Membangun Integritas Insan Perbendaharaan dengan Filosofi Ikan

 

Indonesia merupakan negara yang terus mendorong pencegahan dan pemberantasan korupsi di segala bidang. Hal ini menjadi perhatian pemerintah karena perilaku korupsi punya dampak buruk di dalam segala lini kehidupan. Upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi terus dilakukan, di antaranya dengan membentuk lembaga pemberantasan korupsi dan menerbitkan berbagai aturan sebagai upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi.

Untuk mengukur perilaku antikorupsi di masyarakat, disusun sebuah indikator yaitu Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) yang mengukur tingkat permisivitas masyarakat terhadap perilaku antikorupsi serta mencakup tiga fenomena utama korupsi yaitu penyuapan (bribery), pemerasan (extortion), dan nepotisme (nepotism). Nilai indeks IPAK berkisar pada skala 0 sampai 5 yang menunjukkan bahwa makin mendekati 5 makin baik, artinya masyarakat berperilaku makin antikorupsi. Sebaliknya, nilai indeks yang makin mendekati 0 menunjukkan bahwa masyarakat berperilaku makin permisif terhadap korupsi. Berdasarkan publikasi Indeks Perilaku Anti Korupsi 2021 dari Badan Pusat Statistik, pada tahun 2021 nilai IPAK secara nasional ialah sebesar 3,88, lebih tinggi dibanding tahun 2020 sebesar 3,84. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya persepsi antikorupsi masyarakat terhadap perilaku tertentu.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tak pernah berhenti mengingatkan seluruh pegawai Kemenkeu mengenai korupsi dan bahayanya. Jangan sampai berpikir bahwa godaan itu hanya ada di level tertentu. Banyak hal bisa membuat kita terpeleset sehingga perlu terus dijaga jangan sampai tergoda melalui penegakan institusi Kemenkeu yang zero tolerance untuk korupsi. Fondasi utamanya adalah integritas, yang di dalamnya meliputi akuntabilitas, kompetensi, dan etika serta tidak korupsi. Integritas pegawai ASN merupakan faktor kunci dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih, efektif, dan efisien, serta pelayanan publik yang prima.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, integritas artinya mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Seseorang dikatakan “mempunyai integritas” apabila tindakannya sesuai dengan nilai, keyakinan, dan prinsip yang dipegangnya. Integritas dapat pula diartikan sebagai dorongan hati nurani untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan tekad yang mulia. Ciri seseorang yang berintegritas antara lain padunya kata dan perbuatan. Seseorang yang mempunyai integritas bukan seseorang yang kata-katanya tidak dapat dipegang. Bukan pula seorang dengan banyak wajah dan penampilan yang disesuaikan dengan motif dan kepentingan pribadinya.

Membangun integritas membutuhkan komitmen, kemauan, dan keberanian. Terlebih ketika berada dalam lingkungan kerja yang kurang kondusif dan pelanggaran integritas menjadi hal yang biasa dilakukan. Perlu daya tahan dan imunitas diri yang tinggi agar tidak terpengaruh oleh lingkungan kerja yang “buruk”.

Kita dapat belajar dan mengambil hikmah dalam membangun integritas diri dari ikan, ciptaan Allah yang akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Selama hidupnya, ikan tidak pernah terpengaruh oleh lingkungannya. Ikan yang hidup di air laut dengan lingkungan yang asin tidak membawa rasa asin pada dirinya. Ikan yang hidup di air tawar atau kolam yang kotor tidak membawa kekotoran lingkungan sekitarnya dalam tubuhnya. Ikan mampu beradaptasi secara baik dengan lingkungannya.

Merenungi filosofi kehidupan dan kemampuan ikan dalam beradaptasi dengan lingkungannya, ada beberapa hikmah dan pelajaran moral yang bisa kita ambil untuk membangun dan menguatkan integritas kita.

Pertama, memiliki pendirian yang teguh.

Jadilah seperti ikan yang teguh pada pendiriannya, tidak mudah mengubah dirinya menjadi asin atau berlumpur dan penuh kotoran walau ia hidup di tempat asin ataupun kotor. Dia bercampur namun tidak larut dalam hal-hal yang negatif.

Jadilah diri sendiri. Jangan pernah mudah untuk terbawa arus dan terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik. Teguh dalam pendirian dan tidak mudah tergoyahkan oleh berbagai rayuan serta ajakan yang dapat menghancurkan integritas, baik bagi diri sendiri maupun institusi.

Kedua, selalu bergerak maju dan tak pernah mundur dalam menghadapi rintangan.

Terkadang kita merasa bahwa rintangan yang menimpa terasa sangat berat dan kita merasa tidak sanggup memikulnya. Untuk itu kita harus banyak belajar pada ikan yang selalu berenang dan terus maju menghadapi rintangan yang ada di hadapannya. Ini bisa menjadi contoh bagi kita ketika menghadapi rintangan yang menghadang. Kita harus menghadapi rintangan tersebut dengan berbagai upaya dan jangan pernah mundur dalam menghadapinya. Terus berusaha maju menghadapi segala rintangan yang dapat meruntuhkan integritas kita.

Jangan mudah menyerah dan putus asa. Jangan pula lantas pasrah dengan keadaan dan tidak mau berinteraksi dengan lingkungan karena takut integritasnya melemah. Tak masalah jika kita bercampur dengan lingkungan yang kurang baik, selama kita mempunyai pertahanan diri dan integritas yang kuat. Justru dengan kita berinteraksi akan makin teruji integritas kita. Jika kita belum bisa mewarnai lingkungan kita dengan kebaikan, paling tidak kita jangan sampai terpengaruh oleh keburukan lingkungan kita.

Ketiga, berani melawan dan tidak mengikuti arus yang merusak.

Ikan-ikan berenang ke sana kemari tanpa peduli ke mana arus air mengalir. Mereka berusaha mempertahankan posisinya untuk tidak terbawa arus. Hanya ikan mati yang selalu ikut arus.

Bayangkan kita adalah seekor ikan yang sedang berenang di sungai. Arus sungai sendiri adalah lingkungan yang dapat mempengaruhi kondisi pribadi kita, akan menjadi pribadi yang baik atau buruk. Ikan yang tidak dapat bertahan dalam arus sungai yang keras mungkin akan terbawa dan hanyut mengikuti arus sungai, dan ikan yang sudah mati akan makin cepat hanyut terbawa arus. Sebagaimana ikan, kita perlu bertahan dalam lingkungan tempat bergaul dan berinteraksi dengan sesama.

Bergaul adalah hal yang menyenangkan. Bergaul juga membuat kita mengenal banyak orang. Akan tetapi, pergaulan yang kita jalani harus memiliki batasan yang ditentukan nilai-nilai yang kita anut, termasuk nilai integritas kita sebagai ASN. Kita harus memandang dan berpikir, bagaimana kita dapat bergaul dengan baik dengan tetap dapat menjaga diri sehingga tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif yang bersifat merusak. Kita harus menjadi ikan yang hidup, ikan yang berani melawan arus sungai, bukan ikan mati yang terombang-ambing dan terbawa oleh arus.

Kita tidak layak menyalahkan lingkungan yang rusak. Kita tidak pantas terus-menerus menudingkan kesalahan kepada lingkungan sekitar kita dan masyarakat luas. Sebab masing-masing pribadi punya tanggung jawab terhadap apa yang akan dan telah diperbuat.

Integritas merupakan podasi utama untuk mencegah dan memberantas korupsi. Dan itu harus dibangun oleh diri sendiri. Bukan tempat yang menjadikan diri kita hebat. Kita sendirilah yang akan membuat diri kita hebat. Menjadi luar biasa di tempat yang luar biasa adalah hal yang biasa, tetapi menjadi luar biasa di tempat yang biasa--bahkan di tempat yang buruk--itu baru luar biasa.

Menyongsong awal tahun 2022 ini, mari tunjukkan bahwa kita adalah Insan Perbendaharaan yang menjunjung tinggi integritas dalam mengawal pelaksanaan APBN 2022 untuk Indonesia yang maju.

 

 

Oleh: M. Junaidi, Kepala Subbagian Umum KPPN Tanjung Selor

Disclaimer: “Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan instansi/organisasi manapun.

 

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Prijadi Praptosuhardo II Lt. 1
Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

Search