kemampuan membaca dan menulis. Namun, pada kenyataannya kemampuan membaca dan menulis tidak serta-merta menjadikan seseorang menjadi seorang penulis. Untuk mencapainya diperlukan dimensi keterampilan agar dapat mengoptimalkan kemampuan membaca dan menulis yang dimilikinya. Sebagai sebuah keterampilan, maka kemampuan menulis harus dilatih dari sedikit demi sedikit.
Apakah manfaat yang dapat diperoleh dari keterampilan dan kemampuan menulis? Hal ini perlu pula diungkapkan untuk mendorong keinginan menulis dan menghilangkan ketakutan/kegamangan dalam menulis. Beberapa literatur yang ada mengemukakan beberapa manfaat dari ketrampilan literasi yang optimal. Bernard (dalam Gie 2002: 21-22) mengemukakan enam manfaat kegiatan menulis atau mengarang, yaitu:
- Suatu sarana untuk pengungkapan diri (a tool for self-expression), yaitu suatu sarana untuk mengungkapkan perasaan seseorang.
- Suatu sarana untuk pemahaman (a tool for understanding), yaitu sewaktu mengarang seseorang merenungkan gagasannya dan menyempurnakan penangkapannya terhadap sesuatu hal sehingga akhirnya ia dapat memperoleh pemahaman yang baru atau yang lebih mendalam tentang hal yang ditulisnya itu.
- Suatu sarana untuk membantu mengembangkan kepuasan pribadi, kebanggaan, dan suatu perasaan harga diri (a tool to help developing personal satisfaction, pride, and feeling of self-worth). Artinya, rasa bangga, puas, dan harga diri yang dapat membangkitkan kepercayaan diri akan kemampuan diri untuk menciptakan karya-karya tulis lainnya.
- Suatu sarana untuk meningkatkan kesadaran dan penerapan terhadap lingkungan sekeliling seseorang (a tool for increasing awareness and perception of one’s environment). Maksudnya, dengan sering mengarang maka seseorang akan meninggikan kesiagaan inderawinya dan mengembangkan daya serapnya baik pada tingkat kejasmaniahan, tingkat perasaan, maupun tingkat kerohaniahan.
- Suatu sarana untuk keterlibatan secara bersemangat dan bukannya penerimaan yang pasrah (a tool for active involvement, not passive acceptance). Artinya, dengan mengarang, maka seseorang dapat mengemukakan gagasan, menciptakan sesuatu, dan secara aktif melibatkan diri dengan ciptaan atau karya tulisnya.
- Suatu sarana untuk mengembangkan suatu pemahaman tentang sesuatu dan kemampuan menggunakan bahasa (a tool for developing an understanding of and ability to use the language). Maksudnya, kegiatan mengarang akan bermanfat dalam membantu tercapainya kemampuan membaca dan mengerti terhadap topik yang ditulis secara lebih mendalam.
Sungguh luar biasa manfaat keterampilan menulis yang dioptimalkan yang dapat menjadi sarana pengungkapan diri, sarana kebanggaan dan perasaan harga diri, meninggikan kesiagaan inderawi dan mengembangkan daya serap jasmani tentu harus dibangun dengan tanpa rasa ketakutan. Keterampilan menulis harus dilatih dan dibangun dengan rasa bahagia tanpa tekanan sehingga dapat meraih keberanian dan keberhasilan dalam menulis. Keberanian dalam mengungkapkan apapun yang dipikirkan akan mengantarkan seseorang pada kemampuan. Hal ini merupakan langkah awal yang mendorong (stimulus) siapapun khususnya punggawa Ditjen Perbendaharaan yang belum terbiasa menulis aktif untuk terus berlatih menjadi penulis-penulis yang profesional. Menulis bebas atau free writing banyak diperkenalkan oleh para ahli antara lain Natalie Goldberg dalam bukunya Alirkan Jati Dirimu: Esai-Esai Ringan untuk Meruntuhkan Tembok Kemalasan Menulis (Penerbit MLC, 2005) menyatakan adanya teori menulis tanpa bentuk, yaitu menulis dari pikiran sendiri yang hasil tulisannya tersebut tidak sesuai dengan bentuk tulisan dalam genre tertentu misalnya esai, cerpen, puisi, novel, dan sebagainya. Guna mengawali menulis, seseorang tidak perlu merasa terbelenggu oleh kaidah-kaidah penulisan tertentu. Yang penting adalah aktivitas menulis itu sendiri, menuliskan sebebas-bebasnya seluruh pikiran yang terlintas dibenak tanpa rasa takut. Dalam tulisan selanjutnya Goldberg menyatakan “Sekedar menulispun sudah surga”. Hal tersebut, oleh Hernowo Hasim dalam bukunya Free Writing, Mengejar Kebahagiaan dengan Menulis (Penerbit The Mizan,2017), dimaknai bahwa tidak usah menulis yang baik dan benar pada saat menulis untuk pertama kalinya. Menggerakan tangan saja dengan memunculkan huruf, kata, dan kalimat sudah merupakan kebahagiaan. Kita telah membuka pikiran lewat huruf, kata, dan kalimat yang kita tuliskan. Itulah yang namanya mencipta. Hal itu adalah sebuah proses manusiawi menggerakkan komponen utama manusia yang berupa bahasa dan pikiran yang dahsyat.
Ungkapan “apa yang dikatakan akan lenyap, apa yang ditulis akan abadi” sungguh harmonis apabila dipadukan dengan semangat free writing, menulislah dan berbahagialah sehingga terangkai tulisan-tulisan bebas pengungkapan hal apapun sebagai upaya menggairahkan budaya menulis. Aktivitas menulis bebas dimulai oleh KPPN Madiun melalui lokakarya kepenulisan yang diajarkan oleh Widyaiswara Balai Diklat Keuangan Malang, Achmat Subekan. Tulisan-tulisan bebas mengalir dari para peserta lokakarya sehingga menghasilkan kumpulan tulisan bebas sebagai implementasi dari “Program Perbendaharaan Menulis”. Ketika peserta dibebaskan menulis apapun ternyata memunculkan gairah untuk menuliskan tentang pengalaman, kebahagiaan, kesedihan, dan hal-hal lain yang proses menulisnya diliputi dengan rasa senang. Selanjutnya tentu akan mudah dibangun dorongan menulis tentang topik-topik perbendaharaan sesuai dengan pengalaman, tugas, dan fungsi setiap pegawai.
Konsep free writing mencatat tiga hal penting yang menarik. Pertama, dengan membebaskan pikiran ketika menulis dari berbagai aturan menulis, peserta dapat lebih rileks menulis dan lebih nyaman menulis. Kedua, proses berani menulis lebih diutamakan daripada tulisan yang dihasilkan. Mementingkan proses berarti merasakan secara sendiri (mandiri) mengenai apa yang terjadi ketika menulis bebas. Ketiga, ketika menulis, maka penulislah yang mengendalikan proses menulis tersebut. Apapun hal yang dilakukan dan hasilkannya, maka penulislah yang menentukan kapan memulai dan kapan mengakhirinya. Kondisi inilah yang ternyata memberikan kepuasan dan kebanggaan bagi penulis ketika disadari telah menghasilkan sebuah rangkaian tulisan yang bermanfaat bagi diri sendiri yang kelak dengan banyak berlatih menghasilkan tulisan yang bermanfaat bagi orang lain.
Program Perbendaharaan Menulis sungguh program yang luar biasa mampu menggairahkan dan mendorong keberanian menulis, dan manfaat program ini yang pastinya berkaitan dengan manfaat menulis sebagai sarana mengungkapkan diri (curahan hati), sarana merenungkan sebuah gagasan, sarana menunjukkan kebanggaan dan perasaan berharga, sarana peduli terhadap situasi kekinian, memberikan gairah semangat/tantangan dan upaya peningkatan pemahaman bahasa yang lebih baik. Implementasi Program Perbendaharaan Menulis yang diawali ajaran free writing adalah baik adanya karena dapat dinikmati berbagai strata baik pejabat maupun non pejabat, baik pegawai maupun mahasiswa yang sedang menjalankan Praktek Kerja Lapangan. Manfaat dari keberanian menulis juga memberikan efek rasa rileks atau bahagia. Hasil tulisan yang diperoleh pun dapat dijadikan kenangan bagi siapapun peserta lokakarya. Semua hasil tulisan didokumentasikan sehingga dapat lebih bermanfaat dan abadi. Program Perbendaharaan Menulis menghadirkan kebahagiaan, kiranya dengan rasa bahagia makin mampu menjadi dorongan peningkatan kinerja dalam berbagai aspek tugas fungsi Perbendaharaan.
Tulislah biar jadi Kenangan. Menulislah dan Berbahagialah!
*) Tulisan ini dilengkapi dengan 39 tulisan bebas hasil lokakarya kepenulisan KPPN Madiun tanggal 24 Maret 2018
Daftar Pustaka
Romli, Asep Syamsul M. 2003. Lincah Menulis Pandai Berbicara. Bandung: Nuansa Cendikia.
Hasim, Hernowo. 2017. Free Writing. Mengejar Kebahagiaan Dengan Menulis. Bandung: The Mizan.
www.sumberpengertian.com/pengertian literasi.
Subekan, Achmat. 2018. Materi Lokakarya Kepenulisan di KPPN Madiun.





